Menginsankan Universitas

Pidato tahunan Naib Canselor (baca: rektor) kampus mengungkap isu penting, penginsanan universitas. Dengan menyuguhkan banyak data, Dzulkifli A Razak mengungkap persoalan kemanusiaan yang makin hari makin buruk. Adalah aneh jika universitas, tempat orang bijak berkumpul, abai. Untuk itu, ia menyarankan bahwa ciri universitas baru itu bukan lagi kebijaksanaan orang pintar (wisdom of experts), tetapi kebijaksanaan orang ramai (wisdom of crowds). Untuk itu, saya memetik premis terakhir ini di kicauan twitter kemarin, lalu menambahkan jika yang terakhir gagal, maka yang pertama perlu diragukan.

Oleh karena itu, di antara ciri khas 7 Universitas APEX, kemanusiaan menempati posisi tengah, yang menerangi tiga di atas dan di bawah, yaitu 1. Masa Depan 2. Keunikan 3. Kelestarian dan 5. Kesejagadan (universal) 6. Perubahan dan 7. Pengorbanan. Betapa pun kampus menggalakkan penelitian sains, namun hasil pengamatan itu akan dimanfaatkan oleh manusia. Jika kecemerlangan peneliti menghasilkan penemuan, maka ia makin memanusiakan manusia. Oleh karena itu, tugas universitas tidak hanya terbatas pada pemenuhan kehendak industri dan bisnis, tetapi mengangkat manusia dari keterpurukan (dehumanisasi). Pada waktu yang sama, universitas harus mengambil peran untuk turut membangun peradaban global, dengan mempertimbangkan Millenium Development Goals (MDGs) yang dicanangkan Persatuan Bangsa-Bangsa.

Selama penyampaian pesan tahunan ini, ada banyak kutipan menggugah, di antaranya: Bukan waktunya lagi berpikir, tetapi kita perlu membuat pengurusan keputusan (management decision) dan hal terindah di dunia ini harus dilihat dari hati, seraya memetik Hadits Nabi yang mengulas tentang segumpal daging dalam dada manusia yang menentukan hitam putih hidup mereka. Tentu, dengan mencanangkan keberhasilan pada tahun 2013, Universitas ini akan terus mengorak langkah, yang tidak melulu tentang kejayaan yang bisa dilihat, tetapi juga yang tidak bisa diukur. Akhirnya, acara tahunan ini ditutup dengan penghargaan pada seorang mahasiswa, Kumanan Kandasamy, dan ibunya yang berjuang untuk menata hidupnya, yang sempat dihantam badai. Hebat, mereka masih mampu berdiri di atas panggung dan tentu menjalani hidup dengan tegar.

Comments

kembangceplukan said…
ruangan ini yg dulu di pake buat bedah buku LP bukab Pak?

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode