Menemukan Melayu di Riau

Riau Pos, 3 Januari 2011

Oleh Ahmad Sahidah

Jauh-jauh hari, Persatuan Karyawan (baca: pengkarya) Pulau Pinang-Malaysia mengagendakan kunjungan ke Riau. Sebagai organisasi dalam bidang penulisan, peserta ingin memburu akar Melayu di Negeri Lancang Kuning.

Meskipun pada awalnya kami ingin mengunjungi banyak tempat yang memungkinkan kembali menengok akar, selain kunjungan wajib ke Universitas Riau dan Riau Pos, warga jiran yang merupakan civitas academica Universitas Sains Malaysia (USM) hanya sempat menyiangi Candi Muara Takus dan Istana Siak Sri Indrapura. Rencana ke Pulau Penyengat untuk mengunjungi makam Raja Ali Haji tak kesampaian karena waktu yang terbatas.

Bagaimanapun, kunjungan intelektual ini dirancang bukan sekadar melancong, apalagi menggenapi agenda tahunan organisasi tersebut, tetapi lebih jauh merangkai kembali masa lalu Melayu dan untuk mengkritik prilaku masa kini dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Tentu isu ini akan makin merekatkan Riau dan Semenanjung Malaysia untuk mewujudkan kerja sama yang lebih luas dalam bidang kesehatan, pendidikan dan gaya hidup. Tiga unsur yang dinilai oleh United Nation of Development Program (UNDP). Apatah lagi dalam kunjungan ke Riau Pos, Wakil Pemimpin Redakri H Yasril menegaskan, tentang kepedulian koran ini pada penghargaan karya kreatif, Anugerah Sagang, yang makin menguatkan titik temu keduanya.

Kerja sama pendidikan perguruan tinggi Riau dan Semenanjung Malaysia sebenarnya telah banyak dilakukan. Untuk itu, kunjungan kami pun tak hanya berhenti membentang makalah, malah ke depan kerja sama kedua perguruan tinggi di atas akan terus dilestarikan, mengingat tak banyak orang Riau yang melanjutkan kuliah tingkat master dan doktor ke wilayah Utara Malaysia dibandingkan ke wilayah Selatan, seperti Kuala Lumpur, Johor, Selangor dan Malaka. Apalagi di Riau, Malaysia memiliki perwakilan konsulat, yang mempunyai konsul muda Encik Zamani yang sangat responsif dalam menyambut rencana kedatangan rombongan. Pendek kata, kerja sama antara perguruan tinggi kedua negara bisa dilakukan lebih teratur dan terukur.

Dua Melayu

Meskipun Riau dan Semenanjung Malaysia berkongsi sejarah pada masa lalu, kemelayuan keduanya pun berjalan tidak satu atap. Berdirinya dua negara merdeka, Indonesia dan Malaysia, telah melahirkan identitas Melayu yang tak lagi bernafas sama.Di sini, Melayu mengandaikan identitas etnik di belahan Sumatera, sementara di Malaysia, ia adalah unit politik yang telah diresmikan di dalam konstitusi menjadi orang Islam, berbahasa Melayu dan beradat-istiadat Melayu.Bagaimanapun, definisi seperti ini dikritik oleh Mahyuddin Al-Mudra, pimpinan Balai Pengkajian dan Pengembangan Dunia Melayu Jogjakarta, sebagai penyangkalan terhadap sejarah panjang Melayu itu sendiri.

Tentu kritik itu tak sepenuhnya bisa dilontarkan untuk melihat wujud Melayu Semenanjung. Di sana, Melayu dengan sendirinya memasukkan berbagai etnik lain, seperti Jawa, Bugis, dan Aceh, yang di tanah asalnya mereka tidak menerima penyematan Melayu untuk jati diri mereka. Apa pun perbedaan pandangan ini tidak bisa dielakkan karena pengertian identitas itu sendiri mengandaikan uraian panjang terkait pengalaman khas dan mengandaikan berbagai sudut pandang, seperti klasik, modern, pascamodern. Meskipun yang terakhir mengatakan identitas itu adalah mitos, namun ia hadir dalam dunia nyata. Paling tidak, ada dengusan nafas yang sama, bahasa dan adat.

Prof Sohaimi Abdul Aziz, memuji bentuk-bentuk bangunan pemerintahan yang mengekalkan ornamen lokal, Lancang Kuning, sebagai penanda dari sebuah ciptaan arsitektur lokal. Guru besar dalam bidang sastra ini tak melihat hal serupa, sehingga dunia Melayu di Semenanjung pelan tapi pasti tak membekas. Saya pun melihat banyak bangunan megah di sana tak lagi setia dengan warisan lokal, seperti KLIA (Kuala Lumpur International Airport) dan Menara Kembar Petronas. Keduanya hadir sebagai kepanjangan arsitek asing yang memanjakan ruang minimalis dan miskin sentuhan simbol lokal.

Wisata Budaya

Nah, di tengah perbedaan itu, hakikatnya kedua warga serumpun masih mempunyai akar yang sama. Keduanya bisa bertukar tempat tanpa menemui halangan berarti. Salah satu yang paling efektif untuk menyuburkan hubungan itu adalah pelancongan. Harus diakui Malaysia lebih berhasil memajukan pariwisata karena pemerintah dan rakyatnya mempunyai kesadaran yang jauh lebih kuat dibandingkan di sini. Di sana, turis merasa nyaman, karena fasilitas dan penerimaan orang lokal. Andaikata di sini kita juga bersikap sama, tentu banyak turis dari Semenanjung, termasuk sebagian turis mancanegara yang berkunjung ke Semenanjung akan melanjutkan perjalananya ke Riau.

Tahukah Anda bahwa kebanyakan orang Arab yang berkunjung ke Malaysia, baik Jalan Bukit Bintang dan Pantai Batu Ferringhi di Kuala Lumpur, namun mereka terlepas pandang bahwa di Riau memiliki bekas sebuah kerajaan Islam Siak Sri Indrapura yang memancarkan kegemilangan hingga ke Semenanjung? Kalau mereka tahu pendiri kerajaan tersebut berasal dari perantau tanah Arab, mungkin daya tarik Siak akan jauh lebih cemerlang. Ketika kami berkunjung ke sini dan bersembahyang di Masjid Syahabuddin yang permai, kami hanya mendapati turis Arab lokal dari Solo, Jawa Tengah, sedang tetirah di serambi masjid sebelah kiri, sepelemparan batu dari sungai yang mengalir sahdu.

Demikian pula, ketika rombongan mengunjung Candi Muara Takus, sang pemandu Zulkifli menjelaskan, bahwa bangunan tempat ibadah itu didirikan pada abad ke-11. Pengunjung pun tak bisa menyembunyikan decak kagum, ternyata di abad itu, Riau telah membangun peradaban yang agung, di mana pada waktu yang sama Eropa masih berada di dalam era kegelapan. Namun, kegemilangan itu tak memancar kuat karena pemerintah lokal tak membangun penyangga untuk membuat kehadiran candi itu makin menarik. Pos satuan pengaman tampak layu, sampah ditemukan di berbagai sudut candi, warung dibangun seadannya yang tak terintegrasi dengan aura candi yang magis. Malangnya lagi, fasilitas umum, seperti dua kamar mandi terbengkalai, itu pun hanya ada dua dan airnya mengalir malas.

Catatan lain yang mungkin perlu diresapi oleh warga di sini adalah kesiapan untuk memperlakukan turis dengan ramah, termasuk pedagang yang menjual makanan. Pengalaman buruk teman Malaysia, Encik Omar, membayar sepiring nasi, telor, dan segelas es teh sebesar Rp20 ribu tentu perlu mendapatkan perhatian semua pihak. Padahal kami makan di warung kecil di antara lorong dua bangunan tak jauh dari Aston, tempat kami menginap. Boleh jadi pengalaman buruk ini akan membuat pengunjung dari tanah Semenanjung tak akan menemukan Melayu di sini. Semoga tidak.***

Ahmad Sahidah PhD, Staf Peneliti Pascadoktoral di Universiti Sains Malaysia (USM), Pulau Pinang, Malaysia

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen