Masjid dan Perubahan

Saya mengambil gambar tersebut dari lantai dua. Kemarin, saya menunaikan sembahyang Jum'at di Masjid Muttaqin. Sebelumnya, saya melakukannya di Masjid Al-Bukhari, 20 menit dari rumah. Tema khotbah pada waktu itu adalah peningkatan mutu aqidah umat. Pengkhotbah masih muda dan bersuara keras terkait bahaya serbuan keyakinan lain. Jamaah tampak tepekur. Manakala, anak-anak kecil tak jarang membuat gaduh. Biasanya, khotib mengingatkan agar anak-anak di tingkat dua tak bising.

Tentu, selain mencermati isi khotbah, saya memerhatikan mode pakaian jamaah. Kebanyakan jamaah memakai kopiah putih, meskipun mereka belum menunaikan ibadah haji. Selain sarung, yang di Malaysia, dikenal dengan kain pelikat, setengah mereka memakai jubah dan serban. Sementara, pekerja dari Pakistan, Bangladesh, dan India mengenakan baju 'takwa' khas mereka. Kebanyakan sarung yang dipakai oleh mereka berjenama Gadjah Duduk, selain itu Atlas, Wadimor, dan Mangga. Ada seorang warga Indonesia yang menutup tubuhnya dengan sarung bermerek BHS, meskipun sudah tampak lusuh, si pemakainya tampak senang dengan kain mahal itu.

Saya sendiri memakain baju koko yang dibeli di kedai depan madrasah ibtidaiyah, tempat saya menghabiskan masa kecil di kampung halaman dulu. Dengan sarung bercap wadimor dan kopiah bersulam benang berwarna 'emas' dan kecoklatan, saya menekuri isi khotbah. Ketiganya tampak berwarna sejalan, coklat dan warna keemasan. Dulu, waktu kecil, saya sekenanya memakai baju dan sarung, tanpa pernah memikirkan keserasian. Mengapa? Karena anak kecil itu tahu bahwa fungsi pakaian itu adalah penutup tubuh, sementara orang dewasa itu berlagak, dengan pakaian yang melekat pada tubuhnya, diharapkan kehadirannya akan menyerlah. Ironik!

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode