Surau Kami Itu


Rencana mengadakan belajar al-Qur'an di surau menemukan titik terang. Dua hari yang lalu, sesudah jamaah Isya, pengurus inti (di sana disebut ahli jawatankuasa) meminta saya untuk memastikan kesediaan mengajar anak-anak flat belajar mengeja huruf dan membaca ayat kitab suci. Pada waktu yang sama, kawan baik saya, Dedi, juga bersedia untuk menjadi pembimbing anak-anak.

Semalam, segelintir calon murid turut hadir berjamaah. Mungkin, dengan pengajian itu, teman-teman mereka yang lain akan sering nongol di surau. Terus terang, kehadiran mereka membuat kami bahagia. Kepolosan mereka membuat surau itu tak suram. Sebelum, jamaah Maghrib, saya sempat menyalami, syuaib, yang dua abangnya tidak hadir karena ada pekerjaan rumah. Iman, anak tetangga kami, salah satu di antara mereka yang acapkali berjamaah.

Subuh tadi, anggota jamaah tak sampai satu baris penuh. Tentu ini bukan sesuatu yang aneh, karena sejak dulu memang udah seperti ini. Seharusnya hari Sabtu dan Minggu, surau ramai karena dua hari itu adalah libur. Suara azan melalui pengeras suara itu ternyata tak mampu mengetuk hati mereka turun ke bawah. Satu pengalaman yang acapkali menyelip di antara suasana subuh adalah kicauan burung. Malah, kadang di tengah sembahyang, sayup-sayup suara jernih itu menyelusup di sela-sela jendela. Jika burung-burung telah bangun sepagi itu, mengapa tidak manusia?

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen