Makanan Lokal dan Perlawanan

Kudapan di atas adalah makanan yang dibuat dari beras. Jipang, jajanan yang berwarna putih, masih disukai ibu saya hingga hari ini. Tapi, pernahkah kita menemukan pelbagai jenis jajanan di atas di mal? Kita hanya menemukannya di pasar tradisional atau toko pusat jajanan di pinggir jalan. Mengapa ia tak layak mengisi rak kedai di sejumlah mal? Adakah namanya yang tak gagah? Rasanya tak menendang lidah? Jawabannya tentu tak tunggal.

Lagi pula, setelah mengisi ruang mewah, apakah makanan itu akan berbeda rasa? Tentu, tidak. Malah, harganya akan semakin mahal berbanding di pasar. Belum lagi, penampi yang menjadi wadah itu jelas-jelas menggambarkan kerajinan tangan lokal yang perlu dilestarikan. Adakah ia akan dijadikan wadah untuk restoran mahal? Restoran mahal tentu lebih memilih bahan yang mengandung melamin yang berbahaya. Lalu, adakah kegairahan untuk memunculkan kembali masa lalu itu adalah bentuk perlawanan atau keputusasaan? Hanya karena tidak mampu membelinya, kita pun membela secuil yang kita punya? Sebagaimana, slogan yang diterakan di kaos (t-shirt) seorang mahasiswa yang baru melek pergerakan, "kehendak melawan kapitalisme adalah wujud kebosanan terhadap kemiskinan", diam-diam perlawanan itu berkelindan dengan kecemburuan sosial.

Makanan itu hakikatnya merupakan habitus, kebiasaan yang lahir dari latarbelakangan sosial bersangkutan. Mungkin, kita tak perlu risau hal-hal etis. Bagaimanapun boleh jadi makanan di atas menjadi menu di hotel mewah. Orang-orang kaya baru dari kampung tentu akan menikmatinya karena mereka kembali menemukan masa lalunya, meskipun harus merogoh kantong lebih dalam. Pendek kata, asupan itu bukan sekadar menghilangkan lapar, tetapi juga pemenuhan cita-rasa yang berkait dengan gengsi dan prestasi. Meskipun saya tak pasti, apakah orang-orang kaya dari kampung itu akan menggunakan tangan atau garpu ketika mengudap jajanan di atas. Tak hanya itu, mereka pun mungkin meletakkan serbet di paha agar remah-remah jajanan itu tak mengotori celana yang telah disetrika rapi dan licin agar tetap tampak elok di mata khalayak. Diam-diam, di ujung kursi sana, mata orang kaya sejati bergumam, "permata bisa dibedakan dengan kaca".

Comments

Popular Posts