Ramadhan di Bukit Kachi [15]

Kami terpaksa ke pasaraya ini karena susu Zumi akan habis. Sebenarnya, supermarket terdekat, yang berlokasi di Changlun, menyediakan merek yang bisa diasup oleh si kecil, namun untuk langkah 3 kosong. Tak pelak, kami harus menempuh perjalanan 40 menit ke Jitra. Sejatinya, kami juga merencanakan untuk membelikan Biyya sepatu berwarna hitam sebagai alas ke sekolah dan piyama untuk kegiatan bermalam di sekolah.

Sambil menunggu berbuka, sementara si ibu membeli susu, saya duduk di kursi warung makan sambil mengawasi keduanya. Dengan riang, si sulung mendorong mainan itu dan si adik dengan gembira menikmatinya. Tak hanya kereta, mereka juga menghampiri semua alat permainan tanpa harus merogoh kocek untuk ditukar dengan koin agar bisa merasakan sensasi gerakan dan bunyi.

Setelah puas, keduanya kembali ke meja makan. 15 menit sebelum Magrib, si ibu menyuapi Zumi nasi ayam. Alhamdulillah, dengan lahap anak yang berulang tahun 11 Juni tersebut mencerna setiap suapan dengan penuh semangat. Peristiwa yang jarang berlaku. Lalu, giliran kami menikmati hidangan berbuka, sementara Zumi menonton seri Upin Ipin melalui telepon genggam.

Apa yang kami lakukan adalah sesuatu yang juga dialami oleh ramai. Tidak ada yang aneh. Hanya masalahnya, mengapa susu dan lampin hanya dapat dibeli di pasaraya? Toko-toko kecil di sekitar pasar tak menyediakan. Padahal, kedua barang ini sama seringnya dibeli oleh konsumen sebagaimana kebutuhan pokok yang lain. Pada akhirnya pasar tradisional perlu menyediakan tempat permainan anak agar mereka mau diajak ke sana. 

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode