The dream comes true


"Dreams that do come true can be as unsettling as those that don't."
Brett Butler

Saya masih ingat kata Sigmund Freud dalam The Interpretation of dream bahwa mimpi itu boleh jadi adalah harapan dan keinginan kita dalam dunia sadar. Lalu, jika mimpi menjadi kenyataan, maka tak lebih ia adalah pemenuhan dari keinginan kita. Tidak ada yang aneh bukan? Tidak perlu kemudian kita mentahbiskan diri sebagai orang yang akan menerima wangsit untuk mengetahui lebih tentang dunia.

Seperti pagi ini, saya telah mengalami mimpi yang kemudian setelah bangun menjadi kenyataan. Kadang, saya merujuk pada Freud untuk memahami peristiwa ini. Meskipun, saya masih menyisakan tanya apakah ini akan makin menyeret saya untuk lebih jauh mengerti fenomena ini? Sebab, dulu waktu saya belajar di pesantren, seorang guru mengungkap cerita dari Amerika tentang orang yang bermimpi pesawat yang akan dinaiki meledak. Lalu, mimpi ini benar-benar menjadi kenyataan dan untungnya ia membatalkan penerbangannya karena alasan lain. Miris, bukan? Untung mimpi saya dan kenyataan itu tidak berkaitan dengan hal-hal yang menyeramkan, bahkan melegakan.

Karl Justav Jung, seorang ahli psikoanalisis, menyatakan bahwa mimpi itu terdiri beberapa bagian atau fase seperti layaknya sebuah drama. Fase pertama adalah eksposisi, representasi situasi awal – yang menunjukkan konflik sentral di dalam mimpi. Fase kedua adalah plot dan mengandung sesuatu yang baru (perubahan penting) yang mengantarkan mimpi pada pase ketiga : puncak. Di dalam fase ini sesuatu yang paling kritik terjadi, yang membawa mimpi pada sebuah penyingkapan: fase keempat yaitu kesudahan atau akhir dari alur mimpi (denouement).

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen