Ramadhan di Bukit Kachi [16]

Biyya protes ketika saya mengajak Zumi ke sini pada hari Jum'at, "You are not fair", padahal sebelumnya saya berjanji untuk mengajaknya ke kantor. Akhirnya, keesokan harinya, saya memenuhi keinginannya. Di sana, ia membuka Oh My English, sinetron kesukaannya, sementara saya menyelesaikan mendaras buku Move Fast and Break Things oleh Jonanthan Taplin.

Namun ketika mencari seri Road to Jogja, si sulung tak menemukannya di You tube. Ia hanya menonton trailer dan teaser. Saya berjanji untuk mencarikannya dalam bentuk DVD nanti ketika mudik. Setidaknya, ia bisa mengisi waktu luang menunggu berbuka, meskipun tak sepenuhnya berpuasa karena jadual sahur dimulai pada pukul 7-an dan berbuka waktu Maghrib serta mengudap roti di waktu sore dalam perjalanan pulang sekolah. Dua minggu yang lalu, neneknya di Madura meminta untuk tak memaksa cucunya berpuasa penuh melalui percakapan telepon.

Nah, di sela-sela percakapan dalam perjalanan pulang dari kantor, saya bercerita tentang tujuan berlapar-lapar di bulan Ramadan, yaitu belajar menahan diri, seperti tidak mudah meluahkan amarah dan bersabar menghadapi keusilan si adik. Tentu, pada waktu yang sama, ia juga mengambil pelajaran agar kita peduli orang lain ketika pemuasa merasakan betapa susah orang yang tak makan karena tak punya bahan untuk dimasak. Nah, tentu kami sebagai orang tuanya yang mesti menunjukkan sikap kontrol diri dan prihatin pada orang ramai sebagai contoh yang paling dekat dari pesan. Tak mudah, tak kami tak menyerah. Mari saling mendoakan! 

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode