Pasaraya atawa Pasar Malam


Sebelumnya kami sering mengunjungi pasar malam untuk membeli kebutuhan sehari-hari, seperti sayur, ikan, tepung, minyak goreng, bawang, tempe, ayam, dan makanan ringan, seperti jagung rebus. Biasanya kami berangkat sore agar bisa lebih awal mendapatkan barang-barang yang segar. Kebanyakan pedagang adalah orang lokal dan tentu dengan omzet yang tak cukup besar. Kadang, kami berangkat sesudah maghrib untuk menemukan suasana yang berbeda. Ya, malam dengan pendaran lampu neon di keramaian mendatangkan sensasi tersendiri. Tiba-tiba ingatan melenting ke masa kecil ketika mengunjungi pasar malam di kampung.

Namun, akhir-akhir ini kami sering ke Tesco, pasaraya terdekat dari rumah. Di sini, kami dengan mudah menemukan kebutuhan bayi, yang tak mungkin ditemukan di pasar malam, seperti popok, tisu basah dan pampers. Jika pasar malam hanya hadir pada hari-hari dan jam-jam tertentu, pasaraya ini buka jam 8 pagi hingga 11 malam. Tak hanya itu, kami bisa berbelanja kebutuhan tanpa merasa khawatir kehabisan. Meskipun pernah menunggu tisu basah isi ulang hingga tiga hari karena persediaan habis.

Lalu, persoalannya, apakah barang di Tesco lebih murah dibandingkan dengan pasar malam? Kata isteri lebih murah. Tapi, kalau tak seberapa, sebenarnya kita harus berbelanja di pasar malam. Bagaimanapun para pedagang kecil di sana memerlukan pembeli agar bisa melangsungkan daya hidup perniagaannya. Pemodal besar telah banyak merampas kesempatan mereka untuk mengais rezeki. Anda setuju?

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen