Wednesday, April 24, 2013

Politik Pengetahuan

Diskusi Peta Politik Menjelang Pemilu ke-13 di Gedung Konvenseyen A Universitas Utara Malaysia menghadirkan Prof Aidid, Dr Azizuddin dan Prof Bridget Walsh. Pembahasan isu ini melahirkan pengetahuan, meskipun di lapangan, kita akan banyak menemukan cacian dan makian.

Dalam ruangan yang berAC ini, peserta bisa berhati panas, namun kepala tetap dingin. Dengan uraian yang jernih, politik hakikatnya perebutan kekuasaan dan sumber-sumber ekonomi. Prilaku politik hakikatnya menggambarkan keadaan masing-masing individu. Tak ayal, untuk menarik pemilih, setiap calon wakil rakyat melalui manifesto partai masing-masing menawarkan kesejahteraan.

Dengan demikian, setiap orang akan menyadari bahwa politik itu tidak lebih sebuah drama dengan pemain, sutradara, skenario dan dialog yang berkelindan melahirkan sebuah cerita. Hanya saja alurnya (plot) bisa menyerimpung dari rancangan awal.  

Monday, April 15, 2013

Catur

Kaki saya terhenti. Ketika melewati Perpustakaan Hamzah Sendut, USM, saya melihat mahasiswa sedang bermain 'catur'. Saya pun bertanya pada salah seorang seorang dari mereka. Meskipun dengan singkat, dia menyebut tak ubahnya catur, tentu saya harus memastikan nama buah catur dan fungsi.

Karena harus segera menemukan buku di perpustakaan,  saya pun berlalu dan pada suatu saat nanti, saya bisa belajar permainan ini. Di dunia ini, kita tak lagi menyoal logika, siapa yang dipermainkan siapa, karena kita 'telah' bersepakat untuk bekerja dengan kesepakatan aturan. Ketika melanggar, permainan tak lagi bisa dilakukan.

Oleh karena itu, hidup itu permainan. Kita harus bersetuju untuk menjalan peraturan tertentu. Kalau tidak, hidup ini akan melaju kencang dan akhirnya menubruk apa saja, sehingga tak 'bermakna'. 

Thursday, April 04, 2013

Makanan atau Bacaan

Kalau kita lapar, masihkah kita memilih bacaan? Muhyidin M Dahlan, kerani IBoekoe,  lebih memilih yang pertama dengan membelikan uang yang ada di kantong untuk sebuah buku, malah kadang kehabisan uang karena lebih senang memburu kitab pengetahuan. Tak semua orang bisa melakukan hal ini, termasuk saya.

Tentu, Muhyidin tidak sedang mengabaikan tubuh, tetapi dia sadar bahwa makanan rohani, bacaan, itu jauh lebih penting dirawat daripada menghabiskan waktu dengan wisata kuliner di sekujur tubuh negeri. Tapi, bukankah yang terakhir adalah semacam kesenangan banyak orang untuk menunjukkan kecintaan pada makanan tradisional, seperti yang sering ditulis oleh Anas Urbaningrum, mantan ketua umum Partai Demokrat, dalam akun Twitternya?

Bagaimanapun, kita tidak ingin terperangkap pada pilihan yang ekstrim. Dua dimensi hidup ini, jiwa dan raga, mempunyai keperluaan masing-masing yang harus dipenuhi. Setelah sarapan, kita akan mengisi pikiran, perasaan dan batin kita dengan asupan yang bukan material. Untuk itu, hari ini saya menyusuri buku Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram oleh Dr H J De Graaf dan Dr TH G TH Pigeud, edisi terjemahan. Di sini, saya ternyata bisa menelusuri asal-muasal nenek moyang saya, yang berpaut dengan banyak cerita, kisah, dongeng dan mitos. Hakikatnya, asupan jiwa itu luas, dan kadang buas. 

Monday, April 01, 2013

Sunyi itu Nyeri

Eksistensialisme dikenal sebagai jalan yang merayakan kebebasan pribadi. Tak ayal, ia sepi. Adakah betul sunyi itu nyeri? Muhammad Iqbal, filsuf eksistensialis, pernah bertutur pada sang anak, Javid, bahwa ia merasa sepi dan berharap anaknya tak mengikuti jejak sang ayah yang dirundung kesunyian.

Gambar buku ini telah melukiskan dengan sempurna orang yang menatap keluasan, namun ia menikmati kesendirian dan membelakangkan orang ramai. Apakah kita mau menjalani hidup seperti orang ini? Mungkin, betapa pun kita hidup bersama, kadang kala kita dibekap oleh keseorangan. Ada ruang yang tak bisa ditundukkan oleh siapa pun, bahkan tentara khusus sekalipun.

Ketika eksistensialis ingin meretas penghalang kehidupan, absurditas, ia sebenarnya sedang bermain-main dengan kecelaruan yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Bukakah rasa cemas (angst) itu diperoleh dari pengalaman hidupnya yang dibentuk oleh kepercayaan masyarakat yang ia membesar di dalamnya? Bukankah ia bebas karena ada aturan yang ditolaknya? Bukankah ia bosan karena secara sadar atau tidak ia terlempar dalam rutinias kehidupan khalayak? Diam-diam, betapa pun orang lain itu ancaman dan neraka, ia memerlukannya penanda itu untuk menempel kode pada jidatnya. 

Monday, March 25, 2013

Rokok dan Absurditas

Status Facebook saya hari ini adalah mengapa banyak orang memuja sains, tetapi pada waktu yang sama mereka menikmati rokok? Inilah kehidupan yang absurd. Untuk keluar dari absurditas, kita segera berhenti menyedot asap. Ketenangan itu ada di hati, bukan dari luar tubuh kita. Perokok itu adalah dukun yang mendatangkan kegaiban dan keajaiban dengan membakar kemenyan. 

Negeri kami, Madura, menghasilkan bahan rokok Dji Sam Soe, tetapi warganya tak mampu membelinya. Anehnya lagi, perusahaan membuat rokok yang mahal, namun mereka membeli tembakau dengan harga murah. Kita harus segera merawat naman lain, seperti cabai hutan, yang harganya jauh lebih bagus dibandingkan dengan daun emas. 

Oleh karena itu, bersatulah kaum tani! Kita lah yang menentukan hidup kita, bukan orang lain. Mereka adalah penumpang gelap yang sering menggunakan nama kita untuk meraup kepentingan diri sendiri.

Sunday, March 24, 2013

Mengubah Masyarakat Melalui Kampus

Hampir sebulan berlalu, saya masih menyimpan dengan baik kehadiran orang nomor 1 di Sumenep ke Universitas Utara Malaysia. KH A Busyro Karim  (bersongkok hitam) diundang oleh Fakultas Hubungan Internasional UUM untuk memberikan pidato ilmiah tentang otonomi daerah.

Secara normatif, lulusan IAIN Sunan Kalijaga ini berhasil menyodorkan halangan, peluangan dan cara untuk keluar dari ketidakberdayaan daerah terhadap pusat kekuasaan yang berhak menentukan besaran kucuran dana. Lelaki kelahiran 1961 ini pun bercerita keberhasilannya menyediakan layanan gratis untuk kesehatan masyarakat, tanpa harus 'ribet' dengan kartu sehat ala Jokowi. Dengan hanya berbekalkan Kartu Tanda Penduduk, warga Songenep bisa berobat dan bahkan pelayanan cuci darah (hemodialysis) juga disediakan.

Lalu, adakah Kabupaten dengan APBD terbesar ke-5 di Indonesia ini telah berhasil menyediakan pendidikan yang baik bagi masyarakatnya? Apakah Pemerintah Daerah bisa membantu petani yang kerap masygul pada pabrik rokok karena ditelikung? Mari berhitung. Belum lagi, infrastruktur yang amburadul telah mengganggu kenyamanan masyarakat, padahal Sumenep berlimpah uang dengan adanya 10 perusahaan minyak dan gas. Masih ingatkah kita beberapa hari lalu kota dihantam banjir? Pendapatan 25 Miliar pertahun dari migas terlalu kecil. Untuk itu, bersatulah warga Songenep untuk menuntut hak royalti lebih besar dari perusahaan itu! 

Tuesday, March 19, 2013

Menanamkan Nilai Melalui Cerita

Lomba bercerita ini adalah kegiatan yang digelar oleh panitia Pesta Buku UUM. Di sebelah area panggung, beberapa tapak penerbit buku memamerkan karya-karya dari pelbagai disiplin keilmuan.

Sejenak saya duduk di kursi untuk menikmati kisah yang dibacakan oleh anak-anak Sekolah Dasar (atau di Malaysia disebut Sekolah Rendah). Cerita Sang Kancil dan Tali Pinggang Sakti adalah salah satu judul cerita yang menarik untuk disimak. Meskipun mereka hanya menghapal, namun secara tidak langsung nilai-nilai yang ada dalam fabel tersebut bisa digunakan untuk mengajarkan anak-anak tentang moralitas.

Menariknya, salah seorang murid tak bisa mengingat cerita, sehingga dengan polos ia menghentikan penceritaan dan kembali ke pangkuan ibunya. Penonton pun tak bisa menahan tawa. Saya pun sempat memerhatikan salah seorang peserta yang membawakan kisah dengan cemerlang. Tidak hanya gaya penceritaan yang enak didengar, ia juga memeragakan gerak tubuh yang sesuai dengan isi cerita. Hakikatnya, cerita itu adalah alat untuk mengurai gagasan dengan indah. Kita bisa memahami ide filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre melalui novel ciptaannya, The Age of Reason. Jadi,  karya novel dan sejenisnya tidak bisa dipandang rendah. Karya fiksi apa yang Anda pernah baca?

Merenung Keseharian

Dengan membaca kembali buku Falsafah Harian ini, saya dapat menimbang saran teman-teman yang telah membahas tulisan, seperti apakah pijakan ...