Monday, June 06, 2022

Nasi Pecel Kediri

Setelah mengantar anak ke sekolah pada pukul 6.30, kami berdua menikmati nasi pecel Kediri di Jalan Kraksaan, depan penjara. Ini adalah pertama kali saya sarapan di sini, meskipun sudah berkali-kali melewati warung ini. 

Di tembok, saya melihat pengumuman bahwa harga bumbu pecel satu cub (cup?) sebesar Rp 17 000 karena bahan baku mengalami kenaikan semua. Jadi, melonjaknya harga kebutuhan sehari-hari karena keinginan bahan itu sendiri, bukan? Jadi, fundamentalisme pasar bekerja. 

Selain itu, ada poster nama warung yang disertai iklan penawaran mobil Mitsubishi secara dicicil. Beberapa penanggalan juga menempel di dinding, seperti almanak perguruan tinggi dan toko yang menjual alat jahit. Sejauh saya lihat, mungkin seluruh bahan dari sarapan ini dihasilkan oleh penghasil lokal, beras, telur, kacang, dan lain-lain. Mungkin, kedelai saja yang diimpor dari luar.  

Bedah Buku

Ketika membahas buku Mas Aksin Wijaya, Fenomena Berislam: Genealogi dan Orientasi Berislam Menurut Alqur'an, kami membawa pikiran sendiri-sendiri. Bila tafsir maqashidi secara teologis lebih dekat pandangan Maturidiyah, saya melihatnya prinsip-prinsip utama itu lebih sejalan dengan Mu'tazilah.
Tetapi, perbicangan ini hanya berhenti di ruangan Gedung Kuliah Utama UIN KHAS Jember. Mungkin, kita perlu membawakan pemikiran keagamaan ke khalayak dengan meminjam gaya dan langgam Kiai Sattar, Bondowoso, yang membawakan pesan keagamaan dengan riang dan renyah. Apakan tidak, pagi ini melalui siaran radio Bayu Gita FM sang kiai mengulas pola pengasuhan anak seraya mendendangkan lagu Keramat Bang Haji.
Pendek kata, kita mesti memikirkan agar pesan-pesan etis itu bisa disampaikan kepada lebih banyak orang tanpa membuat mereka mengernyitkan dahi.

 

Saturday, June 04, 2022

Selamat Jalan Kawan


Hari ini, saya mendapatkan kabar di grup WA Akidah Filsafat angkatan 92 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bahwa Haji Romli menuju ke haribaan Tuhan. Innalillahi wainna ilaihi raji'un

Foto di sebelah adalah sebagian potongan ingatan kami. Kala itu, kami pergi berpelesir ke candi Borobudur Magelang dengan naik sepeda motor. Dalam perjalanan pulang, hujan turun deras sehingga kami basah kuyup .

Saya juga masih ingat dengan baik tatkala menginap di kosnya di Karangnongko Maguwoharjo dulu. Pagi-pagi seusai berjamaah di surau terdekat, kami bercengkerama sambil menikmati suasana pagi yang segar dan kokok ayam yang bikin jembar. Kedekatan kami juga terbukti ketika saya menjadi juru kampanye sosok baik ini dalam pemilihan umum mahasiswa. Semoga kamu tenang di alam sana dan keluarga yang ditenggalkan tabah. Amin. 



Kudapan

Kemarin, saya berkunjung ke rumah teman di Tanjung. Di sini, saya dan kawan lain dari Tasik menikmati suguhan berupa Ketan Duren (baca: Durian). Namun, saya membatasi diri karena menjaga asupan agar kolesterol tidak naik. 

Sementara, teman dari tempat kelahiran Rhoma itu minta izin untuk merokok. Saya pun bilang, sebagai orang yang pernah merokok saya masih bisa toleran dengan asap dari satu perokok, tetapi kalau lebih, saya tidak nyaman dengan bau tembakau yang dibakar. Tak jarang, saya merasa pusing seusai mengikuti kegiatan yang dihadiri oleh banyak orang yang menghembuskan asap. 

Ia pun mengeluarkan kotak yang berisi rokok Sehat Tentrem, yang dihasilkan oleh sebuah pondok di Jombang. Katanya, tidak hanya mendapatkan tambahan herbal, ST juga mengandung bacaan selawat. Setelah dicek di Google, dua produk lokal ini telah dijual secara daring. Saya membayangkan pada masa yang akan datang, produk rumahan akan menjadi kebutuhan banyak orang berkat kemudahan aplikasi pembelian secara daring.  

Friday, June 03, 2022

Wedang Uwuh

 

Saya menikmati minuman ini untuk pertama kali di ruangan Universitas Nahdaltul Ulama Indonesia, Jakarta. Sebelum acara bedah buku, Mas Ngatawi Al-Zastrow menyuguhkan wedang uwuh pada para tamu. 

Kemarin, di pasaraya Trans Mart Jember, saya membeli untuk kembali merasakan kayu secang, jahe, cengkeh, dan gula batu. Melihat produk rumahan di sini kita seakan-akan menemukan harta karun karena sepanjang mata melihat, begitu banyak barang dihasilkan oleh pabrikan. 

Di sore tatkala matahari bersinar hangat, saya menyeruputnya di teras sambil mendengarkan lagu dangdut melalui radio Krisna FM Lumajang. Dengan membaca Travels with Epicurus: Meditations from a Greek Island on the Pleasures of Old Age, dunia dilipat sedemikian rupa. Batas-batas luruh karena kita tidak lagi terbelenggu oleh satu kekuatan dominan, seakan-akan semuanya berjalan secara harmonis. Istri turut merasakan rasa penuh warna dari wedang ini.

Setiap bab dari buku ini dimulai dari sebuah kutipan seorang filsuf. Bab enam yang membahas tentang Stoicisme dan Masa Tua dibuka dengan perkataan Seneca bahwa obat terbaik dari kemarahan itu adalah penundaan. Ya, di tengah tekanan dari banyak hal dalam kesehariaan, emosi kadang mudah meledak. Dengan menundanya untuk tidak meluahkan menjadi amarah kita telah mengobatinya. 

 

Thursday, June 02, 2022

Bersiap Pensiun

Saya terbangun karena si bungsu mengigau. Sambil menikmati keroncong dari radio Krisna FM Lumajang, saya membuka kembali buku ini sebagai persiapan pensiun. Kata Klein, di usia senja, rasa bosan adalan ancaman sebab si tua mempunyai banyak waktu, tetapi tidak ada yang dikerjakan.
Mudah, kata penulis, untuk atasi soal ini, yakni membaca A Philosophy of Boredom oleh Lars Svendsen, filsuf Norwegia. Aha!
Untuk menyelidiki masalah kebosanan adalah mencoba memahami siapa kita dan bagaimana kita cocok dengan dunia pada titik waktu tertentu ini (Svendsen, 2008: 7). Klise! Mengenal diri sendiri cukup membuka KTP, bukan? Hehe

Tetapi, akhirnya penulis mengajak kita melihat kebosanan dari banyak disiplin, seperti filsafat, kesusasteraan, psikologi, teologi, dan sosiologi. Semoga dengan membaca banyak sudut pandang ini, kita tidak akan merasa bosan lagi.

Wednesday, June 01, 2022

Dua Kakak Adik

Si bungsu selalu ingin menang sendiri. Setiap anggota keluarga harus mengikuti apa maunya. Malah, ia pernah bilang, in this house, I am the boss. Tidak, kata saya. Tuhan itu bos. Lalu, ia bilang, That's whyI am the God

Sepulang dari liburan, keduanya sakit. Mungkin, kelelahan setelah di Jember keduanya berenang dan berhujan-hujan membuatnya masuk angin. Alhamdulillah, keduanya sudah pulih, meskipun perlu waktu untuk bergiat seperti sedia kala. 

Ibunya cemas tatkala melihat Zumi lemas. Untungnya, dr Syamsul membesarkan hati kami bahwa mungkin ini faktor makanan. Ia memberikan sirup anti-mual. Kami sempat membelikan keduanya ayam geprek Sa'i agar mau makan. Ternyata, seenak apa pun yang diasup sebelum ini, tatkala sakit, keduanya tak menunjukkan berselera. Selagi sehat itu nikmat, kesyukuran ini mesti diungkap. 
 

Ambil Rapor

Setiap orang tua tidak hanya mengambil buku nilai anak kelas 5, tetapi juga mendengar mereka mempresentasikan proyek di depan kelas. Guru ti...