Belajar dari Liyan

Semalam, saya dan Pak Sugeng memenuhi undangan Pak Karnadi, staf KJRI Pulau Pinang, untuk menyambut rombongan Diklatpim pegawai eselon 3 Sumatera Utara. Sebelum memasuki ruang pertemuan, kami bertemu dengan teman-teman mahasiswa lain, Pak Supri, Pak Hamimu dan Mas Didi. Kami pun berangkat bersama melalui pintu belakang agar tidak mengganggu jalannya acara. Di sana, kami duduk di belakang dan mengikuti ceramah konsul jenderal tentang potensi hubungan dua negara, Malaysia dan Indonesia.

Saya mencoba untuk menekuri apa yang disampaikan oleh orang nomor satu KJRI ini. Keyakinan beliau bahwa Indonesia bisa maju bersama bersama tetangganya tentu merupakan pernyataan optimistik di tengah kemelesetan ekonomi. Beliau berharap bahwa Sumatera Utara akan juga menerima limpahan dari kepesatan Negeri Semenanjung Utara, Pulau Pinang. Pendek kata, keduanya harus bahu membahu untuk menyiasati keadaan ekonomi yang memburuk akibat krisis ekonomi negara raksasa, Amerika Serikat.

Lalu, setelah ceramah, para tamu dan staf KJRI bertukar cenderamata. Acara dialog tidak diadakan karena harus makan malam. Di sela kami mengasup, mahasiswa dan para pegawai yang mengikuti observasi ke Malaysia ngobrol ringan, membandingkan keadaan Medan dan Georgetown. Sebuah upaya ini makin mengukuhkan kehendak untuk menjadikan negeri khatulistiwa bertambah baik. Salah seorang peserta mengabari bahwa mereka hari ini akan mengunjungi Kantor Departemen Kesehatan Alor Setar, negara bagianKedah, untuk melakukan studi bandingan pelayanan kesehatan. Semoga berhasil, Pak!

Comments

Popular Posts