Friday, June 06, 2008

Mengunjungi Negeri Gajah Putih

Ibu Rosyidah, mahasiswi PhD Fakultas Farmasi, menelepon saya untuk turut serta bersama-sama para sahabatnya mengunjungi Negeri Gajah Putih. Saya pun berjanji untuk membicarakannya dengan Mas Tauran karena dia juga diminta kesedianya untuk pergi ke negara tetangga. Apalagi yang terakhir pernah menikmati sinar matahari Hat Yai, salah satu propinsi negara yang bergolak ini.

Sayangnya, pada malam hari sebelum kami berangkat ke Thailand, Mas Tauran tidak bersedia karena harus mengerjalan hal lain. Jam 3.50 pagi, saya dengan Pak Suryanto pergi ke Khaleel, setelah sebelumnya, mandi di pagi buta, menunggu jemputan teman-teman yang sedang dalam perjalanan. Akhirnya, kami pun berangkat menembus kegelapan malam dengan mobil Kijang (di Malaysia disebut Unser) dan mengisi bensin sebelumnya di POM Petronas dan merupakan perayaan pertama terhadap harga baru, dari RM 1.92 per liter menjadi RM 2.70. Pak Afrizal, doktor baru dari Indonesia, membawa sang kijang dengan kecepatan sedang.

Kami sampai di perbatasan Siam pukul 7.15 dan memarkir kendaraan dengan membayar RM 4 sehari. Betul apa yang dikatakan supir taksi bahwa antrian bisa memanjang hingga 200an orang. Jika 6 orang teman saya lolos di imigrasi, saya tidak. Petugasnya meminta saya untuk menemui pegawai di kantor, beberapa meter dari konter. Saya pun bergegas dan sang petugas bertanya jurusan yang saya ambil di USM, dan lugas menjawab, Humanities atawa Ilmu Kemanusiaan. Meskipun timbul sejuta tanya karena tidak disebutkan alasan dipanggil ke kantor, saya tak ingin membuang waktu bersitegang, saya berlari kecil menuju teman-teman.

Di pintu masuk Thailand, daerah Sadao, saya antri untuk mengecap paspor bersama teman-teman yang lain. Dibandingkan dengan imigrasi Malaysia, di sini saya tidak merasa nyaman dan yang paling menyebatkan supir mobil van yang akan membawa kami ke Hat Yai, meminta kami menyelipkan RM 1 (kira-kira Rp 2840) di dokumen agar urusannya cepat kelar. Memang, saya harus berdiri lama menunggu giliran. Sepertinya, petugas jaga bertele-tele. Padahal, dia hanya mencap paspor dan mengambil foto melalui webcam yang diletakkan pas di atas meja.

Setelah rampung, baru kami masuk kembali ke dalam van berwarna putih yang dibawa oleh supir berkebangsaan Siam, yang tidak bisa berbahasa Melayu dan Inggeris. Praktis, kami hanya menyebut tempat yang kami tuju, Hat Yai. Di sana, kami turun di pusat kota, pertokoan besar Central. Karena hari masih pagi, mall belum buka. Tepat di depan, Lee Gardens Hotel, kami berdiri dan melihat pedagang kaki lima sedang mengemas dagangannya karena jam berjualan sudah habis.

Ups, ada beberapa perempuan dengan pakaian rapi sedang membersihkan jalan masuk hotel Novotel. Tidak itu saja, mereka juga membersihkan tiang berwarna putih yang terbuat dari logam pitu. Heran, petugas kebersihan tampak bukan umumnya pekerja kasar ini. Mereka memakai celana jeans, rambut berwarna dan kelihatan bukan pekerja biasa. Adakah mereka sebenarnya pekerja hotel jaringan yang dimiliki Perancis ini? Berbeda dengan petugas kebersihan yang sedang menyapu jalan dan trotoar, terdiri dari pekerja kasar umum lainnya. Hebatnya, ada mobil tanki yang menyiram jalan dengan air dan membubuhkan detergen, kemudian para pekerja bertungkus lumus membersihkan tempat itu dengan sigap. Katanya, setiap kamis petugas kebersihan melakukan pembersihan semacam ini dan memang hasilnya tampak lebih kinclong.

Untuk tidak terlalu lama bengong di depan pusat kota, kami pun menaiki angkutan umum (tuk tuk) ke pasar. Di sana, ibu-ibu berburu tas kulit. Anehnya, tas Louis Vuitton hanya dihargai 650 bath (1 bath= Rp 300). Selain itu, ada juga tas buatan YSL. Saya hanya bengong melihat nafsu berbelanja kaum perempuan. Malah, saya dengan sebagian ibu-ibu yang lain harus menunggu seorang ibu yang masih berburu belanja di pasar yang tak jauh beda suasanaya dari Pasar Beringharjo Yogyakarta. Sebelum saya memasuki pasar, kami mampir dulu meneguk air kelapa muda, yang per buahnya seharga 20 bath. Tak beda dengan kelapa muda di kampung saya.

Setelah lengkap, kami pun baru naik angkutan umum, kendaraan Hijet yang telah dimodifikasi untuk minta di antar warung makan yang enak. Sang supir pun menggeber mobilnya menyusuri kota kecil molek itu. Sayangnya, mata kering karena selain disergap asap, lorong jalan kaki tak ditumbuhi pepohonan. Akhirnya, kami berhenti di depan restoran Haji Hamid. Di sana, kami memesan makanan khas Thailand, seperti Tomyam, daging masak merah, sup sayur, dan untuk memanaskan badan saya minta segelas teh panas (teh 0). Baru kemudian, kami menunaikan shalat di loteng restoran itu. Sambil menunggu ibu-ibu selesai, saya duduk di depan restoran sambil menikmati buku Happiness yang ditulis oleh John F Schumacker.

Wednesday, June 04, 2008

Berbagi Sejarah antara Serumpun


Melihat berita New Straits Times tentang manuskrip bertajuk Local history, but viewed from afar (2/6/08), saya segera memfoto kopi untuk dijadikan bahan penelitian yang sedang dijalankan dan sekarang memasuki bulan ke-9. Saya telah menyerahkan dua laporan dan untuk laporan ke tiga, saya ingin memberikan satu makalah yang lebih utuh tentang naskah manuskrip Bahr al-Lahut yang diperkirakan ditulis pada abad ke-12 oleh 'Abdullah 'Arif.

Menurut Siti Mariani SM Omar, direktur pelayanan Malaysiana Perpustakaan Nasional Malaysia, bahwa perpustakaan ini terlibat dalam pengambilalihan manuskrip sejak tahun 1984. Biasanya, pihak pustakawan menilai dokumen, lalu melakukan penawaran harga. Baru-baru ini, mereka membeli sebuah naskah al-Qur'an abad ke-19 dari Australia seharga RM 1,070 (sekitar Rp 3.038.800 dengan kurs rupiah di Money Changer Bukit Jambul RM 1=Rp 2840).

Tambahnya lagi, dia telah memperoleh banyak manuskrip dari Srilanka, Aceh, Thailand dan di pedalaman Kelantan dan Trengganu, dua negara bagian di Malaysia. Bahkan, salah satu manuskrip diperoleh di Sotheby, rumah lelah internasional tertua kedua di dunia di London. Katanya, naskah ini merupakan sedikit manuskrip pertama yang mengandung syair (sajak) Melayu. Ia dibeli pada tahun 1984. Sayangnya, dia tidak menyebut harganya. Jika naskah yang diminati itu tidak boleh dibawa, pustakawan akan meminta dibuatkan dalam bentuk microfilm.

Tapi, pesanan saya versi Bahr al-Lahut dalam bentuk microfilm dari Universitas Leiden Belanda tak bisa dipenuhi karena hilang, meskipun tertera dalam katalog perpustakaan universitas. Namun demikian, saya telah mendapatkan 7 versi dalam bentuk salinan dari manuskrip asli dan ini lebih dari cukup. Sekarang, saya sedang menyalin edisi Melayu yang terjemahannya ditulis dengan huruf Arab pegon dan bahkan beberapa penjelasan malah diungkapkan dalam bahasa Arab. Satu penanda bahwa penerjemahnya memang jago dalam salah satu rumpun bahasa Semitik ini.

Monday, June 02, 2008

Menengok Cerita dalam Gambar


Tak dinyana, saya membuka pendrive dan menemukan gambar ini. Anda pasti susah membacanya jika saya hanya menyodorkan gambar begitu saja, bukan? Saya pun lupa, apa yang sedang saya lakukan? Gambar ketiga dari kiri adalah saya dengan tangan di lekatkan pada dada kiri sambil tersenyum. Tak semua melihat lensa kamera.

Demikian pula, kalau diperhatikan di pojok kanan ada tulisan Cina, siapa pun akan bingung? Di manakah gambar ini diambil? Apalagi tembok itu sangat tinggi dan terbuat dari marmer, demikian pula lantainya. Mungkin, kalau orang yang pernah sampai ke tempat ini akan segera bisa menebaknya.

Ya, kenangan ini manis. Karena kami berlima diundang teman dari kawan baik saya untuk makan di restoran Hotel Equatorial Pulau Pinang. Di sana pun, kami berdiskusi banyak hal. Tak perlu diterakan di sini. Saya memesan daging steak dan segelas cappucino. Sesudah itu, kami pun diajak menikmati buah durian di pinggir jalan menuju Puncak Bukit Balik Pulau. Hampir tak terhitung, berapa biji yang telah saya telan dagingnya. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan, makan durian di bawah pohonnya.

Adakah pengalaman ini akan terulang? Saya pun tak tahu. Bahkan, ketika saya bertanya pada kawan yang mempunyai teman itu, dia pun tak tahu. Tidak mengapa. Cukup sekali, biar ingatan ini kuat terpatri.

Sunday, June 01, 2008

Dosa Saya kepada Kucing Coklat Itu

Tadi pagi, sesudah subuh saya menemukan kucing coklat itu kembali. Dia tampak merayu untuk diajak kembali ke kamar flat. Lalu, saya mencoba menahan pintu lift (bahasa Malaysia pengangkat) agar ia turut serta ke lantai sembilan. Ups, saya ingat bahwa saya sedang menerima tamu dari Medan, yang mungkin tak berkenan dengan kehadiran binatang. Saya berlari kecil dan menutup pintu kamar.

Sebelumnya, saya pertama kali berteman dengan kucing ini beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba, ia mengikuti langkah saya dari lantai bawah. Setibanya di pintu, dia bergeming, tak beranjak masuk. Dengan mengelusnya, kucing itu kemudian tampak tenang dan berkenan masuk ke kamar. Saya membiarkannya dia bermain, melompat dan naik ke meja belajar mencari cahaya di balik jendela. Akhirnya, dia keluar bersama, karena saya mempunyai urusan di luar.

Dua hari yang lalu, dia tiba-tiba telah ada di depan pintu. Saya terkejut ternyata daya ingat kucing coklat ini yang luar biasa. Saya memberi sinyal agar dia masuk, tetapi masih malu-malu. Lalu, saya mengambilnya dan kemudian meletakkannya di karpet. Sekarang, dia tidak sungkan naik ke kasur, saya pun membiarkannya. Padahal dulu, saya sangat anti binatang ini masuk kamar. Lama-lama, dia tampak kuyu, mungkin mengantuk. Eh, dia akhirnya tertidur juga. Saya pun menemaninya dan tertidur.

Kucing coklat yang saya panggil Hermes (dewa Yunani) ini pamit keluar. Kami pun berpisah pada hari itu.

***

Di sepotong Sore itu, ketika saya membuka pintu lift, kucing coklat itu berada di pojokan menahan matanya yang terkantuk-kantuk. Saya memerhatikannya, tapi dia acuh, seakan tak pernah kenal. Padahal, kami pernah tidur bersama. Lalu, dengan lembut saya mengelus kepalanya, tiba-tiba dia melonjak dan berusaha menjilati sarung. Sayang, saya harus pergi ke surau untuk menunaikan shalat jamaah Ashr. Dengan berlari kecil, saya meninggalkannya. Khawatir, dia mengikuti saya hingga ke tempat sembahyang.

Sesudah berjamaah, saya pun kembali dan berharap cemas apakah kucing itu masih ada di lift. Sayangnya, dia telah beranjak pergi. Namun, saya masih menyisakan harap bahwa ia akan menunggu di depan pintu kamar, ternyata juga tak kelihatan.

***

Di sebuah pagi yang lain (02/06/09), sekitar 10 pagi, kucing coklat itu tiba-tiba muncul dan tak ragu lagi memasuki kamar. Saya membelai kepalanya, dia tampak riang. Saya bercakap dan dia diam. Karena saya harus keluar, terpaksa dia pun mengikuti. Tapi, dia berjaga di depan pintu, tak mau mengikuti langkah saya. Ya, nanti jumpa lagi ya?


Friday, May 30, 2008

Menjelang Kongres PPI Malaysia


Esok, perhelatan kongres Persatuan Pelajar Indonesia Malaysia ke-10 akan digelar. Jika tidak ada aral melintang, acara tahunan ini akan dihelat hingga 1 Juni 2008 di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Tepatnya di Aula Abdullah Mohammad Salleh. Menurut Mas Widdy Mubarak, human kongres, acaranya akan dimulai jam 8 pagi. Satu ikhtiar yang bagus untuk menunjukkan semangat, menggelar acara di awal pagi.

Saya menaruh minat dengan pergerakan mahasiswa Indonesia di tanah jiran ini. Bahkan, saya pernah menulis makalah untuk sebuah konperensi internasional di Malang yang membahas peran PPI dalam hubungan dua bangsa, Indonesia dan Malaysia. Kebetulan di acara ini saya juga berjumpa dengan beberapa mahasiswa yang juga turut serta, seperta dari UKM dan UIAM. Di sana, malah saya berjumpa dengan teman adik kelas di Jogja.

Dengan pengalaman dua kali mengikuti kongres, saya telah menyelami karakter perhelatan mahasiswa Indonesia di tingkat nasional di sini. Seperti perhelatan yang lain, pemilihan ketua adalah sesi yang paling menguras perhatian dan tentu saja disertai kasak-kusuk yang melibatkan emosi, ideologi dan tak jarang solidaritas etnik. Pada Kongres ke-8 di Universitas Teknologi Malaysia, Skudai Johor, saya tidak menemukan pertarungan ideologi yang begitu kuat seperti yang ke-9 di Universitas Utara Malaysia, Sintok Kedah. Pada yang terakhir, saya menemukan aroma mobilisasi ideologi pelbagai kelompok, NU, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera dan independen.

Saya memprediksikan pada kongres besok di Universitas Kebangsaan Malaysia, PKS akan menggolkan calonnya karena didukung oleh kekompakan pegiatnya. Meskipun, calon dari Universitas Malaya yang dijaring melalui konvensi akan memberi perlawanan yang sengit karena mencoba untuk menggunakan keterikatan kelompok ideologis tradisional dan modern serta mencoba menjaring dukungan dari cabang dari Universitas atau kolej swasta. Saya lihat cabang-cabang dari universitas Swasta akan datang sebagai peserta pasif seperti sebelumnya, tanpa mampu menyodorkan anggotanya untuk turut bertanding meramaikan pesta demokrasi ini. Maaf, jika pandangan ini dianggap terlalu peyoratif, tetapi sekaligus sebuah pengakuan bahwa kehadiran mereka tetap penting.

Sementara Universitas Sains Malaysia, tempat saya belajar, telah diplot ke calon dari kelompok yang didukung partai tertentu (maaf jika salah!), padahal sebelumnya saya maju di Kedah untuk membelajarkan adik-adik bertarung di ruang yang lebih besar. Tradisi menegaskan bahwa selalu saja ketua PPI Malaysia didominasi oleh 3 universitas besar di sekitar Kuala Lumpur, Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Malaya. Demikian pula, Mas Aliyuddin Syah, juga mencoba mencairkan kebekuan dengan turut serta mencalonkan diri, meskipun suaranya lebih baik daripada saya, dengan tambahan satu utusan (6 orang) sehingga perolehannya 12 suara. Keinginan untuk membentuk aliansi universitas di luar dominasi KL, seperti Johor, Perak, dan Pulau Pinang bubrah di tengah jalan.

Terus terang, pertarungan kali ini akan lebih seru karena posisi penting di PPIM tahun ini dianggap sekaligus pertarungan menjelang pemilihan umum tahun 2009. Saya masih belum melihat apakah Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa yang mempunyai cabang istimewanya di sini telah bertaruh untuk memenangkan pertandingan ini. Bagaimanapun, kehadiran mereka tetap bisa diterima, dengan catatan tidak bermain kasar. Namanya juga usaha.

Bagaimanapun, kongres bukan tujuan dari sebuah perkumpulan, melainkan alat untuk meraih tujuan bersama. Oleh karena itu, semua peserta harus memikirkan kembali apa tujuan dari PPI agar kegiatan ke depan makin mengukuhkan eksistensi sebagai garda terdepan dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi mahasiswa dan warga Indonesia di negeri jiran. Tanpa pernah merumuskan agenda jangka pendek dan panjang, kita hanya akan menjadi perkumpulan yang mengulang-ulang acara seremonial belaka. Celakanya, ia menghabiskan begitu banyak uang, baik yang diperoleh dari pemerintah RI melalui KBRI Malaysia dan sponsor.

Thursday, May 29, 2008

Seri Sejarah Lisan ke-4

Tadi saya terlambat mengikuti Seri Sejarah Lisan ke-4. Ruangan Dewan Persidangan Universiti (DPU) telah dipenuhi peserta hingga sebagian harus berdiri atau duduk di kursi tambahan. Untungnya, saya kenal salah seorang panitia yang bekerja di penerbit Universitas, Encik Khairurrahim dan dia mengambilkan kursi untuk saya. Saya lebih konsentrasi untuk menulis apa yang disampaikan oleh Tan Sri Dato Seri Musa Mohammad, mantan Naib Canselor (sejajar dengan Rektor).

Di buku kecil itu saya mencoba menyerap apa yang dikisahkan oleh bekas menteri pendidikan ini. Katanya, pengabdiannya selama 13 tahun sebagai rektor adalah bukti bahwa dia diakui kapasitasnya. Keberhasilannya membawa USM dikenal di dunia dan melanjutkan warisan falsafah pendidikan rektor pertama, Hamzah Sendut adalah sumbangan yang lain. Pendekatan antardisiplin (interdiciplinary approach) dalam pendidikan sangat penting, agar tamatan universiti dalam taman ini memahami persoalan lebih holistik adalah rintisan rektor pertama yang sampai hari ini masih diabadikan.

Jika sebelumnya seri sejarah lisan dihelat di ruangan seminar Penerbit, untuk kali ini panitia sengaja memilih tempat di ruangan yang lebih luas, yaitu Dewan Persidangan Universiti. Untuk keempat kalinya saya hadir di sini. Yang terakhir adalah ketika saya mengikuti kuliah umum tasawuf oleh James Morris, dosen di Universitas Boston. Selain itu, acara ini juga banyak diikuti oleh para dosen, berbeda dengan sebelumnya yang kebanyakan diikuti oleh para staf. Sesuatu yang jarang terjadi di Indonesia, pegawai tata usaha mengikuti seminar.

Sayangnya, mahasiswa Indonesia tak ada yang hadir. Padahal saya telah mengirimkan informasi di atas lewat email dan yahoo messenger. Mungkin, kiriman ini agak mendadak karena dikirim pagi hari sebelum acara ini dimulai pada jam 9. Tapi, respons dari Mbak Muthia bahwa saya diharapkan untuk membuat semacam laporan di milis adalah satu permintaan yang menantang. Dalam bentuk feature, ikhtisar ini akan lebih mudah untuk dibaca oleh mahasiswa.

Wednesday, May 28, 2008

Hemat adalah Kata Kunci


Saya sengaja memilih judul di atas untuk membelajarkan bagaimana mengendalikan diri dalam hal memenuhi keperluan sehari-hari. Tidak harus pelit, tetapi harus menjaga pengeluaran. Tadi saya sempat membaca buku The Rules of Wealth yang menyatakan bahwa jika kita berpikir bahwa uang yang akan membuat bahagia, makan kita tidak akan mendapatkannya. Buku ini saya ambil dari rak pameran dan membawanya ke meja yang kebetulan ada dua teman Indonesia, Tauran - mahasiswa Master dalam bidang ilmu politik dari Malang dan Amien, bidang matematik dari Medan.

Saya bilang bahwa kita perlu makan di Indah Kembara karena di sana murah dan kalau pun mau makan di warung di luar, kita seharusnya pergi ke warung Jawa yang menyediakan menu makanan ala Indonesia, seperti bakso, pecel lele, pecel ayam, sate kambing dan rawon. Malaysia telah cukup kaya untuk kita bantu dengan membeli produknya. Toh, sebenarnya kehadiran mahasiswa Indonesia di sini telah membantu negara tetangga ini menarik 'investasi'. Apalagi, menurut berita New Straits Times (26 Mei 2008), Indonesia menempati peringkat tertinggi dari jumlah mahasiswa asing yang belajar di Malaysia. Disusul oleh Cina, Bangladesh, Pakistan dan kelima adalah Iran.

Sayangnya, kantin mahasiswa yang terkenal murah itu tutup dan serta merta saya melanjutkan perjalanan ke kamar untuk membuat mie+telor dan memasak nasi. Ups, ternyata persedian mie telah habis. Dengan langkah gontai, saya ke bawah untuk membeli mie di kantin, siapa tahu buka. Maklum liburan! Syukur, buka. Saya membeli mie Supermie keluaran Indofood, Indonesia.

Menjaga Bumi

Memenuhi undangan Mas Zuhri Humaidi , saya berbagi etika lingkungan dengan mahasiswi dan mahasiswa Ma'had Aly Darullughah Wal Karomah, K...