Cerita Ringan si Kecil


Can we explain a Beethoven sonata? (Ludwig Witgensteen, 1989)


Jika anak saya sebelumnya diperdengarkan Rhoma Irama, sekarang si kecil itu terdedah pada lagu yang harus didengarkan (siapa yang bilang?) musik klasik, seperti Mozart dan Beethoven. Ya, ikhtiar terakhir adalah sebentuk pengiyaan terhadap saran banyak orang dan informasi yang saya pernah sempat baca sebelumnya. Malah tak hanya itu, saya mengumpulkan beragam lagu untuk menjadi teman ‘kecuekannya’ terhadap perhatian dan keadaan sekitar. Lagu qasidah, Esri Mukaromah, bertajuk Ya Mismis diharapakan akan menjadi awal untuk mengenal neneknya yang berada di pulau Garam jauh nun di sana. Aha, Galang Rambu Anarkinya Iwan Fals seakan-akan mewakili kehendak saya untuk menciptakan lagu yang sama, di mana si kecil lahir setelah (bukan sebelum) pemilu dan harapan agar segera meninju matahari. Rasanya benar kata kawan baik saya, Pak Supriyanto, bahwa menjadi orang tua untuk pertama kalinya mendorong kuat untuk melakukan apa saja untuk kebaikan anaknya. Apakah memang begitu?


Kehadirannya telah memorakporandakan jam tubuh saya. Ia bisa ‘menangis keras’ tanpa mengenal waktu, pagi buta, tengah malam, atau siang. Jika sedan lelap, dengan langkah terhuyung saya beranjak dari tempat tidur. Ibunya praktis tak bisa bergerak lincah karena bekas jahitannya menghalangi untuk bergerak leluasa. Menariknya, saya pun menikmati suasana malam buta yang hanya ditingkai rengekan bayi. Kadang, saya harus menambah minuman susu formula, sebab si kecil masih ingin mengasup minuman. Tangisan itu mendatangkan keriangan, seakan musik lain yang menentramkan. Apatah lagi, suara itu menyebabkan paru-parunya kuat, sehingga meski nyaring terdengar tak merisaukan. Alhamdulillah, sekarang air susu ibunya lancar. Susu bubuk itu tak lagi disukai. Ya, benar-benar ASI eksklusif. Melihatnya mengasup ASI setelah dimandikan ibu atau Mak Cik, saya berbinar bahagia, sebab si kecil telah menemukan hidupnya yang sempurna.


Dalam keadaan sebegini, saya ternyata mempunyai tenaga berlebihan, karena bisa melakukan apa saja dalam rentang waktu 24 jam. Dari menggendong bayi, memberinya susu, menjemurnya di pagi hari, mencuci popok dan bajunya, saya menemukan keriangan. Lelah itu tiba-tiba raib bersama senyuman yang kadang muncul tanpa sebab. Ya, si kecil seringkali tersenyum sebagai respons meskipun saya tidak bisa memastikan ekspresi apakah yang menggerakkannya menyunggingkan sebuah senyuman. Di tengan keriangan ini, saya juga mengalami masa cemas karena perawat merekomendasikan untuk diperiksa ke klinik terdekat. Lebih gundah lagi jika saya harus membawanya ke ICU (Intensive Care Unit) karena dokter klinik angkat tangan. Untung hanya dua kali, sehingga saya tidak harus sport jantung setiap kali harus membawa si kecil ke rumah sakit.


Setelah ditelisik, hikmah saran perawat agar dirujuk ke dokter, saya bisa mengenal lebih dekat apa yang harus dilakukan terhadap si kecil. Di rumah sakit, saya bisa mengambil brosur sebanyak mungkin tentang perawatan bayi, baik secara fisik maupun psikis. Tentu, saya juga melengkapi dengan bacaan di surat kabar, yang kebetulan memuat hal ihwal bayi. Demikian pula, nasehat dari orang tua bagaimana mengurus bayi. Lebih dari itu, saya mendapatkan jawaban langsung dari sang otoritas, dokter. Haruskah terbekap ragu?

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen