”Perang Baru” Indonesia-Malaysia

Jawa Pos, 22 Desember 2010


Oleh: Ahmad Sahidah

SEHARI sebelum tim Indonesia Malaysia turun lapangan di babak penyisihan piala Suzuki AFF 2010, di koran Kosmo! (1/12/10) terpampang judul besar: Malaysia sedia bedil Indonesia. Saya terkejut. Adakah diam-diam di bawah sadar wartawan Malaysia senantiasa bergolak menghadapi saudara serumpunnya sehingga kosa katanya berbau ”kegeraman”?

Mungkin tidak. Sebab, dalam sepak bola, kita telah banyak menyerap perbendaharaan kata yang terkait dengan perang, seperti taktik, pertahanan, serangan, merebut, menguasai, hingga manuver. Apalagi, setelah kalah telak 1-5, koran yang sama menurunkan berita ternyata Malaysia dibedil. Pengakuan ini tentu menghapus prasangka di atas.

Khairy Jamaluddin, ketua Pemuda UMNO (United Malay National Organization), acap menyuarakan pandangan kritisnya mengenai Indonesia. Kali ini tidak. Di twitter-nya, dia menulis nama stadion nasional dengan Gelora Bung Karno damn scary. Berbeda dengan Malaysia, mereka hanya menyebut Stadium Bukit Jalil, nama yang dilekatkan sesuai dengan tempat lapangan bola dan terkesan tidak gagah. Boleh jadi, di sana tidak ada tokoh yang membuat bulu kuduk berdiri. Tampaknya, kita memang lebih menyukai hal-hal besar, sedangkan orang Malaysia hanya menyebut stadionnya yang lebih bersih dan terawat daripada Gelora Bung Karno hanya dengan nama daerah.

Tentu, pertemuan keduanya di final akan membuat dua warga negaradeg-degan, siapa yang akan menjadi pemenang. Namun, harus diakui, warga Indonesia lebih ekspresif dalam menafsirkan laga dua seteru itu. Tiba-tiba, petinggi negara berharap TKI yang bekerja di Malaysia berbondong-bondong ke Bukit Jalil, memerahkan Stadion Bukit Jalil. Seorang sutradara berkicau di twitter, ayo ganyang Malaysia! Sepertinya, pertandingan ini betul-betul menjadi katup dari kegeramanya kepada tetangganya yang sering dipandang congkak dan pongah. Kalau hanya sebatas itu, siapa pun mafhum. Belum lagi, di tengah lapangan, kita akan sering mendengar sumpah serapah terhadap lawan. Namun, semua harus tunduk pada aturan bersama. Itu hanya permainan.

Persaingan

Mengingat di peringkat dunia FIFA Indonesia berada di atas Malaysia, di atas kertas sepatutnya tim nasional kita bisa menang, apalagi sebelumnya membelasah negeri jiran dengan skor 5-1 pada babak penyisihan. Namun, Malaysia tidak kalah gertak. Ia meramalkan bahwa pertandingan final itu boleh jadi seperti Piala Dunia Afrika Selatan, Juli lalu. Sang juara, Spanyol, sebelumnya bertekuk lutut kepada Swiss. Namun, Negeri Matador itu melenggang ke final dan mengalahkan Belanda dengan skor tipis 1-0. Malah koran Sinar Harian memuat berita bahwa kekuatan dua tim itu adalah 50:50 setelah Tim Harimau tampil meyakinkan mengalahkan Vietnam di babak semifinal.

Namun, jauh dari sekadar menumpukan perhatian pada pertandingan, kita juga harus memeriksa seberapa besar dua negara memberikan ruang untuk warganya bermain bola. Ketika final piala Nike ASEANbawah 15 tahun dihelat di Universitas Sains Malaysia pada Juni 2010, salah seorang official Indonesia memuji lapangan kampus yang terawat dan layak untuk dijadikan ajang pertandingan internasional. Malah, ia juga memuji fasilitas stadium Bukit Jalil lebih terpelihara daripada Gelora Bung Karno.

Jadi, perang dua tim itu hakikatnya mengandaikan persaingan dalam banyak hal, penyediaan fasilitas publik, pengurusan olahraga, dan pengaturan ketertiban penonton. Harus diakui, fasilitas, manejemen, dan kesadaran penggemar sepak bola untuk tertib di sini masih rendah daripada di Malaysia. Namun, pada waktu yang sama, kita perlu bangga karena antusiasme pada si kulit bundar ini mencerminkan Indonesia yang kompak. Bola di Malaysia masih menjadi milik Melayu, bukan Tionghoa dan India, sehingga penonton pun masih berasal dari etnik pribumi. Ia belum menjadi perekat kebangsaan sebagaimana di sini.

Antisipasi

Tentu tanpa diminta petinggi Republik, pekerja kita akan datang ke Bukit Jalil, apalagi pertandingan itu melibatkan tim sepak bola Indonesia. Banyak buruh migran yang memenuhi stadion untuk memberikan dukungan. Penulis sendiri melihat dari dekat gelegak penonton kita di sana dengan berteriak dan mengibarkan bendera Merah Putih. Tidak bisa disangkal, di dada warga kita Garuda telah tertancap kuat, tanpa Anas Urbaningrum harus mengatakan senayankan Bukit Jalil.

Dengan dukungan penyediaan bus oleh Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, tentu para pendukung Timnas Merah Putih akan berdatangan ke Kuala Lumpur. Sayangnya, kepastian tiket bisa diperoleh tiga hari sebelum pluit ditiup dan karcis untuk final tersebut diutamakan untuk warga lokal. Namun, bisa dijamin tanpa disediakan bus, warga kita di sana akan menyemuti Bukit Jalil. Tentu, kapasitas stadion yang hanya memuat sebanyak separoh penonton di Senayan tidak akan memberikan peluang yang besar untuk warga Indonesia. Sebab, animo warga lokal untuk menyokong pasukan (bahasa Malaysia untuk tim) kesayangannya juga besar.

Namun, antisipasi kerusuhan di tempat yang sama antar pendukung Christian Gonzales dan pendukung lokal seperti di Piala Tiger tahun 2005 harus dipikirkan. Tentu, kericuhan akan mudah tersulut mengingat bau kemarahan terhadap negeri bekas jajahan Inggris itu masih menguap. Demikian juga warga negeri jiran tidak berterima terhadap perlakuan Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) yang dianggap melecehkan kehormatan mereka dan mendapatkan perhatian luas setelah media di sana tidak lagi menutupi masalah seperti itu seperti tahun-tahun sebelumnya.

Namun, sejatinya, kita harus melihat sepak bola sebagai ”perang” yang mengedepankan sportivitas dan katup bagi sikap agresif yang merugikan. Apa pun hasilnya, ia seharusnya menjadi cermin dari kehidupan berbangsa yang ingin maju, yaitu penyemaian disiplin, kekompakan, kepatuhan, dan ketahanan. Inilah perang sesungguh-nya. (*)


*) Dr Ahmad Sahidah, peneliti Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universitas Sains Malaysia.


Comments

Popular Posts