Anjung Semarak

Tanpa mengabaikan kantin lain di kampus, terutama kantin Anjung Budi yang berpemandangan pantai dan pohon cemara, warung di atas adalah tempat yang menyeronokkan. Namanya pun unik, Anjung Semarak. Ia mungkin diambil dari nama pohon Semarak Api, yang mengeluarkan bunga berwarna merah menyala setelah diterjang hujan. Terletak di sebelah kedai buku, ia menjadi ruang mahasiswa untuk makan dan minum, bercengkerama, bahkan berdiskusi dengan dosen. Ketika saya baru datang, ada beberapa mahasiswa melingkari seorang dosen. Bahkan, di ujung yang lain, saya sempat menyapa seorang profesor yang sedang sendirian menikmati minuman.

Dari atas, pengunjung bisa melemparkan pandangan ke segala penjuru, seperti lalu lalang mahasiswa yang berjalan ke dan dari kampus, bangunan IPS (Institut Pasca Siswazah), Dewan Budaya, DTSP (Dewan Tunku Syed Putra) atau bulatan yang menancapkan tonggak bertulisan salam dalam pelbagai bahasa dunia. Dari sana, mahasiswa hanya perlu melangkah pendek untuk memelototi buku-buku baru dan lama, termasuk membeli koran harian. Ah, betul-betul surga di bumi!

Ia juga tempat yang nyaman untuk menyeruput minuman di waktu senja. Saya sengaja membawa Malam Terakhir Leila S Chudori, yang berisi beberapa cerita pendek. Ditemani air cincau (di kampung saya dikenal cao), buku itu mengalirkan makna ke batin dan gelas itu mengalirkan cairan ke kekerongkongan. Ups, kenapa nomor 13? Adakah itu petanda sial? Mungkin, sebab sehari kemudian, si kecil menumbuk mata saya sehingga perih dan pedih. Hampir semalaman saya menahan beban berat di pelupuk. Malah setelah terlelap dan bangun subuh, mata itu masih tak bisa memandang ringan sekeliling.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode