Menyambut Tahu Baru

Kadang saya memerlukan momen untuk membulatkan tekad yang telah tertanam di benak. Menjadi manusia lebih baik adalah keinginan yang selalu menari-nari mengiringi hari. Tahun baru Hijrah adalah salah satu momen itu. Hari ini, saya bangun Subuh agar lebih awal menggenggam waktu. Azan yang dikumandangkan oleh Encik Yusuf membuyarkan kegagapan saya karena terbangun beberapa detik sebelumnya. Dengan air, muka ini serasa diguyur segar. Lalu, bergegas ke bawah, saya mengikuti shalat berjamaah. Tak lama, saya pun beranjak dari surau, sambil mencoba mereguk udara pagi yang masih bersih tidak ditingkahi asap kendaraan. Sisa air di aspal dan bau tanah menyeruak sebab hujan semalam tercurah.

Meneruskan membaca buku Daniel Pipes, In the Path of God, saya kembali menjejak masa lalu Islam berkaitan dengan pola hubungannya dengan liyan, selain relasi internal yang mencemaskan. Karena tiba-tiba kantuk menyerang, saya lalu menjerang air. Kopi dan teh panas untuk Bunda tersedia. Kami pun menikmati pagi dengan seteguk minuman panas yang kemudian hangat. Kemudian dilanjutkan dengan membacakan jurnal Mingguan Moments and Milestones Pregnancy Journal : A Week-by-Week Companion oleh Jennifer Leigh Youngs and Bettie B. Youngs, yagn memasuki minggu ke-26. Kata buku ini, sang janin telah mengembangkan sistem pendengaran dan penglihatan.

Acara selanjutnya, kami pun memasak nasi goreng bersama. Saya menumbuk garam, cabe, kemiri, bawang merah dan Bunda menggoreng krupuk. Selanjutnya, Bunda menggoreng daging ayam yang telah diiris kecil, lalu bumbu dan daging itu disatukan dengan nasi di wajan. Hanya perlu waktu beberapa menit, hidangan nasi goreng itu telah siap disantap. Benar-benar sarapan pagi yang menyenangkan. Hujan yang masih setia menemani pagi menambah makan kami bersemangat. Ada banyak kehangatan dalam momen seperti ini.

Comments

Popular Posts