Thursday, October 09, 2008

Telepon Teman Baik tentang Kabar Baik

Dalam perjalanan naik motor ke kampus, telepon saya berdering dan serta merta saya meminggir. Di tengah suara bising kendaraan, saya masih dengan jelas mendengar suara Fitri, teman Melayu yang aktif di ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia), yang memberitahu tulisan saya yang dimuat di Majalah I (Malaysia) - sebagai inisial dari kata informasi, inovasi, ilmiah, intelek, internasional, islamik. Untuk kesekian kalinya, teman-teman saya memberitahu pemuatan tulisan saya, sesuatu yang menyenangkan.

Selain itu, kawan baik di atas juga akan memberikan majalah tersebut karena saya tidak sempat memilikinya. Ternyata tulisan itu dimuat pada edisi bulan September. Sebelumnya, kawan baik saya dari Aceh mengirimkan sms tentang artikel saya di koran lokal. Tentu, ini membantu saya melacak tulisan-tulisan saya yang berserak, yang kadang luput dari perhatian. Lebih dari itu, tulisan di atas dimuat di koran lokal yang menambah khazanah tulisan dalam bahasa Malaysia.

Dari pengalaman di atas, saya dengan sendirinya telah memelihara silaturahmi dengan teman-teman Malaysia yang mempunyai perhatian pada pemikiran keislaman dan sekaligus bertukar pendapat dalam mengkayakan pengetahuan mengenai pelbagai isu berkaitan dengan dunia Islam. Lebih dari itu, ikhtiar semacam ini akan makin mendekatkan emosi intelektual, yang selama ini kadang berseberangan. Tanpa kehendak untuk mengungkapkan apa yang berkelebat di benak, kita tidak akan pernah memahami liyan. Perbedaan, bagi saya, tidak perlu dipahami penjarakan. Justeru dengan ketidaksamaan ini, saya makin meyakini postulat yang diungkapkan Georg-Hans Gadamer, filsuf Jerman, yang menegaskan bahwa kita benar-benar memahami sesuatu hal, jika kita memahaminya secara berbeda. Akur?

No comments: