Tuesday, June 09, 2020

Kirim Buku

Kemarin, saya pergi ke POS dengan Zumi untuk menanyakan ongkos kirim buku ke Petaling Jaya, Kuala Lumpur. Pegawai menghitung dengan berat 500 gram diperkirakan Rp 341 ribu.

Tentu, ongkir sebesar itu berkali lipat dari harga buku yang akan diposkan. Tetapi, peminat melalui pesan messenger tak keberatan. Saya tentu senang dan jauh lebih seronok karena Zumi belajar bagaimana wirausaha bekerja.

Lihat! Anak kecil itu memakai helm, masker, dan jaket. Ia mungkin tak sepenuhnya memahami, tetapi minatnya jelas tumbuh bersamaan dengan pelaziman. Kemarin sore, tiba-tiba ia menawarkan mau makanan apa? Dengan menjadikan sampul buku yang sobek sebagai nampan, ia meletakkan kentang goreng, burger, dan mainan. Jelas! Ini bayangannya tentang McDonald.

Betapa kuat pesona kedai makan asal Amrik itu hinggap di benak seorang anak. 

Friday, March 13, 2020

Kenangan

Ketika belajar di Universitas Sains Malaysia, saya bergiat di perkumpulan sastra, Karyawan, yang dikomandani oleh Prof Sohaimi Abdul Aziz. Betapa menyenangkan, saya bisa mengurus kedatangan Putu Wijaya ke Pulau Mutiara. Penulis Zig Zag ini membuka cakrawala politik susastra.

Salah satu program yang membuat kami teruja adalah ketika Karyawan menyelenggarakan acara Malam Rendra di Pusat Budaya. Orang tua angkat kami dan anaknya turut hadir. Pakcik Yusof dan Makcik Sri adalah kakek dan nenek Biyya dan Zumi di Semenanjung. Ayah angkat kamilah yang melakukan tahniq masa murid SD Namira ini menginjak usia tiga bulanan.

Biyya ingin berlebaran di Pulau Pinang nanti. Semoga pandemik Covid-19 segera berakhir. Kakak Zumi akan segera memeluk Maktuk apabila bertemu. Pemandangan ini selalu membuat kami terharu. Betapa ikatan emosional ini kuat dan tak akan pernah tamat. Abadi, seperti ketulusan keduanya dalam menyemai hubungan kekeluargaan. 

Tuesday, January 28, 2020

Persahabatan

The highest form of friendship is friendship of virtue. This type of friendship is based on a person wishing the best for their friends regardless of utility or pleasure. ~ Aristotle, 384-322 SM

Kata-kata di atas (bisa) diwakili oleh gambar ini. Seorang karib mengirim sebuah gambar ke pesan Whatsapp. Kopi dan rokok itu bukan tujuan. Ia membaca buku-buku rohani dan mengikuti kegiataan spiritual keagamaan. Setelah di puncak, benda-benda itu tanggal. Katanya, saya mesti turun lagi untuk hidup. Lagi-lagi, ia bolak-balik antara bumi dan langit.

Mengingat tak berhasrat mengalami tragedi Sisyphyus, mengulang-ulang hal yang sama, ia menyesap kopi dalam suasana yang berbeda-beda. Seperti Heraklitos, ia merasa bahwa sesapan itu tidak sama, seperti ketika ia berdiri di sungai seraya menikmati aliran air yang berbeda.

Lagipula, dengan cangkir buatan China ia telah menyatukan waktu dalam satu regukan, masa lalu, kini, dan masa depan. Cawan itu adalah penanda kampung halamannya, yang sekarang dinikmati dengan penuh khidmat. Ia juga akan selalu ke sini untuk menikmati hari tua nanti. Ketika duduk dengan sentosa ia telah menyambut masa senjanya. Anda juga akan merengkuhnya. 

Sunday, January 12, 2020

Kenangan

Biyya meminta merayakan ulang tahunnya dengan mahasiswa. Kami pun senang karena hubungan pegawai asrama dan pelajar terjalin akrab.

Untuk kedua kalinya, dua hari yang lalu Biyya bilang bahwa kalau tidak bisa sekolah di UK, kakak Zumi mau melanjutkan pelajarannya ke UUM.

Mungkin rumah pegawai ini asrama belum berubah. Tapi, kawasan ini diharapkan kekal dengan sungai, pohon, dan keranya. 

Friday, January 10, 2020

Menunggu Angkutan Sekolah

Saya dan Zumi mengantar kakak ke pinggir jalan untuk menunggu angkutan sekolah. Setiap jam 6 pagi, kami bertolak dari rumah dan duduk di depan Gudang Sampoerna.

Biyya membaca Deathly Hallows JK Rowling. Buku ini adalah hadiah dari gurunya di UUM IS, Miss Galilee, asal Filipina. Sementara Zumi akan menggambar rumah, dinosaurus, pohon, dan mobil.

Saya membaca Freud untuk memahami keselip lidah. Maklum, Benjamin Netanyahu menyebut Israel adalah negara nuklir.  Kebiasaan ini berjalan setiap hari. Sekali waktu, saya melemparkan pandangan ke jalan, yang dialiri oleh pelbagai jenis kendaraan. Betapa para supir itu telah bekerja, sementara sebagian yang lain mungkin masih lelap. Setelah Pak Wardi datang, kami pun berdiri dan kakak masuk mobil. Saya dan Zumi melambaikan tangan.

Tuesday, December 24, 2019

Pondok

Kami sering mengajak Biyya ke pondok agar si sulung ini terbiasa merasakan aroma dan suasana institusi pendidikan berkonsep asrama. Kini, kakak sepupunya, yang dulu belajar di Al-Amin, sedang menyelesaikan S1 Sumberdaya Manusia di Universitas Negeri Surabaya.

Setelah SD, kami sedang mencari pondok yang sesuai dengan minat murid Sekolah Dasar Namira ini. Dengan mempersiapkan sejak awal, kami berharap kakak Zumi ini turut menyesuaikan dengan keadaan sekolah yang menempatkan siswa di asrama.

Apapun, pendidikan itu dimulai dari kemampuan memahami kata, sebab bahasalah yang memungkinkan penuntut ilmu menyingkap dunia. Pondok tidak lagi menghabiskan waktu mempelajari ilmu alat (nahwu) yang bertele-tele. Perlahan tapi pasti, penggunaan bahasa mengandaikan praktik, bukan hanya teoretik. Santri didorong untuk menggunakan bahasa Arab dan Inggris sehari-hari, baik di penginapan maupun ruang kelas. 

Tuesday, November 12, 2019

Berbagi Izutsu dengan Mahasiswa

Sehari sebelum acara kuliah umum digelar, saya minta Ke Lesap untuk menjemput mengingat tanggal 2 November Parebaan hujan deras. Dalam hitungan detik, luluasan UIN Sunan Kalijaga tersebut memberitahu bahwa Pak Anwar akan menjemput saya ke rumah.

Di pagi hari H, Pak Anwar menelepon bahwa alumnus Al Azhar ini berada di depan Toko Hajjah Hamidah. Saya pun bergegas mengingat acara akan dimulai jam 9. Perjalanan dari Ganding ke Pangantenan sangat mengasyikkan. Kami berdua bicara banyak isu, seperti pengalaman belajar dan kegiatan di kampus. Sesampai di kampus STIU, banyak teman menyambut. Sebagian besar lulusan universitas yang berada di Kuala Lumpur. Pak Dimyati menyelesaikan S2 di Malaysi dan S3 di Turki. Ia pun bercerita tentang polemik pembaruan Islam di koran Republika, yang dipantik dari opini Fahmy.

Tak lama kemudian, kami menuju ke lokasi. Setelah acara sambutan dan kuliah, sesi tanya jawab sangat mengujakan. Salah seorang peserta menegaskan bahwa Alqur'an sakral dan universal. Mengapa pendekatan untuk memahaminya mesti dibatasi? Pertanyaan ini berasal dari penegasan Toshihiko Izutsu bahwa Kritisisme Bibel (Hermenutik) tidak bisa digunakan untuk memahami kitab Alfurqan. Saya pun menimpali bahwa kaidah apapun perlu ditimbang. Sejauh tidak menabrak prinsip-prinsip dasar kitab suci, seperti kalam ilahi, maka kajian terhadap firman Tuhan bisa dinilai dan dihargai. 

Menengok Dunia Luar

Biyya dan teman-temannya, Vanda, Rangga, dan Darel mengunjungi pameran pendidikan di  Surabaya. Mereka hendak melihat dari dekat tawaran lem...