Menikmati Gambar di Ketinggian


Saya tidak melewatkan pameran lukisan yang digelar di Suria KLCC, Kuala Lumpur. Suatu kebetulan, sesungguhnya. Ketika berjalan menuju toko buku terbesar di ibu kota Malaysia, Konikuniya, saya melewati Galeri Petronas. Sebagaimana diterakan dalam brosur pameran yang dipersembahkan seniman Malaysia, Eng Tay, yang kini menetap di New York akan membawa pengunjung mengembara ke dalam ruang hati nurani manusia, menyentuh bibit-bibit manis cinta, semangat silaturahmi dan keakraban. Sayang, pengunjung dilarang mengambil 'lukisan' yang menjelaskan tema-teman ini. Namun, membayangkan bunyinya kita tentu sudah merasa tentram.

Tak hanya lukisan, ada goresan kata yang ditempelkan di samping gambar, seperti tentang waktu: Time, to some, may be a scenes of events strung up as if a clothesline, stretching back through history. Lebih jauh, dia berujar: I perceive time as a continuum, movements anwound from a spool memory into new sensations. I strive to create images that are the shape of ideas, just as the image of a letter symbolizes a spesific sound. Atau tentang tempat: The place that one belongs to is very important. What is inside you can't change where you are, you are (always) from that place.

Tak hanya lukisan, sang seniman juga menampilkan seni patung dan keramik. Saya hanya mencoba untuk memahami sejauh karya itu berkait dengan pengalaman hidup saya. Meski tersengal karena harus berlari kencang, saya masih belum sampai pada makna yang mungkin ingin diterakan, sebab karya itu mengandaikan pengalaman di luar hidup saya. Atau tafsir itu tak perlu andaian objektivitas, sehingga subjek bisa merayakan makna secara leluasa? Semoga begitu.

Comments

Popular Posts