Menengok Kampus Favorit

Inilah pintu depan fakultas seni yang menjadi tempat favorit saya melepas lelah. Tak hanya lelah fisik, tetapi juga 'jiwa'. Di dalamnya, saya meraup pelbagai pameran karya seni, dari lukis, tulis dan rupa. Ketika karya Ian Buchanan bertajuk Fatimah Orang Kampung digelar, saya hadir menikmati ulasan beliau dalam menghadirkan sejarah orang kampung dalam bentuk penceritaan yang diselingi banyak gambar. Keterlibatan S.M. Idris, direktur Consumer Associaton of Penang, dalam acara ini menambah greget karena beliau adalah pegiat yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Tak hanya itu, di meja tempat kami duduk melingkar tersedia jenis makanan kampung dan sebungkus nasi lemak yang dibungkus daun. Pada masa yang sama, gambar-gambar lukisan Ian juga dipamerkan di tembok ruang diskusi sehingga suasana mencerminkan keadaan kampung, rumah sederhana, hutan belukar, binatang berkeliaran dan keakraban anggota masyarakat. Karya ini seakan-akan mengolok-olok 'kekotaan' yang ternyata menyuguhkan kemewahan namun berjarak, hutan 'beton', burung tak lagi nyaman, dan warganya yang acuh tak acuh.

Sekali waktu, saya juga menghadiri pameran lukisan abstrak yang menyebabkan saya kelu, tak mampu memberikan apresiasi. Ia hadir seperti kerumunan yang riuh, tak tahu apa yang diinginkan. Kadang ada diterakan judul yang menjelaskan gambar, namun saya tetap dalam kebingungan. Lalu, untuk tak berlama-lama dalam kerisauan, saya menghadirkan rasa pada rupa. Aha, di situ ada harmoni yang tak terungkap melalui sebaris kalimat, bahkan meski diterangkan dalam sekujur buku. Ayo, hadirkan rasa, agar logika tak menderas hingga lemas.

Comments

Popular Posts