Reformasi Gagal?

Apakah cita-cita reformasi 98 itu gagal? Jawabannya bisa berhamburan pelbagai rupa. Sayang, kedewasaan kita tak kunjung datang. Banyak orang menggunakan kekerasan hanya untuk mengatakan sesuatu yang bisa disampaikan dengan santun. Prilaku serampangan telah menjadi cara untuk meyakinkan liyan.

Ini hanya sekelumit. Jauh di segenap penjuru, kekerasan telah muncul dalam banyak wajah, baik fisik maupun simbolik. Aturan mati. Pemimpin tak punya hati. Khalayak suka mendengki. Adakah kita akan kembali lagi ke zaman ketika orang nomor satu di negeri ini bertangan besi menyumpal mulut kita? Ini jelas bukan pilihan yang baik.

Sekarang, kita harus memeriksa kembali kebebasan, buah aksi mahasiswa dan rakyat menumbangkan tirani. Tapi, pada waktu yang sama, tanggung jawab harus juga ditimbangkan, agar kita tak terpuruk, tunduk pada hukum rimba.

(Sumber gambar: Kompas, 6 Februari 2011)

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode