Thursday, December 17, 2020

Alpokat

Saya dan Zumi membeli sekilo buah favorit ibunya pada Pak Rahman. Ini adalah warung ketiga yang menjual buah-buahan. Satu toko yang bersebelahan dengan kedai cukur tutup, sementara yang berada di depan penjuang sayur masih bertahan.
Di sepanjang jalan Tanjung ini, ada banyak toko, seperti Viki, tempat saya membeli bahan-bahan kue, yang menjadi cermin dari kegiatan sehari-hari dan kebutuhan warga, koperasi BMT Tanjung tempat banyak orang untuk bekerja sama.
Tentu, secara umum, para ahli ekonomi yang berada di kampus tidak hanya melihat ini soal transaksi, tetapi juga lebih jauh soal mazhab. Adakah prilaku warga menjadi bayang-bayang dari sistem yang lebih besar atau punya pandangan sendiri untuk mengatur produksi dan konsumsi.

Nah, Biyya minta untuk dibelikan susu cair coklat agar bisa menikmatinya. Buah ini mengingatkan saya pada teman baik di UUM, Encik Massudi Mahmuddin, yang memberikan setas alpokat yang diambil dari pohon di belakang rumah.

Saturday, October 31, 2020

Laut Bercerita

 

 

Biyya mengambil novel Laut Bercerita dari rak buku. Kami tak memintanya untuk membaca koleksi "dewasa" karena murid SD Namira ini telah memilih karya kesukaan sendiri, seperti Dork Diaries, Harry Potter, dan Spy School.  Mungkin karena bosan menunggu buku baru pesanan belum datang, ia menyusuri rak untuk membaca apa yang menarik perhatiannya. 

Keinginan ini makin membuncah setelah diberitahu bahwa tulisan Leila  S Chudori tersebut bercerita tentang gerakan mahasiswa di era Soeharto. Tentu, ada beberapa ungkapan yang ia belum bisa pahami sebagai anak-anak, tetapi ia sendiri punya kehendak yang kuat untuk memahami isu demokrasi, pemerintahan, dan kekuasaan. 

Menariknya, anak ini pernah digendong oleh sang penulis, ketika Leila berkunjung ke Pulau Pinang untuk mengisi acara kesusasteraan Georgetown Literary Festival. Di sela program, penulis Pulang  tersebut juga membahas karyanya di Universitas Sains Malaysia bersama dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Humaniora. 

Tuesday, July 07, 2020

Ikatan Emosional

Kita akan tergerak untuk bercakap di sebuah tempat umum dengan orang yang dirasa dekat secara emosional.

Tatkala mengurus paspor, saya bertemu dengan warga Pamekasan yang bekerja di Pulau Pinang.

Percakapan mengalir ke sana ke mari. Silaturahim itu mudah. Kita hanya perlu mendengar. 

Tuesday, June 30, 2020

Hidup Petani!

Pak Ayub membajak sawahnya sebelum pukul enam pagi. Bunyi traktor menghiasi hangat pagi. Betapa penggarap tersebut menjadikan suasana hidup.

Dengan teknologi 2.0 dan telepon (belum) android, petani tersebut menjalani keseharian. Meskipun menggunakan mesin, tetapi lelaki kampung sebelah tersebut menggunakan tenaga untuk mendorong traktor. Sekali waktu, ia tampak mengerahkan otot untuk melawan liatnya tanah.

Bersama seorang rekannya, Pak Ayub menyelesaikan pembajakan tanah seluas dua hektare selama dua hari. Terik matahari dan tanah yang keras menjadikan tubuh keduanya kuat. Setelah menuai padi, pemilik akan menanam tembakau. Ya, beras dan rokok yang dinikmati oleh orang ramai itu dihasilkan oleh jerih payah petani. Hidup petani!

Monday, June 15, 2020

Metallica itu Rhoma





Tatkala tinggal di Kedah, setiap kali kami bepergian dengan kereta (baca: mobil), saya sering memutar lagu Metallica. Zumi sangat menyukai Master of Puppet, karena nomor ini ada pada urutan pertama. Mungkin karena murid TK Nurul Jadid tersebut sering mendengarkan lagu Rhoma Irama, ia menyebut Metallica adalah Bang Haji. Kelakarnya, adik Biyya sering menyebut Rhoma bila mendengar grup metal asal Amrik itu. 

Kini, setelah tinggal di Paiton, ia meminta untuk mendengar lagu Rhoma. Tak disangka ia merekam dirinya sambil menikmati Enter Sandman. Meskipun tak bisa mengikuti nyanyian karena kosa katanya masih terbatas, sepertinya adik Biyya begitu menghayati. 

Berbeda dengan kakaknya yang menyukai Billie Eilish, Zumi belum bisa membaca sehingga tak mencoba untuk menulis lirik dan mengikuti vokalis yang membawakan Unforgiven dengan baik. Mungkin, ini jalan agar ia bisa belajar mendaras melalui kesukaannya pada musik. 

Tuesday, June 09, 2020

Kirim Buku

Kemarin, saya pergi ke POS dengan Zumi untuk menanyakan ongkos kirim buku ke Petaling Jaya, Kuala Lumpur. Pegawai menghitung dengan berat 500 gram diperkirakan Rp 341 ribu.

Tentu, ongkir sebesar itu berkali lipat dari harga buku yang akan diposkan. Tetapi, peminat melalui pesan messenger tak keberatan. Saya tentu senang dan jauh lebih seronok karena Zumi belajar bagaimana wirausaha bekerja.

Lihat! Anak kecil itu memakai helm, masker, dan jaket. Ia mungkin tak sepenuhnya memahami, tetapi minatnya jelas tumbuh bersamaan dengan pelaziman. Kemarin sore, tiba-tiba ia menawarkan mau makanan apa? Dengan menjadikan sampul buku yang sobek sebagai nampan, ia meletakkan kentang goreng, burger, dan mainan. Jelas! Ini bayangannya tentang McDonald.

Betapa kuat pesona kedai makan asal Amrik itu hinggap di benak seorang anak. 

Friday, March 13, 2020

Kenangan

Ketika belajar di Universitas Sains Malaysia, saya bergiat di perkumpulan sastra, Karyawan, yang dikomandani oleh Prof Sohaimi Abdul Aziz. Betapa menyenangkan, saya bisa mengurus kedatangan Putu Wijaya ke Pulau Mutiara. Penulis Zig Zag ini membuka cakrawala politik susastra.

Salah satu program yang membuat kami teruja adalah ketika Karyawan menyelenggarakan acara Malam Rendra di Pusat Budaya. Orang tua angkat kami dan anaknya turut hadir. Pakcik Yusof dan Makcik Sri adalah kakek dan nenek Biyya dan Zumi di Semenanjung. Ayah angkat kamilah yang melakukan tahniq masa murid SD Namira ini menginjak usia tiga bulanan.

Biyya ingin berlebaran di Pulau Pinang nanti. Semoga pandemik Covid-19 segera berakhir. Kakak Zumi akan segera memeluk Maktuk apabila bertemu. Pemandangan ini selalu membuat kami terharu. Betapa ikatan emosional ini kuat dan tak akan pernah tamat. Abadi, seperti ketulusan keduanya dalam menyemai hubungan kekeluargaan. 

Ambil Rapor

Setiap orang tua tidak hanya mengambil buku nilai anak kelas 5, tetapi juga mendengar mereka mempresentasikan proyek di depan kelas. Guru ti...