Menikmati Pagi


Kemarin saya duduk di kursi terbuat dari besi yang terletak di pinggir jalan sepanjang halaman Fakultas Seni. Inilah salah satu tempat saya mengambil napas segar karena pepohonan memagari dengan teduh kawasan ini. Dengan teh Pokka dingin, saya mencoba mengasup sarapan udara pagi. Tak hanya itu, saya bisa naik tangga menengok pameran karya seni yang digelar oleh fakultas paling ramai dengan aktivitas kesenian di kampus ini. Pada waktu itu, saya menikmati karya lukisan vedic yang menghadirkan ragam simbol.

Di depan tempat saya duduk, Gedung Dewan Budaya berdiri megah dan di depannya ditumbuhi pohon besar sehingga hampir menimpati atap depan pintu masuk. Melihat pohon yang begitu besar, saya menemukan rasa tentram. Memang, kehadirannya mengganggu lanskap dan membuat halamannya selalu rimbun dengan dedaunan, tetapi ini resiko jika bangunan itu tidak tampak gersang dan penghuninya selalu merasa kepanasan jika melalui jalan di depannya. Di gedung ini juga, saya meraup banyak pengetahuan dan hiburan.

Karena masih liburan, sepagi itu suasana lengang. Hanya satu dua orang berlalu. Saya menikmati tetes teh kalang dan sebungkus roti. Betul-betul pagi yang menyenangkan, udara bersih, kicau burung, dan dingin teh. Dalam keadaan sebegini saya tak memerlukan lagu untuk meraih riang, karena dalam diam dan ditingkahi burung, kegembiraan datang bertubi-tubi.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen