Ramadan di Bukit Kachi [2]

Beruntung di pagi pertama Ramadhan, hujan mengguyur Bukit Kachi. Saya membayangkan pohon-pohon berpendaran karena tetesan air ditimpa oleh matahari. Tak seperti malam pertama, saya menunaikan salat Tarawih di dalam masjid, tidak di teras, karena tak panas. Di tengah menunggu sembahyang, saya sempat memerhatikan aneka pakaian mahasiswa, seperti kaos, baju Melayu, celana, dan tentu merek sarung. Alamak, ada jenama Raja Unta!

Saya bangun lebih awal satu jam dari biasa, jam 4. Melihat tumpukan baju yang telah dicuci, saya tak membangunkan ibu Biyya karena ia perlu istirahat dan mengambil alih tugas di dapur: mencuci penanak nasi dan memasak beras. Tebersit, betapa mudah hidup hari ini karena banyak pekerjaan yang dulu dilakukan dalam waktu lama, sekarang hanya dalam waktu singkat selesai. Jadi, apa yang sering kita lakukan pada waktu luang?

Pada hari kedua, kami berbuka dengan soto. Sebelumnya, dua butir kurma hingga di mulut untuk memulai ritual yang selalu mendatangkan keriangan, disusul es buah laici. Buah tamar ini adalah oleh-oleh dari kampus tempat saya mengajar. Sejauh ini, puasa memang mendatangkan rasa lapar, namun tak menyiksa karena sudah terbiasa. Mungkin puasa dari "benda" adalah tantangan yang acapkali menggelayuti pikiran, seperti keasyikan bermain telepon pintar. Padahal, saya sudah khatam mendaras How is the Internet Changing the Way You Think. Agar distraksi ini tak mendatangkan segunung rasa bersalah, saya menjadikan percakapan di grup WhatsApp sebagai sarana bertukar pikiran yang bermanfaat. Eh!

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen