Friday, January 07, 2011

Agama, Pasar dan Rakyat

Tadi, sebelum senja habis diterkam gelap malam, kami, Pak Cik dan Mak Cik pergi ke Pasar Rakyat untuk berbelanja keperluan sehari-hari, seperti sayur dan ikan. Kata Bunda, sayur kankungnya jauh lebih muda dan segar dibandingkan di Pasaraya. Hanya RM1 seikat. Ya, penjual Tionghoa yang ramah itu tak menyebut berat. Sebelumnya, kami membeli tepung kue di warung Bakery Paradise dan si kecil diberi satu bungkus kismis oleh penjualnya. Padahal harga sebungkus manisan buah kering itu RM1.50. Kami pun senang alang-kepalang.

Lalu, apa hubungannya dengan agama? Kerukunan. Di pojok, ada warung daging babi, sementara di pojok lain warung daging ayam halal, terkesan dari nama warung bersangkutan. Semua mendapat tempat dan pelanggan masing-masing. Ketika Mak Cik mendekati seorang penjual tahu dan makanan kukus, orang muda itu mengatakan bahwa otak-otak itu halal, tanpa ditanya. Di atas kepalanya, sebuah papan tergantung yang menerakan tanda tulisan Arab halal. Lalu, ketika beranjak ke warung yang lain, kami terkejut karena sepotong tempe dijual RM1.20, jauh lebih mahal 20 sen dibandingkan di Pasar Malam Gelugor dan penjual sayur keliling.

Di sela-sela berkeliling pasar, saya sempat mengambil gambar di atas. Coba lihat nama pasar yang berada di bawah wewenang MPPP (Majlis Perbandaran Pulau Pinang) itu, keren bukan? Tak hanya pasar, tetapi juga balai rakyat, tempat berkumpul orang kebanyakan. Jauh dari kesan kotor dan kumuh, sebagaimana kebanyakan pasar rakyat, ia masih bertahan di tengah serbuan pasaraya yang dimiliki perusahaan multinasional, seperti TESCO, Giant, dan Jusco. Di dalam perjalanan pulang, saya berujar pada Pak Cik, kalau kita pergi ke pasar, kita telah menyelamatkan banyak periuk orang kebanyakan, namun jika berbelanja di pasaraya, kita menambah pundi-pundi orang-orang kaya. Lalu, Pak Cik menukas, apa boleh buat? Dalam hati, kita bisa banyak berbuat untuk melawan pemilik modal besar itu.

No comments: