Makan Pecel di Warung Jawa


Dua orang ini adalah kawan baik, satu dari Bandung dan yang sebelahnya berasal dari Trengganu Malaysia. Siang itu, kami makan siang di sebuah warung Jawa yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Universitas Sains Malaysia dan juga disukai oleh orang lokal. Malah, saya pernah mengalami keterkejutan karena pada satu waktu pengunjung warung makan ini adalah warga Malaysia, termasuk keturunan Tionghoa, tak satu pun kursi itu diduduki oleh teman-teman dari Indonesia.

Di sana, kami berbincang banyak hal, dari politik hingga budaya. Tentu, obrolan seperti ini bersifat spontan. Tidak jarang dalam percakapan timbul kelucuan. Mungkin dalam keadaan santai seperti ini kita mudah memahami orang lain karena mereka tak lagi dikerangkeng formalitas, serba santai. Celetukan kadang membuat lebih mudah pendengar memahami orang lain dan ini acapkali keluar dalam kesempatan duduk semeja mengasup makanan. Hal-hal yang tidak disampaikan di ruang resmi bisa nyelonong begitu saja. Sementara teman Melayu saya lebih memilih diam jika berkait dengan politik.

Pada waktu itu, saya juga pergi bersama Pak Stenly dan Mas Donny, asal Aceh, yang sebelumnya telah berjanji makan bareng. Hal lain yang menarik dari kunjungan ini adalah kedekatan kami dengan pemilik warung, Pak Darmo. Bagi kami, beliau adalah gudang informasi. Mungkin, sebagai orang yang banyak menerima kedatangan pelbagai latarbelakang pengunjung, beliau menyerap banyak percakapan sehingga sering menghadirkan sesuatu yang baru. Tadi, malah, dengan serta merta lelaki asal Lamongan ini menyatakan pendapatnya bahwa wanita tidak perlu menjadi orang nomor satu di Republik kita itu. Menarik, bukan? Atas informasi ini, Pak Stenly menukas apakah di Jawa keberterimaan pada pemimpin perempuan masih rendah? Aha, ini memerlukan survei. Anda mau membantu?

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Lautan Fragmen

Kebenaran dan Metode