Menyambut Kelahiran Puteri Pertama 2


Inilah papan nama yang berada di pintu masuk rumah sakit tempat Nabiyya lahir. Meskipun sebelumnya saya sering melewati rumah bersalin ini, namun ketika saya berangkat sendirian dengan motor, saya harus memeluh keringat karena tak mudah menemukannya. Saya acapkali salah jalan karena jalan di sekitar hospital bersalin ini kebanyakan satu arah.

Namun setelah beberapa kali, saya tidak hanya menghapalnya dengan baik, malah saya bisa menelusuri jalan tikus untuk sampai ke sini. Secara normal, saya berangkat jam 11-an agar bisa menemui Ibunya Nabiyya pada jam bezuk siang hari, 12.30-2.00. Lalu, saya makan siang di kantin rumah sakit dan menunggu di surau untuk menjenguk isteri pada jam 4.30-7.30. Tetapi, saya juga pernah pulang larut malam atau berangkat di pagi buta sesudah subuh untuk mengantarkan barang keperluan mereka berdua. Dalam perjalanan seperti ini, saya betul-betul menikmati suasana karena jalanan lengang. Lebih-lebih di pagi buta, udara segar merasuk ke paru-paru dengan nyaman.

Saya juga pernah tidur di surau untuk memastikan bahwa saya berada tak jauh dari si kecil. Dalam keadaan sendirian, saya menemukan 'malam' lebih pekat. Jika terbangun karena gigitan nyamuk, saya memaksa untuk memejamkan mata. Pada kesempatan itu juga, saya menunaikan shalat tahajud sebanyak 12 rakaat atas saran kaki bayi. Tak hanya itu, saya juga menjalankan ritus lain yang disarankan oleh Pak Cik untuk keselamatan ibu dan anaknya. Malah pamannya di Kebumen mengirimkan sms agar kami membaca shalawat nariah. Demikian pula, keluarga Madura dan Yogyakarta tak henti-hentinya mendoakan agar kami bisa melalui keadaan getir pada masa itu dengan tabah.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen