Sedekah di Surau Itu

Dua hari yang lalu, seseorang telah meletakkan bungkusan plastik di depan pintu surau flat. Ada pelbagai buah-buahan, seperti nangka, pisang dan jeruk. Namun, hingga hari kedua, bungkusan itu masih tergeletak. Memang, ada yang telah mengambil sebagian, namun juga masih tersisa. Semoga hari ketiga ini, bungkusan itu telah kosong agar sang dermawan itu menuai pahala karena memberikan rejekinya untuk orang lain.

Pada masa itu, orang tua berjanggut itu datang lagi. Ya, seperti janjinya, setiap hari Rabu, beliau akan selalu mengunjungi surau. Malah, ada beberapa temannya yang turut meramaikan. Bahkan, setelah sembahyang Isya', salah seorang dari rombongan menyampaikan pentingnya iman dan amal. Saya telah mendengar tema ini setiap kali anggota jamaah tabligh menyampaikan ceramah setelah sembahyang. Dengan meneladani sang Nabi, mereka tidak akan pernah merasa lelah mengajak saudaranya mewujudkan masyarakat yang peduli dengan ibadah. Sebuah ajakan mulia.

Tentu, keteguhan Zakri, seorang pelajar sekoleh menengah, yang selalu mengumandangkan azan, demikian pula Encik Yusuf, juga merupakan sedekah kebaikan yang membuat penghuni flat tergerak untuk turun menghadiri shalat jamaah. Tidak hanya mereka berdua, kadang Nuruddin, warga flat dari Nigeria, dan Na'im, dari Pakistan, acapkali melakukan hal yang sama.

Ternyata, dari cerita di atas ini, saya memerhatikan ada banyak cara berbagi dengan orang lain. Yang pertama, mereka yang menyumbangkan hartanya untuk kebajikan dan yang kedua, mereka yang berbagi pengetahuan tentang kebaikan. Lalu, kita ada di mana?

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen