Selamat Hari Raya Idul Fitri


Kami mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Mungkin, Tuhan memaafkan kekhilafan kami, namun di tangan Anda, kesalahan itu luruh, tak berbekas. Gambar di atas adalah peristiwa biasa, tapi bagi kami istimewa. Inilah untuk pertama kalinya, kami merayakan hari kemenangan. Si kecil masih berusia 6 bulanan. Seperti warga Indonesia yang lain di Negeri Jiran, kami pun bergambar bersama setelah sebelumnya bersalaman, saling memaafkan. Para pegawai konsulat, pekerja migran, mahasiswa menyatu, menikmati kebersamaan. Berbeda dengan tahun yang lalu, hari itu langit cerah, meski agak mendung sebelum shalat Id ditunaikan. Pas jam 8.39, matahari menyembul, melimpahkan sinar ke bumi.

Acara sembahyang idul fitri dimulai dengan sambutan Pak Karnadi Kasan Sarji, yang diikuti Pak Moenir Ari Soenanda, Konsul Jenderal. Kemudian, Pak Arbi, melantunkan ajakan shalat. Tiba-tiba, suasana senyap. Ratusan orang sepertinya terkunci. Hanya takbir sang imam memecah kesunyian. Setelah usai, imam yang juga bertindak sebagai khotib, berdiri memulai khotbah. Ustaz Maulana Siregar membuka dengan takbir. Jamaah tampak larut dalam setiap kata yang dilontarkan, selain tampak lugas juga diselipkan banyolan. Tak jarang, tawa kami berderai ketika dengan dialek Batak, khotib yang sengaja diundang dari Jakarta ini menceritakan kisah Ibrahim dan Ismail, sebagai latar dari asal-muasal laungan takbir, tahlil, dan tahmid.

Di sela-sela ceramah, sang ustaz juga menyentil jasa para pekerja. Mereka adalah duta bangsa, yang akan merawat nama harum negara. Sebelumnya, Pak Moenir menyajikan data bahwa pulangan (remittance) TKI berjumlah 15 triliun, sebuah angka yang cukup besar untuk mendongkrak nadi perekonomian kampung mereka. Ya, pekerja migran merupakan jamaah terbesar pada masa itu. Meski mereka telah menyumbangkan devisa, tambah ustaz, nasibnya tetap sengsara, sebuah ungkapan yang memantik tawa.

Comments

Popular Posts