Menikmati Bukit Bintang


Dua hari di Kuala Lumpur untuk sebuah urusan penting dan melelahkan perlu jeda. Untuk keduanya kalinya, saya menekuri sepanjang jalan Bukit Bintang. Sebuah tempat publik paling ramai di Kuala Lumpur ini membuat malam hidup, tak mati ditelan gelap malam. Tampak, tujuan wisata ini diurus dengan baik. Jalanan dan trotoar yang bersih, fasilitas lengkap, seperti tempat penukaran uang, toko keperluan sehari-hari, dan hotel. Untuk yang terakhir, saya juga menginap di tempat yang sama, sebuah penginapan yang berada di sebelah Ritz Carlton (ingat di sebelahnya).

Di perempatan gambar di atas, kita bisa memuaskan dahaga pengetahuan tentang tingkah laku manusia yang sedang gundah mencari tahu 'kesenangan'. Ya, para turis itu sedang mengepakkah sayapnya, mencari hiburan. Saya pun ke sana ingin menghilangkan penat setelah seharian berjibaku dengan tugas. Mungkin yang menarik dari lalu lalang mereka, begitu banyak orang Arab yang memenuhi ruas jalan. Mereka tampil dengan baju khasnya, purdah. Namun, lelakinya berbaju lebih santai, t-shirt, celana pendek, sesuatu yang kontras dengan kaum perempuannya. Kasihan, perempuan Arab yang harus menanggung adat lama tanpa bisa menyesuaikan dengan gaya berpakaian baru seperti dinikmati suaminya. Kehadiran turis Timur Tengah begitu kuat terasa dan bahkan sebuah cafe, Lecka-Lecka, menyetel kuat lagu Arab, seakan-akan warung kopi negeri padang pasir itu dipindah ke Kuala Lumpur.

Tak hanya seliweran orang, beberapa orang menyuguhkan hiburan jalanan, baik musik atau pertunjukan tunggal, seperti manusia emas dan perak. Dua yang terakhir adalah seorang manusia yang melumuri dirinya dengan warna emas dan perak, lalui berdiri dan duduk dengan aksi yang khas. Yang pertama banyak menunjukkan pola dan yang kedua lebih hening karena diam tak melakukan apa-apa. Yang sama, keduanya mendapatkan uang dari sedekah pengunjung yang mengambil gambar. Sebuah malam yang menyenangkan.

Comments

Popular Posts