Buku Orang Ramai

Setiap orang akan memilih bacaan yang sesuai dengan kehendak, kemampuan dan kecenderungan alam pikirannya. Jika kita menemukan buku ini diletakkan di rak sebuah toko yang mengisi ruang pasaraya, TESCO, perusahaan multinasional Yahudi Inggeris itu, maka kita bisa membayangkan apa yang diingikan orang ramai tentang kehidupan. Agama itu hal praktis. Sementara, hanya segelintir yang memikiran masalah keagamaan secara teoritis. Keduanya tak perlu bersitegang, namun pasar menghendaki mereka beradu hujah agar banyak barang jualan yang laku, seperti buku, koran dan CD.

Begitu banyak khalayak membaca doa dan kitab suci agar hidupnya tentram, sementara sedikit orang bergelut dengan teori untuk mencari jawaban mengapa mereka melakukan hal itu. Celakanya, tak jarang masyarakat luas dibuat bingung oleh wacana yang diurai oleh segelintir bahwa jalan mereka perlu disoal ulang. Meskipun khalayak itu tak bersuara, mereka mempunyai pengawal yang berteriak lantang bahwa pemikiran keagamaan itu tidak boleh diringkus dengan akal. Sikap pasrah adalah kunci untuk menemukan berkah. Adakah yang segelintir itu menolak berkah? Tidak, hanya maknanya mungkin tak sama.

Coba lihat sampul buku yang mengungkap tentang dunia kematian yang berada di sebelah buku Ustaz Yusuf Mansur, Mencari Tuhan yang Hilang. Tentu, ia bukan perenungan filsafat. Di dalamnya, orang diminta berbuat baik karena keburukan membawa padah di alam kubur. Lalu, filsuf menyebut alasan kategori imperatif untuk menyuruh kita berbuat baik. Bahasa dan penalarannya berbeda, namun sama-sama ingin memberikan dasar agar kita melakukan kebaikan. Setiap pribadi tentu menanggung rasa nyaman masing-masing dengan memilih alasan. Tentu saja, alasan yang terakhir tidak diucapkan dengan alesan seraya merengus dan berlalu pergi dengan bermuka masam.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode