Sunday, February 25, 2007

Debat lewat Milis

Ada adagium dalam ilmu filsafat bahwa pengetahuan itu lahir dari pertanyaan. Berangkat dari asumsi ini saya bertanya:

Saya tidak tahu, sejak kapan ada Lembaga Kajian Pasca Sarjana (Institute of Post Graduate Studies) di Universiti Sains Malaysia? Mungkin, ketika Yusril sekolah di USM, beliau menyelesaikan doktornya di jurusan ini? Padahal kalau ditilik kata postgraduate merujuk kepada jenjang pendidikan, bukan sebuah disiplin atau kajian, apatah lagi jurusan. Uniknya lagi, label sebagai pakar hukum tata negara, tapi lulusan Institute of Post Graduate Studies? Tak pelak, kita tidak perlu menjadi ahli sesuai dengan jurusan yang kita ambil?

Jadi, saya tidak sedang membuat pernyataan. Jelas, tidak ada sepotong kalimatpun yang menyatakan bahwa sang wartawan telah melakukan kesalahan (sebagaimana kesimpulan Pak Syukri) dan apalagi menggugat keabsahan gelar Doktor Pak Yusril (sebagaimana kekhawatiran Mas Faiqun).

Saya juga menyadari sepenuhnya, tulisan yang bercorak features itu dibuat dalam keadaan ‘deadline’ jadi agak susah untuk melakukan apa yang disebut dengan investigative reporting atau jurnalisme sastrawi dalam bahasa Mas Andreas Harsono (lihat majalah Pantau dalam http://www.pantau.or.id/). Dian, sahabat wartawan saya, menyatakan bahwa itu bukan kesalahan fatal.

Hakikatnya, saya sedang menanyakan istilah-istilah kunci yang digunakan di dalam sebuah paragraf yang menimbulkan pertanyaan hermeneutis. Jika, teman-teman milis bersedia menjawab, maka sebenarnya kita sedang melakukan sebuah dialog falsafah.

Persoalanya, kadang kita tidak bisa dilepaskan dari horizon of expectation, di mana masing-masing individu melesakkan ‘harapan’nya sendiri akan makna sebuah teks, sehingga teks (dalam hal ini pertanyaan yang saya ajukan) menjadi ‘liar’. Tapi, saya mafhum karena bahasa itu adalah penyederhanaan dari realitas yang rumit.

Lebih jauh, saya akan mencoba untuk melihat ihwal yang dipersoalan, yaitu IPS atawa Institut Pengajian Siswazah sebagai jawatan yang mengurus administrasi kemasukan (enrollment). Sementara mahasiswa belajar di masing-masing pusat pengajian (School) atau fakulti (Faculty). Jadi, menurut saya, kita tidak belajar di IPS, melainkan di masing-masing jurusan yang berada di bawah pusat pengajian dan fakulti. Menurut salah seorang profesor, Yusril dulu belajar ilmu politik di Pusat Pengajian Ilmu Kemasyarakatan. Tambahnya lagi, dia pintar.

Coba bandingkan jika kalimat beritanya ditulis dengan uraian sebagai berikut: Yusril yang lulusan (atau alumnus, jadi bukan alumni, seperti dikatakan oleh Pak Syukri, sebab yang terakhir ini adalah jamak) PhD dari Ilmu Sosial Kemasyarakatan Universiti Sains Malaysia, menurut saya, adalah informasi yang lebih tegas (dalam bahasa ilmu komunikasi disebut straightforward information).

Sebenarnya, saya menggulirkan wacana ini untuk membandingkan bagaimana mahasiswa USM dan luar USM di Malaysia melihat persoalan di atas secara objektif. Sampai hari ini, pelajar USM tidak ada yang menegaskan sikap. Sementara Ismail S Wekke dari UKM, menyatakan bahwa meskipun beliau ‘dekat’ dengan Bang Yusril, kalau beliau salah ia akan tidak mendukungnya (kalimat dari saya sendiri).

Jika diakhir kalimat saya menyatakan siapakah yang akan menjadi pecundang dan pemenang? Ini adalah pertanyaan perangsang agar teman-teman tergerak memberikan pendapat. Ternyata memang kedua-duanya dimenangkan oleh SBY. Semua bisa tersenyum, meskipun sempat saling ledek. Yusril bilang pada Ruki, “Lu, stroke?” dan yang terakhir menimpali, “Mau adu panco”. Nah, mengenai ledekan ini, terserah teman-teman mau menafsirkan makna di sebalik kata verbal.

Sebelum saya mengakhiri tulisan singkat ini, saya mengutip kata-kata Eric Berne, “Seorang pecundang tak tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah, tetapi sesumbar apa yang akan dilakukannya bila menang. Sedangkan, pemenang tidak berbicara apa yang akan dilakukannya bila ia menang, tetapi tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah.“

No comments: