Memilih Wakil Rakyat


Jauh-jauh hari saya telah membulatkan niat untuk memilih pada pemilihan umum. Namun pada hari H, saya merasa cemas karena hujan turun sejak pagi. Tentu, panitia pemilu akan merasa lebih masgul karena pemilih yang telah terdaftar enggan untuk memenuhi haknya akibat terhalang oleh hujan. Coba lihat gambar di sebelah, gambar yang diambil di lokasi pencontrengan, wisma konsulat RI, tampak buram karena langit mendung dan hujan turun sejak pagi.

Kami sengaja berangkat ke lokasi agak siang agar tidak perlu antri lama. Di perjalanan, kami dihibur oleh nyanyian Opick dan selalu saja pada lagu Astaghfirullah, ingatan suasana subuh di kampung hinggap di kepala. Sesampai di wisma, saya langsung menuju meja pendaftaran dan hanya memerlukan beberapa menit selesai. Hanya saya seorang yang menunaikan hak memilih pada waktu itu. Dari tiga ratusan nama di TPS (Tempat Pemungutan Suara) 2, saya menempati nomor ke 67, padahal hari telah menjelang tengah hari. Di sana, saya sempat mendengar Pak Moenir, konsul jenderal, memberitahu seorang polisi lokal bahwa hujan telah membuat malas pemilih untuk datang. Setelah pamit, kami pun menuju ke TPS 1 (Kantor Konsulat). Di sini, suasana lebih ramai, meskipun yang mencontreng juga sedikit.

Lalu, kami pun beranjak dan menuju warung Batu Uban untuk makan siang. Nasi rawon di tengah hujan deras menghilangkan dingin yang menyelusup karena hujan tak henti-henti mengguyur bumi. Malah, tempias air menyebabkan beberapa orang yang duduk di kursi pinggir warung harus memindah mejanya. Meskipun warung ini menyajikan makanan khas Jawa, kebanyakan pengunjung yang memenuhi kedai itu adalah warga lokal.

Comments

Popular Posts