Barbaque seorang Teman

Dering telepon mengagetkan saya yang sedang mengetik di ruangan kampus. Teman baik saya mengundang saya untuk turut 'merayakan' (tak disebutkan) dengan barbaque. Tentu, saya mengiyakan.

Tapi, sayang, ketika bersia-siap berangkat, hujan turun. Dengan serta merta, saya memberitahukan akan kelambatan kami. Sebelumnya, saya, Mas Tauran dan Pak Allwar ingin berangkat bareng dengan naik bus. Namun, karena hujan tidak juga reda, kami terpaksa membatalkan untuk memenuhi undangan.

Agar tidak ditunggu-tunggu, saya mengirim sms bahwa kami tidak bisa datang karena terlalu malam. Tapi, Mas Ayi tetap mengharap kehadiran kami sebab acara belum dimulai. Dengan bergegas, saya turun ke bawah menembus gerimis menjemput mas Tauran di International House. Bersama Pak Allwar, kami menunggu di halte menuju KOMTAR tempat Ayi akan membawa kami ke flatnya.

Tiba di rumah lantai 23, kami disambut manis oleh tuan rumah, Adik Woelan dan sobat yang berwajah kalem, Icank. Setelah mengucapkan salam, saya ke balkon untuk menatap pantai Gurney dari ketinggian dan membaui angin yang berhembus dari laut. Di sini juga digelar pemanggangan, sate, sosis, cecahan daging menunggu tangan kami untuk segera dipanggang.

Malam itu adalah milik kami karena malam tak lagi beku tapi cair oleh panas api, daging yang menerbitkan selera, dan canda ke sana kemari. Oh ya, Mas Ayi mengatakan bahwa undangan ini untuk merayakan ulang tahun dan 'malam' terakhir Icank di Penang. Lagu bang Haji, Pesta pasti berakhir. Bertiga kami diantarkan ke USM dengan mobil biru melesat membelah kegelapan malam.

Comments

Popular Posts