Wednesday, September 27, 2023

Kondangan

Kondangan selawatan dan Maulid di rumah Pak Haji As'adi. Keberkahan itu adalah bertambahnya kebaikan karena sesama bisa saling bertukar sapa dalam suasana kedamaian dan keriangan. Mau kopi atau teh? Saya pilih yang terakhir sebab yang pertama bisa menaikkan tekanan darah. Sekali-kali intermittent fasting dilanggar dengan menikmati makan malam melewati angka 7.

Gambar ini diambil oleh Pak Jasri, anggota selawatan Muhajirin. Di sini, saya bertemu dengan banyak kawan dari Nurul Jadid. Kata Pak Iman, kumpulan ini pernah menjadi obyek penelitian Pak Rojabi. Setelah duduk lama tahlilan, selawatan dan berdiri, kami betul-betul melewati malam dengan syahdu. Setiap individu memiliki imajinasi tentang nabi.


 

Monday, September 25, 2023

Catur dan Jagung

Untuk mengalihkan Zumi dari telepon genggam, saya sering mengajaknya untuk bermain catur. Baru sore ini, penyuka Plants vs Zombies meminta saya untuk beradu cerdik di atas bidak. 

Sambil menikmati jagung rebus lokal, kami memelototi setiap pergerakan. Kini, ia tidak lagi emosional tatkala raja diskak mat. Di sela mengernyitkan dahi, kami pun ngobrol ke sana kemari. 

Sore ini sangat berharga karena kegiatan ini sedikit meninggalkan jejak buah karbon, yakni memutar radio streaming GCD FM Yogyakarta. Kebiasaan untuk mengudap makanan tanpa minyak tentu baik bagi kami. 

Apalagi, jagung tersebut dibeli dari tetangga kampung. Kita telah mengurangi biaya transportasi yang menjadi pemicu polusi dan emisi karbon dibandingkan dengan makanan beku yang disimpan di kulkas. 

 

Sunday, September 24, 2023

Perempuan Mandiri

Ini dunia versus Elizabeth Zott, seorang wanita luar biasa yang bertekad untuk hidup dengan caranya sendiri. ~ Maggie Shipstead

Novel ini dibeli oleh Biyya tatkala mudik ke Yogya. Saya berusaha untuk mengetahui karakter tokoh dan dialog yang mungkin bisa membuka jalan percakapan seorang ayah dan putrinya.

Dari komentar Maggie, kita tahu bahwa perempuan (harus) hidup dengan cara adat atau norma khalayak. Sepertinya, risiko disoal sangat besar bila wanita tak menimbang suara khalayak. 

sebagai remaja putri, Biyya tentu bisa mengambil pesan dari karya ini. Seberbeda apapun dunia perempuan di dunia, ada hal yang mengikat mereka, yakni tunduk pada apa yang dianggap kesepakatan masyarakat.   


Papua itu untuk Semua

Dalam kuliah umum, Pdt Albert Yoku menegaskan bahwa di tanah Papua, setiap bangsa dan agama bisa hidup dengan harmonis. Anda bisa datang untuk membuktikannya. 

Kami, warga kampus, menghadiri kegiatan ini untuk menerima seorang pendeta yang pernah mengepalai persatuan gereja Injili Papua. Tambahnya, dialog antariman diwujudkan dengan kerja sama dalam bidang ilmu dan teknologi. Untuk itu, mahasiswa Universitas Nurul Jadid bisa melaksanaan KKN di bumi Cenderawasih. 

Saya melihat kegiatan ini menunjukkan bahwa isu toleransi tidak lagi dibatasi pada perbincangan titik temu antaragama, tetapi ditekankan untuk mendorong generasi lintas kepercayaan untuk bahu-membahu bekerja untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti akses pada air, pupuk, dan kesehatan. 
 

Wednesday, September 20, 2023

Zumi dan Perjalanan

Ini adalah pengalaman Zumi bepergian jauh untuk pertama kali. Sekolah tempat ia belajar menggelar acara kunjungan ke kebun binatang mini di Jember. Beberapa hari sebelumnya, penyuka cerita Plants vs Zombies ini telah menunjukkan kegembiraan. 

Di hari H, ia bangun dengan mudah. Kami mengantarkannya ke titik berkumpul, pertigaan Paiton. Di sini, ada banyak kawannya yang juga menunggu. 

Dengan jauh dari orang tua, praktis ia dan teman-temannya akan belajar melakukan sesuatu secara mandiri. Selain itu, ia mempraktikkan kecukupan-diri, sebagai prasyarat untuk tumbuh kembang dengan baik. 
 

Kopi dan Buku

Sore kemarin, saya mencicil lagi membaca buku The Wisdom of Frugality. Untuk menaikkan daya, saya membuat kopi dari sachet Oldtown. Kini, saya membatasi asupan air ini karena ia bisa menaikkan tekanan darah. 


Justru, dengan menikmati di waktu dan tempat tertentu, rasa qahwah itu semakin kuat. Tak hanya itu, kopi putih ini memiliki rasa hazelnut, yang menerakan kandungan protein, lemak, karbohidrat, dan gulanya yang berjumlah 10.4 gram, sehingga ada sensasi lain. Meskipun demikian, ada sebagian penggila kopi yang tidak suka campuran.  

Tubuh dan pikiran saling menyangga sehingga asupan kini perlu ditimbang. Semakin menua orang-orang akan lebih sering peka terhadap jenis minuman dan makanan. 

Tuesday, September 19, 2023

Kenikmatan


 Kata pada judul di atas menjadi buruan banyak orang. Dengan merasakannya, seseorang bisa menemukan kesenangan dan kebahagiaan. Salah satu tokoh filsafat yang menjadikan kesenangan sensual adalah Epicurus. Bahkan, lebih jauh, kenikmatan itu dikaitkan sesuatu yang baik. Untuk itu, filsuf tersebut pernah berujar bahwa saya tidak tahu bagaimana saya bisa membayangkan yang baik, jika saya menarik kenikmatan rasa, cinta, pendengaran, dan emosi menyenangkan yang ditimbulkan pada penglihatan dengan bentuk yang indah.

Lalu, adakah kenikmatan itu obyektif? Menurut Jeremy Bentham, semua kesenangan adalah sama baik dalam diri mereka sendiri. Segala sesuatu yang lain dianggap sama, bermain video gim sederhana sama baiknya dengan mendengarkan Beethoven. Sekilas, pandangan tokoh utilitarian tersebut masuk akal. Betapa Zumi, anak saya, begitu asyik bermain gim bola di telepon genggam. Saya pun merasa nyaman tatkala mendengar lagu Für Elise oleh Beethoven.

Namun, John Stuart Mill dalam Utilitarianism mengungkapkan bahwa secara kualitatif ada kenikmatan yang lebih baik daripada yang lain. Perbedaan-perbedaan itu bisa dikuantifikasi, seperti intensitas, seberapa kuat kesenangan itu dirasakan.  Selain itu durasi juga perlu ditimbang, seberapa lama ia berlangsung, dan jarak waktu, yang akan menjadikan sebuah kesenangan berakibat pada keadaan seseorang dalam jangka masa tertentu.

Mengapa Für Elise menyenangkan? Mungkin pada awalnya, saya hanya ikut-ikutan untuk mendengarnya tatkala belajar di universitas. Genre musik ini sering dikaitkan dengan selera berkesenian yang tinggi. Para penggubahnya dianggap sebagai sosok jenius. Tetapi, sekilas ada pendaran ingatan yang hinggap, bahwa saya sangat menikmatinya di sebuah restoran hotel seusai mengikuti undangan seminar gratis. Sambil makan siang dengan banyak menu pilihan, bunyi piano itu memberi latar pada suasana yang sangat menyelerakan.

Ini tak jauh berbeda dengan selawat al-Khushary, qari’ Mesir, yang sering diperdengarkan melalui pelantang masjid sebelum magrib. Dulu, RRI 1 Sumenep akan memperdengarkan pujian tersebut dan takmir masjid kampung memancarluaskan menjelang magrib. Di bulan puasa, bacaan ini menandakan waktu menjelang berbuka puasa. Setiap kali mendengar lantunan tersebut, saya disergap oleh kedamaian.

Betapa kesenangan musikal itu dilatari oleh pengalaman kenikmatan dalam menyantap makan. Suasana makan siang dan berbuka dulu tetap tertanam kuat, sehingga di hari ini saya akan merasakan kesentosaan tatkala mendengar musik dan selawatan. Ajaibnya, kenikmatan ini kadang datang tanpa disangka-sangka. Dulu, setelah antri lama memasuki kapal ferry di Tanjung Perak Surabaya menjelang lebaran, saya masih duduk di bus tatkala badan kendaraan telah memasuki kapal. Tiba-tiba, lagu Syahdu Rhoma mengalun dari pelantang TOA kecil. Rasa penat raib.

Kenikmatan sensual dan artistik tentu berlangsung pada ruang dan waktu tertentu. Sebungkus nasi yang tersedia di kala lapar akan sangat menaikkan selera. Musik klasik dan dangdut terdengar indah jika keadaan tubuh sehat dan pikiran tenang. Pendek kata, semua kenikmatan itu direspons oleh seseorang dalam keadaan khusus, yang satu sama lain berbeda. Habitus atau kebiasaan menjadi salah satu faktor yang penting dalam membentuk selera seseorang.

Namun, Emrys Westacoot, dalam The Wisdom of Frugality (2016) menegaskan bahwa beberapa variasi dalam kenikmatan kita, dalam apa yang kita makan, dengarkan, tonton, baca, kunjungi, dan lakukan, membuat kita tetap dari menjadi bosan karena diulang-ulang. Di sini, kita bisa menimbang saran Ferdinand Pessoa dalam The Book of Disquiet, bahwa kejemuan muncul bukan karena tak ada yang dilakukan. Banyak yang dikerjakan, tetapi tak punya makna. Jadi, semakin banyak yang dilakukan, makin besar rasa bosan. Kita pun sama-sama mafhum bahwa makna akan diraih secara utuh melalui dialektika pengalaman dan pengetahuan.

Sumber: Koran Kabar Madura, 19 September 2023 (Baca di sini: Kenikmatan)

Ambil Rapor

Setiap orang tua tidak hanya mengambil buku nilai anak kelas 5, tetapi juga mendengar mereka mempresentasikan proyek di depan kelas. Guru ti...