Surga Buku di Dunia Komersial


Perjalanan ke Kuala Lumpur dari Pulau Pinang dalam rangka memenuhi tugas wawancara mengantarkan saya ke tempat paling banyak dituju oleh orang, Suria KLCC. Di sini, kita menemukan surga orang yang ingin memuaskan hasrat purba: kepuasan lahiriah. Pelbagai kebutuhan, dari makan hingga hiburan tumplek blek di sini. Segala jenis manusia berseliweran mencoba peruntungan untuk mereguk bahagia. Saya tentu tak perlu bertanya pada setiap orang apakah mereka telah menemukan yang dicari.

Dalam kepala saya berkelebat toko buku: Kunikuniya, sebuah kedai yang dimiliki oleh perusahan Jepang. Di sini saya membebel banyak buku dan hanya membeli tiga buah, Kant and Platypus: Essays on Language and Cognition (Umberto Eco), Republic (Plato) dan Politics (Aristotle). Tentu banyak buku lain yang ingin dimiliki, tapi apa daya buku-buku filsafat terbitan luar itu mahalnya minta ampun. Ternyata buku yang pertama juga dijual di toko buku besar Borders Queens Bay Mall, namun tidak ada potongan harga seperti di Kuala Lumpur.

Lalu, mengapa surga buku itu berada di tengah keramaian dan godaan yang lebih mengundang pengunjung? Atau hidup itu memang selalu seperti ini, ada asupan batin dan lahir. Keduanya tak perlu dipertentangkan. Hanya saja yang terakhir perlu diawasi agar tidak melebih batas tubuh, sementara yang pertama mungkin bisa diasup sepanjang waktu. Namun, lagi-lagi tidak mustahil kesungguhan meraih makna hidup dari buku juga bisa berujung kebingungan. Di sini, kita tak melulu merasa berada di antara dua pilihan. Pasti setiap orang bisa mengukur kemampuan dan menyadari keterbatasan. Ada jalan lain untuk menyikapi semua ini, kearifan. Lho, bukankan kebijaksanaan itu juga bersumber pada filsafat? Mungkin ya, tetapi kearifan itu juga bisa nongol dari kedalaman perenungan yang telah melewati kata, diam tak tepermanai oleh huruf. Kemudian, masihkan tokoh buku itu, Surga?

Comments

Popular Posts