Ramadhan di Bukit Kachi [7]

Setelah memasuki seminggu puasa, tubuh bekerja seperti mesin saja, kapan kosong dan terisi. Namun tetap saja angin penyegar udara menusuk tubuh bila badan terpapar dalam waktu lama. Hari ini, saya mengawasi ujian Filsafat Moral dan Etika. Batuk yang menyerang semalam masih bertahan di badan. 

Di tengah menemani mahasiswa menjawab soal, saya sempat memerhatikan ketua pengawas yang sedang mendaras buku Adolf Hitler, Mein Kamft. Wajahnya tenang berjanggung panjang. Benak tiba-tiba merenung tentang paradoks. Dengan Inggeris yang fasih, beliau mengumumkan ujian akan segera berakhir dan meminta mahasiswa tidak lagi menulis. Setelah usai, saya pun berkata bahwa bukunya menarik. Ia pun membalas bahwa kita perlu membaca ide-ide besar di luar sikap kita terhadap bersangkutan. 

Di sore hari, saya dan keluarga memenuhi undangan pengurus Persatuan Pelajar Indonesia UUM. Seperti tampak dalam gambar, Bapak Irwan, konsul, dan Ibu Isana, pelaksana fungsi Sosial Budaya, ditemani Pak Syafii, dosen tamu UUM, sedang mendengar kesan-kesan mahasiswa yang sedang menjalani program pertukaran pelajar dari Indonesia. Sebelumnya, kami mendengar tausiyah dari Dr Hamid Busthami Nur lalu mengikuti salat berjamaah Maghrib. Satu hal yang selalu saya lakukan dalam pertemuan seperti ini adalah menambah teman baru dengan cara menyapa dan mengenal nama. Dengan menghadirkan nama mitra wicara dalam percakapan, kita telah memecah kebekuan. 

   


Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode