Menyambut Kelahiran Puteri Pertama

Penantian panjang berakhir. Puteri pertama kami telah lahir pada tanggal 16 April 2009, jam 3.12 melalui bedah caesarian. Pertama kali melihat si kecil, saya merasa kegembiraan yang luar biasa. Cemas, khawatir dan selaksa gundah bertukar riang, serta merta. Ibunya masih lemas karena pengaruh bius masih mendekam di tubuhnya. Namun, sinar matanya bersirobok dengan saya dengan berbinar, menandakan kebahagiaan.

Kami harus menunggu empat hari sejak masuk ke rumah sakit untuk menyambut Nabiyya, panggilan untuk Mutanabbiyya Wasatiyya. Proses induksi sebanyak tiga kali tidak mampu mendorong pembukaan. Akhirnya, doktor menyarankan kami untuk caesarian. Dengan harap cemas, kami menerima keputusan ini. Proses bedah tidak memerlukan waktu lama, kira-kira 1 jam. Tak lama setelah lahir, saya memberi tahu semua eyangnya yang ada di Madura, Yogyakarta dan Semarang. Mereka turut merasakan kegembiraan.

Tentu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada doktor, perawat dan seluruh staf Rumah Sakit Pulau Pinang yang telah membantu kelahirkan anak kami. Waktu selama hampir seminggu di hospital kerajaan (rumah sakit pemerintah) menyimpan banyak cerita. Demikian pula staf Klinik Bukit Jambul yang telah menyiapkan proses sebelum kelahiran dengan pelbagai pemeriksaan rutin sehingga anak kami sehat walafiat. Tak hanya itu, doa dan ucapan selamat dari teman-teman turut membesarkan hati kami untuk merawat buah hati. Lebih dari itu, kehadiran Pak Cik dan Mak Cik, orang tua angkat kami, telah memberikan perhatian yang begitu besar sehingga si kecil dan ibunya mendapatkan rumah untuk menjalani hari-harinya sebagai seorang ibu.

Comments

Popular Posts