Saturday, May 15, 2010

Memeriksa Identitas Serumpun Indonesia-Malaysia

Kedaulatan Rakyat, 15/05/2010 | 09:59:28

Ketika mengunjungi dua universitas negeri di Makassar, rombongan dari Universitas Sains Malaysia, Kolej Universitas Islam Selangor dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Selatan Thailand disambut ramah. Dua pemimpin tertinggi secara meyakinkan menyatakan bahwa kami adalah serumpun, mempunyai akar yang sama. Namun, setelah satu sama lain berbicara, bahasa yang mereka gunakan terlihat tak senada. Kedua belah pihak menggunakan kosa kata dan pengucapan yang berbeda. Apalagi, perbedaan bunyi huruf turut menyumbang kebingungan karena di Malaysia, penyebutan alfabet mengikuti gaya Inggeris, misalnya huruf K, diucapkan [ke], bukan [ka]. Bahkan, dalam sebuah sesi seminar seorang dosen negeri Universitas Hasanuddin meminta saya untuk menerjemahkan pertanyaan dosen Malaysia, padahal yang bersangkutan menggunakan bahasa Melayu.

Demikian juga, ketika Dr Nordin Abd Razak, seorang dosen, bertanya pada pegawai dinas pariwisata Makassar, “Ibu dari pejabat pelancongan ya?” Sang pegawai terdiam. Sapaan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih kasih karena rombongan ditraktir makan siang oleh kantor yang bersangkutan. Lalu, saya menimpali, dinas pariwisata dan ibu pun tersenyum renyah, mengangguk. Kami pun berlalu. Sebenarnya kata pelancongan sinonim dengan pariwisata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, namun karena tidak sering digunakan, masyarakat di sini tidak akrab. Apalagi diawali kata pejabat, yang di sini berkonotasi pegawai tinggi, sementara di Malaysia menunjuk kantor, sebuah kata yang dipungut dari bahasa Belanda. Inilah sekelumit betapa kedua negara ini telah mengalami titik persimpangan dalam berbahasa.

Namun, jika kita satu sama lain berada dalam pertemuan tidak resmi, sebuah percakapan bisa berlangsung gayeng. Artinya, perbedaan itu tidak menghambat keakraban. Terbukti, KH Mustari Busro dan isteri menjadi tuan rumah yang baik dengan meluangkan waktunya menemani rombongan. Malah, ketika dalam sebuah kunjungan ke pelbagai tempat bersejarah, penyebutan rombongan dari Malaysia memantik petugas bergegas menyambutnya. Kedekatan itu jelas terasa, karena komunikasi bisa berjalan, meski tak jarang tersendat. Namun, ketegangan sempat muncul ketika segelintir rombongan menjadi pemakalah dalam seminar. Pertanyaan keras berkait kepongahan Malaysia muncul. Padahal, itu terjadi di Makassar, tempat dua perdana menteri Malaysia berasal. Bahkan, orang Bugis juga menyebar ke seantero negeri Semenanjung yang sekarang telah menjadi warga negara. Sejatinya, kenyataan ini merekatkan hubungan, namun apa daya, hubungan emosional lancung.

Jati diri

Kata jati diri acapkali muncul ke permukaan berkait dengan serbuan kebudayaan luar yang merasuk dan dianggap mengancam kelestarian komunitas tertentu. Ia mempunyai nada lebih kuat daripada identitas. Namun, hakikatnya kedua kata setali tiga uang. Selain itu, ia juga tidak sesederhana penanda yang menempel pada seorang Jawa yang beragama Islam dan berkebangsaan Indonesia. Jelas pada diri orang ini mengusung tiga identitas, etnik, agama dan negara. Kadang, penanda ketiga identitas ini berpisah, namun tak jarang pula berkelindan. Malah, anehnya begitu mudah Jawa menjadi Melayu di Malaysia karena kedekatan budaya dan agama. Meski kadang identitas tampak cair, namun sebenarnya ia mengandaikan kepastian, seperti bahasa, agama dan budaya. Nah, kedua negara serumpun ini menunjukkan warisan identitas tunggal.

Lalu, bagaimana sebenarnya wujud identitas serumpun yang acapkali menyembul dalam setiap pertemuan dua warga Indonesia dan Malaysia ini? Nyatanya, dalam satu minggu ini paling tidak saya menemukan kesulawanan. Pertama, ketika berlangsung seminar Melayu se-Asean di Universitas Muhammadiyah (29-31 Maret 2010), para peserta yang bertanya dengan lugas menggugat perlakuan Malaysia terhadap TKI dan bahkan salah seorang yang lain menyoal Manohara. Pemakalah dari Malaysia tampak tertegun, karena pertanyaan semacam ini tak akan ditemui di negaranya. Malah, ketika membaca Soe Hok-Gie Sekali lagi (2009), saya menemukan tulisan N Riantiarno yang menyebut jiran sebagai pengutil budaya (hlm. 290). Kedua peristiwa ini menandakan bahwa stigma negeri tetangga sebagai pencuri kebudayaan begitu kuat tertanam di benak segala lapisan. Tentu media mempunyai peranan yang kuat mempengaruhi pikiran khalayak untuk terus menggelorakan kebencian semacam ini.

Tapi, benarkah tuduhan itu? Hakikatnya kebudayaan mengandaikan sebuah pertemuan rumit antara pelbagai unsur, yang tak jarang telah menyesuaikan diri dengan alam pikiran setempat. Kitab Mahabarata, epik India, telah disesuaikan dengan kejawaan, namun negeri Mahatma Gandhi itu tidak pernah menyoal bahwa miliknya telah dicuri. Padahal, orang Jawa dan India mempunyai perbedaan dalam banyak hal, dibandingkan dengan orang Malaysia. Tetapi, mengapa rakyat Indonesia masih dengan mudah menganggap warga serumpun itu mengutil kebudayaannya. Dalam satu makalah seminar yang disampaikan Dr Mohd Isa Othman, “Peranan Diaspora Bugis dalam Sejarah Politik di dalam Kesultanan Johor-Riau dengan tegas menyatakan bahwa tautan antara negeri-negeri itu mengandaikan hubungan persaudaran dalam arti konotatif dan denotatif. Tak ayal, kebudayaan negeri asal juga dipraktikkan tanpa merasa ia adalah sesuatu yang asing.

Simbiosis Mutualisme

Pergulatan mengukuhkan identitas itu tak berarti apa-apa, jika peneguhan secara sungguh-sungguh tidak mendatangkan pemahaman yang menyeluruh. Identitas menjadi Indonesia tidak dengan sendirinya bersifat chauvinis, namun terbuka bagi pergaulan, atau kosmopolit. Apalagi jika identitas kita bersirobok dengan identitas rakyat negara lain, maka keduanya akan menemukan ruang yang lebih besar untuk bekerja sama lebih tulus dan mulus. Memang, di tingkat pemerintah, para elitenya tampak rukun. Demikian pula, di bidang ekonomi, Malaysia telah membukukan penanaman modal yang cukup fantastis, dan terus berlanjut sejalan dengan pertumbuhan positif ekonomi negeri bekas jajahan Inggris itu.Namun, riak-riak konflik yang acapkali menyeruak di antara masyarakatnya telah menjadi batu kerikil dalam mewujudkan hubungan yang lebih baik.

Contoh sederhana dari sandungan itu adalah pembatalan kedatangan turis Malaysia ke Indonesia akibat pemberitaan sweeping. Meskipun kejadian ini terjadi di Jakarta, pengaruhnya meruyak ke daerah lain, bahwa Indonesia tidak aman bagi warga serumpun. Bahkan, sektor pariwisata di sini juga tak menarik perhatian calon potensial warga Malaysia untuk datang. Kawan karib saya dari Makassar bercerita bahwa rute Air Asia Kuala Lumpur-Makassar hampir ditutup karena jumlah penumpang tak memadai untuk tidak membuat maskapai tersebut rugi. Namun, atas permintaan gubernur Sulawesi Selatan, rencana ini tidak dilaksanakan. Dengan insentif dari pengelola bandara, perusahaan penerbangan Tony Fernandes ini tetap melayani penumpang dalam rute tersebut. Kenyataan ini agak aneh, karena Makassar mempunyai pijakan yang kuat di Semenanjung, karena mempunyai hubungan sejarah pertautan yang panjang. Bahkan sebelumnya, promosi parawisata Makassar melalui TV 3 mengisi slot iklan. Bahkan, tak lama setelah Najib Tun Razak dilantik sebagai perdana menteri, ia mengunjungi tanah leluhurnya.

Sepatutnya, identitas serumpun itu bisa menjadi daya tarik agar masyarakat diaspora itu merindukan kampung halamannya dan bekunjung menengok sejarah masa lalu nenek moyangnya. Sebagaimana juga, sebagian warga Indonesia juga merupakan diaspora dari Melayu Semenanjung, ketika abad ke-15 Malaka jatuh pada Portugis. Pendek kata, sebenarnya hubungan keduanya mengandaikan ikatan batin yang kuat, meskipun sejak dulu konflik juga pernah meruyak ketika Bugis terlibat perang dengan Johor.

Namun, haruskah perselisihan ini terus diabadikan? Tak hanya itu, penyangkalan kita terhadap kebudayaan yang dipraktikkan di Malaysia hakikatnya mengingkari identitas mereka yang bersumber sama, kebudayaan Nusantara, atau dalam bahasa Pramoedya Ananta Toer, “Melayu Besar”. Jika identitas serumpun itu gagal dirawat, maka kita sebagai bangsa telah gagal melawan lupa, bahwa sejak dulu gagasan kebesaran Nusantara itu bukan sekadar cerita, tetapi fakta. Masihkan kita senantiasa mengulang kealpaan? q - c. (860-2010).

*) Ahmad Sahidah PhD,
Fellow Peneliti Pasca doktoral pada
Universiti Sains Malaysia.

No comments: