Ramadhan di Bukit [5]

Setiap berjalan ke surau untuk bersembahyang Subuh, saya berusaha untuk menikmati setiap langkah kaki dengan mereguk udara segar dan merasakan alam dan seluruh isinya. Sekali waktu di simpang tiga, bau bunga menyeruak begitu saja. Bulu roma berdiri, saya merinding. Lalu, rasio menyergah bahwa ini fenomena alam. Gila, tubuh ternyata juga digerakkan oleh rasa. Di waktu lain, gemericik air terdengar lebih keras dari biasanya. Tak jarang, saya sengaja berdiri di bawah pohon yang ditinggali oleh burung. Eh, ternyata pengicau ini diam setelah tahu ada orang di bawahnya.

Sejatinya apa yang dilakukan atas, saya juga sering lakonin di luar Ramadhan, termasuk membaca surat kabar dan buku. Kebetulan, koran Sinar Harian edisi 31 Mei 2017 memuat tulisan tentang lingkungan yang dikaitkan dengan iman. Kepercayaan itu nyata dengan kepedulian pada alam sekitar, sesuatu yang jarang dibela dengan mati-matian dibandingkan dengan isu kafir, murtad, dan syariah formal. Andaikata, iman itu bisa hadir di masjid, ia juga merembes pada kehidupan sehari-hari, di hutan, bukit, pasar, dan jalan raya.

Selain itu, buku Henry Giroux yang tampak seperti dalam gambar di kiri atas adalah karya yang saya sedang baca untuk menangkap ruh dari ide pedagog ini tentang pendidikan kritis. Pada dekade terakhir, sekolah negeri di Amerika Serikat dikritik sengit oleh pengkritik radikal dan konservatif. Keduanya berseberangan tentang posisi institusi ini sebagai ruang publik reproduktif. Apapun, dialektika keduanya akan melahirkan sintesis, yang meskipun tidak tersurat, tetapi tersirat pada hati dan pikiran pada setiap pegiat pendidikan. 

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen