Kebersihan itu Sebagian Iman


Judul di atas sangat kuat tertanam di benak karena telah diasup sejak kecil. Tak hanya itu, pada waktu itu, saya sering bersirobok dengan kata ini karena sering ditempel di tembok sekolah, tepat di sebelah jadual piket kebersihan kelas. Hal yang sama juga sering ditemukan di kamar mandi masjid atau surau. Nada yang sama juga sering dijumpai di ruang publik, seperti terminal, pasar dan perkantoran, Jagalah Kebersihan! Malah, kata yang terakhir sering diterakan juga di bungkus makanan dalam bentuk ikon, gambar orang yang sedang membuang sampah ke keranjang.

Jika dulu, sampah dibersihkan dengan sapu, sekarang banyak alat yang membantu meringankan manusia untuk menghilangkan kotoran. Gambar di atas menunjukkan dua alat itu tampak akrab. Sapu lidi tetap diperlukan karena alat sapu 'mesin' tak mungkin menyelusup di antara akar belukar pohon yang besar. Ia hanya bisa bertingkah di tanah yang datar. Saya sering menyaksikan kedua alat ini bekerjasama mengenyahkan dedaunan yang rontok karena aus dimakan waktu. Sempat tebersit di benak, bisa nggak pohon itu direkayasa agar daunnya rontok sebulan sekali?

Memang susah untuk menjaga kebersihan ruang umum di kampus karena begitu banyak pohon berdiri menaungi siapa saja yang ada di bawahnya. Lebih-lebih sekarang, musim kemarau mempercepat dedaunan itu berguguran, mengotori jalan, selokan, beranda dan setiap sudut kampus. Dengan ruang seluas itu, agak susah kita menemukan jalanan bersih dari dedaunan. Namun kita susah berterima jika jalan itu dikotori oleh sampah buangan penghuninya.

Comments

Popular Posts