Mengapa Kita Merindukan Ramadhan?


Judul di atas adalah tema pengajian Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia seminggu menjelang Ramadhan tiba. Alhilal Furqan, calon PhD bidang arsitektur asal Lombok, mengupas isu ini di hadapan para mahasiswa dan  pekerja perempuan migran. Sebelum acara dimulai, anak-anak kecil mengelilingi Puspa, mahasiswi asal Bandung, belajar membaca al-Qur'an dengan baik. Kami pun, para orang tua, bertegur sapa dan bertukar cerita. Setiap orang menekuri nasibnya. 


Mengapa umat semestinya merindukan Ramadhan? Jawapan pertama yang diberikan adalah janji Tuhan tentang taqwa. Dengan menunaikan perintah ini, pelaku akan mendapatkan ganjaran taqwa, sebuah predikat yang membedakan kita dengan orang lain. Dari gelar ini, kita akan menemukan diri yang sejati, meraup makna hidup yang sesungguhnya. Berkah puasa akan mencegah perbuatan buruk, baik perkataan (kalam), tubuh (butun), dan kehormatan (farj). Puasa pada akhirnya adalah jalan keluar dari hiruk-pikuk kehidupan dunia yang bising, semrawut dan tak beraturan. 


Lalu, adakah kita telah menggengam berkah itu? Menjawab pertanyaan ini, saya pun menulis sebuah artikel di Koran Tempo (19/7/12) bertajuk "Berkah Puasa yang Tertunda", untuk mengingatkan kita bahwa pengulangan kewajiban ini belum menghunjam pada kesadaran dan tindakan etik pelaku, sehingga berkah tertunda. Puasa akan menghapuskan dosa-dosa kita kecuali syirik dan iri-dengki. Jelas, pesan yang diambil dari Hadits Nabi ini mendorong umat untuk menjaga hubungan dengan Tuhan dan Manusia secara bersamaan. Adakah secuil iri masih melekat pada tubuh kita? Masihkan Tuhan kita menjadi tujuan tertinggi dalam hidup atau kehadiran-Nya hanya tempelan belaka? Namun, betapapun tak banyak pengaruhnya, tentu kita tak perlu meninggalkannya, bukan?

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode