Pagi di Danau


Sabtu kemarin, danau kampus itu renyah karena pagi-pagi ia telah meraup air hujan deras. Kemudian, matahari menyembul, memendarkan butiran air di dedaunan. Ikan pun berenang riang. Beberapa pengunjung memanjakan dengan remah-remah roti. Di ujung itu, mereka berkumpul dan berlompatan untuk menelan apa saja. Yang paling ketara, lele dumbo melahap setangkup roti, lalu menyurut ke dalam air. Setelah puas, kami pun beranjak, menuju masjid kampus untuk mengikuti pengajian.

Aha, Ustaz Zaki membahas kesabaran. Bukankah watak ini mengandaikan seperti danau itu, tenang dan tak bergolak? Penghuni di dalamnya pun tak tergesa-gesa. Biawak melata dengan anggun, burung berlompatan dari dahan ke dahan, apalagi kura-kura yang berenang pelan dan merangkak lambat ketika naik ke tanah pembatas. Dari binatang, kita pun belajar sabar. Kesabaran itu juga tecermin dari raut sang ustaz, yang berjalan jauh dari Seberang Pulau untuk sampai ke masjid ini.

Dengan menyitir kitab suci yang mengandung firman Allah bahwa manusia akan dicoba dengan ketakutan, kelaparan, kurang harta, jiwa dan buah-buah, pria kelahiran Jambi ini mengurai hal ihwal tantangan manusia menjalani kehidupan. Tema ini mengetuk benak karena saya pun merasa bahwa kesabaran itu mudah diucapkan, namun sangah susah diwujudkan. Tentu, pelaziman sifat ini memerlukan perubahan cara berpikir dan keyakinan. Tanpa keduanya, ia akan selalu berada jauh di sana. Lalu, siapa pun saling mendahului untuk memenangkan persaingan dengan terburu nafsu.

Comments

Popular Posts