Nikmat itu adalah Membaca

Halim dan kelompok 3 yang membahas makalah bertajuk "Kaitan Hiburan Kapitalisme" membuka penjelasan hiburan dengan kutipan dari Mary Worley Montagu, no entertainment is so cheap as reading, nor any pleasure so lasting. Dengan lugas mahasiswa Falsafah dan Etika tersebut menjelaskan bahawa hiburan tak semestinya anggapan umum yang sebatas keseronokan, seperti musik, film, rekreasi. Dengan petikan di atas, hiburan yang murah seperti membaca layak diketengahkan.

Tapi, seperti gambar buku di atas, Climbing: Philosophy for Everyone, membaca memerlukan iltizam dan tubuh yang kuat, karena kita layaknya mendaki gunung-ganang untuk mencapai kepuasan. Oleh karena itu, kita sering melihat iklan layanan masyarakat yang mendorong khalayak untuk rajin membaca. Malangnya, iklan komersial lebih mendapatkan perhatian dan pengutamaan orang ramai. Betapa, pengguna (konsumen) tak berdaya menghadapi keperkasaan pengeluar (produsen) barang-barang, yang mungkin tak begitu diperlukan, tetapi dima(h)ukan karena pencitraan yang digambarkan terkait dengan keunggulan jenama (merek) yang ditawarkan.

Lalu, bagaimana dengan buku yang masih mahal, apakah membaca memang benar-benar kegiatan yang tak memerlukan uang? Tentu kita tak perlu membelinya apabila kita bisa mendapatkannya secara percuma dengan meminjam di perpustakaan. Bagaimanapun, kata Cicero, pemikir Romawi, kita akan meraih kehidupan yang sempurna dengan perpustakaan dan taman, tidak bererti (berarti) kita harus memiliki keduanya, karena kita bisa menikmati buku dan pepohonan di Perpustakaan Sultanah Bahiyah dan sekujur tubuh Universiti Utara.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen