Mengejar si Kulit Bundar

Saya mengambil gambar dari atas menjelang pertandingan persahabatan PPI USM. Tadi sore, saya merumput bersama teman-teman di lapangan sebelah. Meskipun demam masih bersarang, saya melakukan pemanasan agar rasa tak enak enyah. Karena pemain tak cukup, kami meminta dua warga lokal berkebangsaan India untuk bermain. Mereka pun dengan senang hati turun lapangan. Jadilah, permainan berlangsung tanpa wasit dan hakim garis.

Dengan napas tak panjang dan lari tak cepat, saya hanya membayangi pemain lawan dan sekali-kali menerima bola, lalu mengirim ke teman, tak jauh dari saya berdiri. Sekali-kali, saya berlari sekencang mungkin untuk mengejar lawan yang mendapatkan umpan terobosan, hanya untuk menghalang langkahnya. Bagi saya, bola adalah olahraga untuk membuat saya tak bosan berlari di trek, menambah kedekatan dengan banyak orang, dan tentu sekarang memberikan contoh pada si kecil bahwa sukan itu penting.

Sebelumnya, saya sempat ngobrol ringan dengan teman-teman buruh migran asal Indonesia. Mereka sengaja datang untuk merayakan kebersamaan. Mereka bercerita bahwa permainan ini adalah jeda dari rutinitas. Mas Yono, Mas Cholil dan Mas Anton tampak bersemangat mengocek bola. Merek berlari kencang, melesat seperti kijang. Sebelum azan, saya pun beranjak dari lapangan, menepi ke tiang gawang seraya mengambil dan mereguk minuman hingga kerongkongan tak lagi menjerit karena kering. Bola membuat saya haus. Air itu terasa sangat nikmat.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen