Tuesday, May 27, 2008

Seharian dengan Kawan Karib

Kawan karib saya, Encik (Tuan) Zailani, akan kembali pagi ini dari tanah kelahirannya Kelantan. Saya dan kawan-kawan Indonesia memanggilnya Pak Zailani, karena beliau pernah kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Aceh untuk S1 dalam bidang Perbandingan Agama. Malamnya, saya telah mengirim layanan pesan singkat (SMS) kapan kami bisa menjemputnya di bandara. Kebetulan, teman dari negeri Sri ini menitipkan mobilnya seminggu yang lalu.

Baru pagi tadi, dia menelepon untuk tidak dijemput dan memberitahu kira-kira jam 9.30 sampai di flat tempat saya tinggal. Namun, jam 9.30an, dia belum sampai dan terpaksa saya naik lagi ke lantai sembilan untuk memasak mie telor. Belum lagi saya menekan tombol, ayah beranak tiga ini menelepon kalau sampai di bawah. Dengan segera sayamenemuinya untuk sarapan di tempat favoritnya, restoran Kayu. Di sana saya memesan nasi, telor rebus dan es nescafe. Sebelumnya saya telah mengganjal perut dengan roti dan hazelnut.

Seperti biasa, kami selalu asyik berbincang tentang dunia politik dan saya juga menyelipkan masalah kenaikan harga bahan bakar di Indonesia. Sebuah acara pagi yang memanaskan otak setelah perut kenyang. Dari kawan karib Melayu, saya mendapatkan pandangan yang bernas tentang apa yang terjadi dengan negeri Hang Tuah ini setelah pemilu ke-12 yang di luar dugaan banyak orang.

Lalu, saya pun beranjak dan menuju Bayan Lepas untuk menemaninya menyimpan uang di Tabung Haji, sebuah lembaga yang mengurus simpanan warga Malaysia. Dari sini, kami pun menuju ke beberapa tempat, seperti Telekom Malaysia (TM) Point, Takaful Etiqa (Asuransi), Celcom, kantor Kumpulang Wang Simpanan Pekerja (KWSP) dan akhirnya ke Aritzone, agensi perjalanan. Tur yang menarik untuk dicatat dalam pengalaman saya bahwa Malaysia telah mengurus negerinya lebih baik dari tetangganya.

Monday, May 26, 2008

Jangan Pukul Kepala Itu!


Sumber: Jawa Pos, 26 Mei 2008

Oleh Ahmad Sahidah

Maraknya demonstrasi di tanah air sebelum dan setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) perlu diperhatikan semua pihak.
Tentu saja, selama unjuk rasa itu dikoordinasikan dengan baik, proses dialog akan berjalan baik. Peristiwa kekerasan di Universitas Nasional (Jawa Pos, 24/5/08) adalah bentuk kegagalan sebuah komunikasi.

Kepeloporan mahasiswa dalam menolak kebijakan pemerintah yang dianggap mencederai kaum miskin seharusnya dilihat sebagai alat kontrol alternatif di tengah macetnya saluran resmi, parlemen, yang terbelit oleh mekanisme dan kepentingan pragmatis. Namun, tidak jarang, aksi mereka berakhir dengan kericuhan yang menyebabkan terjadinya kekerasan berupa pemukulan, tendangan, bahkan penganiayaan oleh aparat.

Demo kenaikan harga BBM dulu juga pernah memantik aksi turun ke jalan. Pada masa itu, SBY mengingatkan agar polisi melakukan pengamanan. Dan sebagaimana dikatakan Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng, demo tersebut dinilai wajar dan tidak mempermasalahkannya. Syaratnya, unjuk rasa dilakukan tanpa melanggar ketentuan yang berlaku.

Protes Mahasiswa

Jürgen Habermas dalam bukunya Toward A Rational Society: Student, Protest, Science and Politics (1971: 13) menyebutkan bahwa mahasiswa merupakan aktor penting di negara berkembang yang telah mencatat menumbangkan para pemimpinnya, termasuk di Indonesia. Tambahnya lagi, jika mahasiswa mendapat tekanan politik oleh aparat. Bukankah di berbagai daerah banyak mahasiswa yang ditangkap dan sebagian mengalami luka karena kekerasan aparat?

Acap terjadi, setiap demonstrasi mahasiswa dicurigai ditunggangi kelompok pembonceng. Kebiasaan polisi untuk menyederhanakan persoalan bisa dipahami. Namun, persoalan harus segera bergeser pada substansi persoalan yang diusung ke jalan, menolak kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat kebanyakan.

Sejarah bangsa ini memperlihatkan bahwa protes mahasiswa telah menumbangkan beberapa rezim karena mereka didukung oleh banyak unsur masyarakat. Tapi, sekarang polarisasi muncul. Keran demokrasi telah memungkinkan fragmentasi yang tajam dalam kelompok masyarakat.

Hal seperti itu tentu menuntut mahasiswa untuk bersikap cerdas dan arif agar tidak muncul kekerasan horizontal antara mereka dengan masyarakat.

Apalagi, pemerintahan sekarang adalah hasil pemilu yang mempunyai legitimasi kuat dan didukung parlemen. Meski itu bukan jaminan mereka akan mewujudkan program yang segera mengubah kehidupan perekonomian secara drastis, komitmen, janji, dan pelaksanaannya dengan mudah bisa dilihat dan diminta pertanggungjawaban.

Mahasiswa tetap mempunyai tugas moral untuk mengawal agar proses itu berjalan sesuai yang telah dicanangkan mereka dalam program nyata. Inilah saatnya bekerja dan menunjukkan bukti.

Cegah Kekerasan

Pada 1998, dari kantor pengabdian masyarakat kampus almamater, saya melihat dengan mata kepala sendiri seorang mahasiswa yang dipukuli polisi setelah mereka berhasil memasuki kampus dan mahasiswa tersebut tidak bisa meloloskan diri.

Mungkin, kita juga bisa melihat di televisi bagaimana para polisi memperlakukan para demonstran bila tertangkap. Dengan brutal, mereka mengarahkan pukulan pada kepada karena paling mudah. Celakanya, kebanyakan mahasiswa tidak menggunakan helm ketika beraksi.

Tentu, kita prihatin terhadap kekerasan semacam itu. Perlu diketahui bahwa kepala kita adalat pusat tubuh yang rentan cedera jika mengalami benturan keras. Jika luka berat, akibatnya fatal.

Tentu, peran ahli saraf di Indonesia untuk mengingatkan hal tersebut menjadi penting. Kita tidak ingin melihat kepala mahasiswa bocor karena pentungan polisi yang seharusnya merupakan aparat terdepan dalam memberi teladan bagi penegakan hukum. Bahkan, seorang maling dilindungi polisi ketika diamuk massa karena tertangkap basah. Mengapa mahasiswa mengalami nasib yang lebih buruk dari maling?

Memang, selama ini tidak ada berita tentang perubahan psikis mahasiswa peserta aksi yang mengalami kekerasan. Tapi, ini bukan alasan untuk mengabsahkan pemukulan terhadap kepala, yang menjadi pusat tubuh dan kesadaran. Kepala adalah anggota tubuh yang rentan dan simbol kehormatan. Karena itu, penghargaan terhadapnya adalah sebuah keniscayaan.

Namun, kita bersama juga berharap kepada mahasiswa untuk menjaga perilaku dalam berunjuk rasa. Sebab, kekerasan polisi kadang muncul dari cemoohan yang dilontarkan mereka ketika berorasi atau melantunkan lagu-lagu pelesetan. Sebagai kelompok terpelajar, mereka diharapkan menunjukkan tindakan yang rasional, terukur, dan elegan.

Bagaimanapun, drama kenaikan harga BBM ini harus diletakkan dalam perspektif "milik" bersama untuk dipikirkan dan dipecahkan bersama, bukan dijadikan pintuk masuk kepentingan lain yang bisa melahirkan tindakan kekerasan yang justru meminta korban yang tidak diinginkan.


Ahmad Sahidah, kandidat doktor Departemen Filsafat dan Peradaban Universitas Sains, Malaysia

Saturday, May 24, 2008

Palestina, Kita dan Kemanusiaan


Inilah gambar yang dikirim oleh sahabat Haikal Reza di milis Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia (PPI USM). Miris melihatnya. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Saya mencoba untuk menimpali agar kita bisa menghadirkan perspektif yang lebih utuh tentang drama kemanusiaan paling mengerikan di abad ini. Gambar-gambar ini telah melengkapi khotbah Jum'at kemarin di USM tentang al-Naqba (malapetaka) yang dirayakan oleh orang Palestina yang telah memasuki usia ke-60 tahun. Kalau Anda masih ingat kata tokoh utama dalam film Da Vinci Code bahwa gambar mempunyai ribuan makna, maka kita akan memperolehnya dari gambar seorang anak yang sedang menanti naza ibunya itu. Biarlah makna itu ada di masing-masing kepala.

Semalam, kami, Pak Allwar, Pak Wahyu dan Mas Tauran makan bareng di Tomyan dan sempat muncul pertanyaan apa yang kemudian kita lakukan terhadap nasib bangsa Palestina. Mungkin, hanya doa yang sempat terungkap, sebab kuasa kita masih jauh dibandingkan mereka yang berada di balik si angkara murka, zionisme Israel. Memang, tidak semua pemuka Yahudi brengsek seperti para rabi yang membenarkan penindasan di tanah Nabi Musa menyampaikan dakwah itu atas nama tafsir terhadap kitab Talmud. Tak semua Yahudi berada di balik drama ini, malah ada yang menentangnya.

Tentu, kita bisa mendengar sendiri dari teman-teman Palestina di sini tentang betapa pedihnya keluarga mereka harus hidup dalam tekanan, belum lagi pelarian dan pengungsian yang berjumlah 4 juta itu. Ada banyak cerita yang menggores perih. Hanya empati yang memungkinkan kita merasakannya.

Dulu, Pak Tahir menggagas untuk membincangkan Palestina kepada PPI USM. Tak ada salahnya kita mencobanya, sebab saya juga pernah mendiskusikannya dengan Dr Kamaruzzaman dari Unit Perdamaian PPSK dan kemungkinan bekerjasama dan sekaligus beliau meminta untuk melibatkan LSM International Citizen yang peduli terhadap nestapa Palestina.

Kita tidak hanya sekedar membicarakan dengan harapan, seperti kata ahli filsafat wanita, Hanna Arendt (penulis on Violence itu) bahwa penderitaan akan tertanggungkan jika diceritakan. Tidak, bukan hanya itu. Kita sedang mencari jalan keluar dari kemelut ini. Paling tidak, untuk menentramkan dan akhirnya mendorong pihak yang berwenang mengambil langkah drastik agar mereka yang berseteru mau duduk satu meja dan sama-sama mengakhiri teror kemanusiaan yang tak berkesudahan.

Di sini, kita bisa mengundang Tun Dr Mahathir Mohammad untuk memberikan ucap tama (keynote). Atau, Anda mempunyai usul lain?

Friday, May 23, 2008

Menulis di Jurnal adalah Eksistensi Saya


Akhirnya saya mengikuti ceramah akademik bertajuk Publishing in High Impact Factor Journals: How not to get rejected oleh Prof Peter Brimblecombe, dosen Kajian Lingkungan dari Universitas East Anglia Inggeris (tentang dirinya bisa dirujuk pada situsnya di mana dia mengajar http://www.uea.ac.uk/~e490/www.htm). Karena terlamat 5 menitan, saya tak mendapat kursi. Tak apalah berdiri, mungkin pahalanya lebih banyak.

Karena berjubel, banyak peserta yang duduk di antara lorong kursi kelas Dewan Kuliah C Fakultas Ilmu Huma. Uniknya, banyak dosen USM yang ikut serta , dan juga mahasiswa asing, Arab dan Indonesia. Saya melihat beberapa di antaranya seperti Yudhi, Boni, dan Deddy. Tapi, sayangnya Badrun tak keliatan batang hidupnya, padahal sebelumnya kami telah merencanakan untuk menghadiri acara penting ini. Mungkin, dia kecapean setelah pagi sebelumnya begadang nonton pertandingan sepak bola piala Champion antara Manchester United dan Chelsea.

Saya mencatat banyak masukan dari paparan pakar lingkungan dan sekaligus angota penasehat SCOPUS ini, di antaranya mengenai etika publikasi (baca lebih jauh dalam situs yang dia berikan http://publicationethics.org.uk/):

1. Authorship - significant contribution
2. Conflict of interest
3. Prior Publication duplication, website and conference publication
4. Multiple submission
5. Referencing
6. Plagiarism
7. Referee Suggestion

Dengan gaya kocak, sang profesor menjelaskan bagaimana membuat abstrak, kata kunci, pembahasan (discussion), dan kesimpulan. Katanya, kesimpulan itu berbeda dengan abstrak. Oleh karena itu, dilarang keras menyalin abstrak menjadi kesimpulan. Selain itu, kesimpulan bukanlah sebuah ulasan, apatah lagi kesimpulan, tidak mempunyai rujukan, dan tidak memperkenalkan materi baru.

Dari pengajaran singkat ini, saya telah merencanakan untuk menulis sebuah artikel di Jurnal Islamic Quarterly, jurnal bulanan dalam bidang Kajian Keislaman dari Inggeris, yang acapkali juga diisi oleh para dosen di Departemen Kajian dan Peradaban Islam, Universitas Sains Malaysia (USM), seperti Dr. Zailan Moris - pembimbing disertasi saya, Dr. Ratna dan Dr. Jasni Sulong. Malah, adalam sebuah kesempatan Dr Ratna meminta saya mengirimkan tulisan. Ya, dosen taman psikologi Universitas Inggeris ini adalah salah seorang penulis produktif, baik di surat kabar maupun jurnal.

Terus terang, saya sangat salut dengan kerelaan dosen-dosen yang masih menyempatkan hadir dalam acara seminar semacam ini. Tidak itu saja, malah seorang profesor yang bergelar Dato', Mohammad Salleh Yaapar, masih bersedia duduk berdesakan mendengarkan ceramah. Saya juga melihat Prof Madya Arnd Graft, dosen Sastra Bandingan asal Jerman, juga tekun mendengarkan kuliah. Hampir secara umum, penanya pada sesi tanya jawab adalah para dosen di lingkungan USM. Saya tidak sempat mengikutinya hingga selesai karena harus menemui Puan Shima, staf bagian pengurusan visa mahasiswa, untuk menanyakan izin untuk mendapatkan single entry visa dari Imigrasi Malaysia.

Saturday, April 26, 2008

Menemukan Sosok Muslim Sejati

Sabtu, 26 April 2008



Oleh:
Ahmad Sahidah Kandidat Doktor Departemen Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia

Era kebebasan di negeri ini telah memberikan kesempatan bagi setiap kelompok untuk menampilkan model keagamaannya. Sekilas boleh dikatakan kegairahan untuk mengamalkan nilai-nilai dan ajaran keagamaan makin menguat. Namun, ditilik dari pendekatan sosiologis, ajaran agama yang dipraktikkan dalam keseharian boleh jadi banyak menyembunyikan kepentingan yang tidak muncul di permukaan. Tidak ada salahnya jika kita berusaha memahami kehidupan keagamaan melalui disiplin bukan ‘agama’ murni, seperti psikologi, sosiologi, dan antropologi.

Tentu, kita akan terkejut karena agama disimpulkan sebagai fenomena kemanusiaan biasa dengan segala implikasinya. Memang ada premis yang menganggap keagamaan adalah bentuk ketidakmatangan manusia, tetapi pandangan ini disangga oleh rasio semata yang mengukur segalanya dari cara berpikir dialektik-materialisme. Pendekatan lain banyak menganggap perspektif ini gagal karena bias dan distortif.

Tulisan Fadwa El-Guindi tentang jilbab dalam Veil: Modesty, Privacy and Resistance (1999) memperlihatkan kelebihan melihat persoalan keagamaan di dalam pelbagai perspektif. Ia tidak hanya melihatnya dari pendekatan normatif, tetapi makna yang terkandung di dalam ajaran agama lebih luas, baik sejarah, linguistik, studi kawasan dan feminisme.

Kekayaan pandangan ini akan membuat kita lebih jernih melihat masalah yang sedang dihadapi umat. Meski demikian, gagasan untuk menilai agama dari ajaran dirinya akan mengantarkan kita pada kekayaan pemikiran yang telah melahirkan semangat untuk membela kemanusiaan.

Agama telah mampu memayungi kehidupan manusia yang kerap didera kerakusan dan ketamakan penganutnya. Namun, pada saat yang sama dalam sejarah agama juga telah digunakan untuk menjadi pembenar bagi keangkaramurkaan. Untuk itu, kita harus menemukan jalan pulang.

Jalan terjal

Memasuki usia ke-15 abad, Islam telah mengarungi hidup dengan segala pernak-perniknya. Ia telah melahirkan sejarah gemilang dan akhirnya mengacu dalam hukum sejarahnya Ibn Khaldun. Dia juga memasuki masa keredupannnya. Terus terang, inilah yang kita baca dalam buku sejarah, tanpa memperhatikan bahwa keislaman itu juga meminjam peradaban lain. Bahkan, lebih jauh kejayaan Islam dalam pengetahuan juga didukung oleh kepakaran sarjana non-Muslim. Pendek kata, peradaban ini sejatinya adalah milik bersama umat manusia.

Sekarang kita di sini terpecah dalam beberapa kelompok untuk kembali kepada kegemilangan tersebut. Dengan segudang alasan, masing-masing menonjolkan dirinya sebagai pembawa panji yang akan mengembalikan kejayaan masa lalu. Tak terhindarkan, simbol-simbol diusung meskipun sebenarnya ia menyimpan makna ‘tersembunyi’ yang justru menghilang di tengah hiruk-pikuk pekikan.

Bahkan, politik pun turut merayakan keagamaan dengan penuh ingar-bingar. Di sini ada kelompok yang menggunakan legitimasi agama, baik secara terangan-terangan maupun tersembunyi. Demikian pula ditemukan kelompok yang ingin menjaga kesucian tradisi karena dianggap warisan nenek moyang dan perlu dipertahankan berdasarkan kepercayaan pada kearifan lokal. Padahal, di balik itu ada pengekalan kekuasaan dan kekhawatiran tergerus oleh gelombang baru yang akan meminggirkan perannya di tengah masyarakat.

Ya, benar apa kata Jürgen Habermas bahwa ada kaitan erat antara pengetahuan dan kepentingan. Akhirnya, jalan pulang dipenuhi kerikil tajam. Mereka sering berkelahi dengan sesama di tengah jalan dan bahkan menumpahkan darah.

Upaya untuk berdamai memang telah dilakukan. Tidak jarang dengan pernyataan bersama yang disorot wartawan. Lalu, berita menyiarkan bahwa mereka bergandengan tangan untuk menyongsong masa depan. Tapi, sebagian menggumam ragu bahwa mereka adalah pengawal agama yang selalu terjebak pada perebutan kekuasaan.

Islam sederhana

Di sini kesederhanaan tidak hanya dipahami sebagai wujud dari sikap moderat dan tidak ekstrem. Lebih jauh, ia mengandaikan penganutnya mengamalkan kehidupan keseharian yang sederhana.

Tapi, kita tentu heran karena mereka yang menjadi pemimpin menabung begitu banyak uang di tengah kesulitan rakyat yang menganga dan putus asa. Begitu banyak umat dibujuk untuk turun jalan atau memenuhi masjid untuk membikin pernyataan bahwa Islam menginginkan ini dan itu.

Kita pun tahu acara seremonial semacam ini juga memerlukan dana besar. Jelas-jelas ini kesia-siaan. Padahal, di luar sana banyak umat yang memerlukan uang untuk makan, biaya sekolah, dan ongkos kesehatan. Jumlah 87 persen umat di dalam statistik adalah bukti cukup bahwa kita adalah besar dan tak perlu ditunjukkan dengan teriakan di jalanan. Sekarang kita memerlukan pemimpin yang menguras tabungannya untuk kebajikan. Demikian pula umat tak perlu lagi tergoda untuk sering berkerumun di jalan.

Perayaan keagamaan lebih dari cukup untuk berkumpul menguatkan komitmen bagaimana mengentaskan kebodohan dan kemiskinan yang melilit umat. Malahan, energi yang melimpah itu seharusnya mendorong umat untuk rajin berjamaah agar masjid-masjid tidak menjelma menjadi kuburan, tanpa direcoki propaganda untuk gagah-gagahan.

Oleh karena itu, kewajiban setiap Muslim adalah memakmurkan masjid tempat dia tinggal. Mungkin di sinilah kita akan menemukan ruang di mana satu sama lain berbagi, bagaimana menyoal masalah yang sedang dihadapi di lingkungannya berkaitan dengan ketersediaan pelayanan pendidikan dan kesehatan. Fungsi masjid tak lagi dibekap sebagai tempat ibadah, tetapi juga kegiatan sosial.

Tambahan lagi, kita memerlukan lebih banyak lagi sekolah model MTs Sururon di Jawa Barat yang menjawab masalah sekitarnya. Sekolah yang membebaskan biaya dan tidak hanya memamah biak kurikulum yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan lokal.

Lalu, bagaimana dengan orang miskin yang ingin berobat? Meskipun kaum duafa diberikan kartu bebas biaya, itu tidak akan membuatnya sembuh dengan mudah. Sakit memerlukan biaya lebih sekadar menebus obat.

Jika ghirah keislaman diarahkan bagaimana membuat umat ini tidak lemah, maka tugas kita sebagai Muslim telah tertunai. Mungkin, kita juga perlu meniru usaha Johor Corporation, Malaysia, di bawah teraju tokoh wiraswasta Ali Hashim, yang mewakafkan sahamnya untuk diberikan kepada masjid agar membangun klinik yang tidak membebani ongkos mahal untuk orang miskin.

Saya tidak menampik ide-ide besar, seperti tegaknya syariah, model kekhalifahan, Islam liberal, atau apa pun namanya. Dengan catatan semua memikirkan kembali akar dari keterpurukan umat, yaitu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Jika kita semua bertanggung jawab dengan sungguh-sungguh untuk menuntaskan masalah ini, maka diharapkan perbincangan tentang kembali kepada Islam tidak ditelikung oleh para elitenya untuk berdiri di depan panggung dan di belakangnya mereka mendapatkan pamrih.

Celakanya, perbincangan para sarjananya hanya menambah gelap arti menjadi Muslim karena mereka asyik bergelut dengan teori yang rumit dan mengabaikan bagaimana menjelaskan praktik agama yang mudah dan jelas sesuai dengan kebutuhan mendesak pemeluknya. Sudah saatnya kita memetik manfaat dari diskursus keagamaan yang memberikan ruang untuk membebaskan penganut terbesarnya yang bergelut dengan pelbagai kemelaratan hidup. Terus terang, kita susah menemukan teladan karena kesederhanaan telah ditelan zaman.

Ikhtisar

- Perlu memberdayakan peran masjid untuk membuka dan menambah wawasan umat.

- Umat tak mungkin maju tanpa mengangkat mereka dari kemiskinan dan kebodohan

Monday, April 14, 2008

Wilders guna fitna untuk agenda peribadi


Sumber: Berita Harian Malaysia (8 April 2008)


Oleh Ahmad Sahidah

UMAT Islam di seluruh dunia melihat daripada pandangan tersendiri mengenai filem dokumentari Geert Wilders berjudul Fitna. Mereka juga meluahkan pandangan menerusi sudut berbeza. Di Indonesia - daripada presiden, sarjana, masyarakat hingga demonstrasi yang dilakukan Barisan Pembela Islam (FPI), menunjukkan bantahan keras terhadap propaganda menghina Islam itu.

Aksi FPI yang selama tiga malam berturut-turut ditayang Buletin Utama TV3, menunjukkan perbezaan dengan reaksi Pemuda Umno di hadapan Kedutaan Besar Belanda yang lebih santun. Sepanduk bertuliskan 'Wilders is a great satan', 'Kill Wilders' dan 'Wilders is a christian terrorist' jelas mencerminkan imej umat Islam Indonesia yang panas baran dan pemarah.

Berbanding di Malaysia, poster yang ditunjukkan berbunyi 'Freedom of speech come with responsibility', 'Fitna is Fitnah', 'Jangan Cetuskan Ketegangan Agama' dan 'Islam is Peace'. TV3 juga menyiarkan tindakan emosional sekelompok penunjuk perasaan di Medan, Indonesia, yang merosak pintu pagar Konsulat Belanda di sana.

Banyak pihak dan organisasi bukan Islam seperti Setiausaha Agung Pertubuhan Bangsa Bangsa Bersatu (PBB), Ban Ki-Moon; Duta Besar Belanda di Indonesia, Nikolaos van Dam dan beberapa negara Eropah turut mengutuk keras kedegilan Wilders menerbitkan filem pendek 15 minit itu melalui internet.

Dia tidak mempedulikan kesan buruk kemungkinan dibunuh dan mengabaikan tindakan memulaukan barangan Belanda, sedangkan jauh sebelum itu banyak pihak dan negara mengecam tindakan semberono penggiat politik dari Parti Kebebasan (Partij voor de Vrijheid) itu.

Dengan hanya memenangi sembilan daripada 150 kerusi Parlimen di Belanda, sebenarnya Wilders dan kelompoknya tidak mewakili suara majoriti, tetapi kerana ia mencetuskan kontroversi, maka provokasi itu mendapat publisiti meluas.

Dua sahabat saya, Ahmad Anfasul Marom dan Ainul Yaqin, yang sedang melanjutkan pengajian program siswazah di Belanda memberitahu saya bahawa di Belanda, isu semacam ini dianggap biasa. Sebagai negara yang menganut faham kebebasan, pendapat apa pun tidak dilarang kecuali yang menggugat keabsahan Holocaust.

Seorang tokoh fundamentalis Kristian Amerika, Daniel Pipes, melihat bahawa kes ini hanya mengulang semula apa yang pernah terjadi sebelumnya, seperti kes Salman Rushdi, Ayaan Hirsi Ali dan lain-lain yang mendapatkan tentangan keras. Tentunya ini akan mencacatkan lagi hubungan Islam dan pengkritiknya yang berakhir dengan konflik terbuka.

Siapa sebenarnya Wilders? Tokoh kontroversi ini dilahirkan di bandar Limburg Venlo pada 1963, membesar dalam keluarga Katolik dan belajar di sekolah rendah Katolik. Sebagai anak pengarah syarikat pencetakan, dia memulakan kerjaya dalam bidang insurans sosial dan kesihatan.

Daripada pengetahuan dan pengalamannya mengenai dasar ekonomi dan sosial inilah, Wilders menceburi dunia politik sebagai penulis ucapan untuk Parti VVD (Volkspartij voor Vrijheid en Democratie) yang liberal dan anti pendatang asing. Dia kemudian menjadi Ahli Parlimen pada 1998, namun akhirnya orang degil itu keluar dari partinya setelah VVD menyokong kemasukan Turki ke dalam Kesatuan Eropah.

Boleh dikatakan Wilders sehaluan dengan Pim Fortuyn, tokoh politik yang membenci orang asing dan menggambarkan Islam sebagai agama yang mundur. Akhirnya, Pim dibunuh oleh seorang pencinta binatang pada 2002 dengan alasan yang sama diberikan Mohammed Boyeuri, Muslim Belanda berasal dari Maghribi yang membunuh Van Gogh, pengarah filem yang menghina Islam. Semua ini dijadikan bukti oleh Wilders untuk mengatakan Islam menghasut penganutnya melakukan keganasan.

Dalam profilnya seperti disiarkan BBC News, Wilders tidak lagi menjalankan ibadah dan pada suatu masa pernah menceritakan pada kawannya bahawa dia hanya mengetahui sedikit mengenai agama, walaupun sering bercakap mengenai warisan Judeo-Kristian Belanda. Ternyata, dia mengalami kecelaruan dalam hal emosional, mental dan intelektual.

Lebih menyedihkan, Wilders gagal memahami dengan baik konteks keganasan dalam al-Quran. Dia secara semberono memetik potongan ayat al-Quran mengenai keganasan dengan mengabaikan konteks sebenar (asbab al-nuzul). Malah, dia tidak menggunakan hermeneutik sebagai piawaian minimum cara orang Barat mentafsir al-Quran. Jelas, matlamat filem ini ialah memperoleh sokongan politik untuk partinya dan memanjakan sikap paranoianya.

Oleh itu, ketegasan Presiden Susio Bambang Yudhoyono melarang Wilders memasuki Indonesia adalah hukuman setimpal bagi mengelak tercetusnya kekacauan yang lebih buruk dilakukan sesetengah masyarakat Indonesia. Langkah tokoh agama menasihatkan umat Islam supaya tidak melakukan keganasan adalah cara terbaik menangani hasutan propaganda Islamofobia.

Apa pun, seruan supaya memboikot produk Belanda mungkin agak keterlaluan berdasarkan sikap yang diambil salah seorang pengarah Unilever Belanda, Doekle Terspstra, bahawa Wilders adalah jahat dan kejahatan itu perlu dihentikan. Bukan itu saja, Terspstra menubuhkan satu gerakan anti-Wilders dan dia pernah menyeru supaya rakyat Belanda bangkit untuk menghentikan Wilders.

Namun, persoalan yang timbul adalah tindakan Perdana Menteri Belanda, Jan Peter Balkenenende, yang meminta perwakilan dan organisasi Muslim supaya dapat memahami kedudukannya yang tidak boleh melarang rakyatnya daripada bersuara apa saja yang mereka mahu.

Apapun, jika anda berjiran dengan seseorang yang memelihara anjing yang sentiasa menyalak dan tetangganya mengemukakan protes kerana salakan itu mengganggu tidurnya, apakah sebagai seorang jiran yang baik kita akan membiarkan anjing itu terus menyalak?

Penulis sedang mengikuti pengajian ijazah Doktor Falsafah (PhD) bidang Tamadun Islam Universiti Sains Malaysia

Pak Lah Mulai Serang Mahathir


Sumber Jawa Pos Rabu, 09 Apr 2008,
Oleh Ahmad Sahidah *

Akhirnya Pak Lah -panggilan akrab Abdullah Badawi, perdana menteri ke-5 Malaysia- menunjukkan taringnya. Jika selama ini dia cenderung diam dan membiarkan orang bawahannya menjawab serangan seteru politiknya, Dr Mahathir Mohamad, sekarang berubah total. Tidak tanggung-tanggung, Mahathir disebut penyebab utama kekalahan UMNO (United Malay National Organization) pada pemilu ke-12 dan mantan orang kuat yang menyalahgunakan kekuasaan.

Hampir seluruh surat kabar utama di sana memuat foto Pak Lah di halaman depan dengan judul berbeda, tetapi memuat pesan yang sama: Pak Lah tak lagi pasif menghadapi serangan seteru politiknya, termasuk Tengku Razaleigh Hamzah, politikus gaek UMNO yang akrab disapa Ku Li, dan Anwar Ibrahim, yang digadang-gadang untuk menjadi perdana menteri.

Keretakan Elite Politik Melayu

Meskipun pemilu telah lama usai, pertengkaran di kalangan UMNO belum reda. Tentu saja tokoh utamanya adalah Mahathir, Ku Li, Mukhris Mahathir, dan Khairi Jamaluddin, menantu Pak Lah yang sering menjadi sasaran kritik karena dianggap orang kuat yang berada di belakang keputusan pemerintah. Yang lain hanya memainkan peran sebagai "pemandu sorak" atau mendukung tuannya. Mohammad Najib Tun Razak, yang nanti menggantikan Pak Lah, lebih memilih diam.

Kabar tentang post-mortem yang akan dilakukan badan independen untuk menyelidiki kekalahan UMNO sudah tidak terdengar lagi. Pihak yang berseberangan dengan Pak Lah hampir menegaskan secara kompak bahwa kekalahan UMNO disebabkan kelemahan Pak Lah. Sementara PM yang dulu digelari Mr Nice Guy dan Mr Clean itu masih merasa memikul tanggung jawab untuk menjalankan mandat sebagai orang nomor satu, meskipun tanpa dukungan 2/3 anggota parlemen.

Media cetak dan televisi memang telah berubah karena memberikan ruang yang berseteru untuk mengkritik tanpa sensor seperti sebelumnya. Meskipun mereka masih menempatkan Pak Lah sebagai pusat pemberitaan. Hampir-hampir setiap hari kita disuguhi pertengkaran para elite, yang juga dikompori politisi oposisi sehingga praktis Pak Lah dikeroyok orang Melayu sendiri dari dalam dan luar.

Dinamika yang Mengagumkan

Bagi saya, ketegasan Pak Lah meladeni bekas mentornya, Mahathir, kali ini adalah sikap jantan yang telah membuka borok masa pemerintahan Little Soekarno itu. Ketika ditanya wartawan mengenai tuduhan bahwa Pak Lah menyekat kebebasan media, justru beliau membantah bahwa sebenarnya Mahatir-lah yang melakukan itu kepada mantan PM Tun Hussein Onn dengan menelepon media untuk tidak memuat berita dan gambar PM ke-3 itu ketika mengambil alih kekuasaan dari ayah Hishamuddin Onn (Utusan, 7/4/08).

Bahkan, Pak Lah menyebut Mahathir berada di balik "Operasi Lalang" yang menahan 106 orang di bawah undang-undang antisubversi, Akta Keamanan Dalam Negeri (Internal Security Act). Dengan bahasa retorik, Pak Lah tidak menghalangi kemungkinan Mahathir diseret ke pengadilan karena menyalahgunakan kekuasaan.

Ternyata Mahathir bergeming. Dia akan terus mengkritik kepemimpinan UMNO sekarang dan membuat tamsil bahwa partai kaum Melayu itu mengidap penyakit kencing manis sehingga diperlukan pemotongan salah satu anggota tubuh. Bahkan, dia siap masuk penjara karena kritiknya.

Namun, Pak Lah masih memegang posisi kunci dalam bertarung dengan seteru politiknya. Apalagi, partai-partai di Sabah dan Sarawak menyatakan kesetiannya terhadap Barisan Nasional. Media utama masih memberikan kelebihan kepada Pak Lah dibandingkan dengan penentangnya. Mesin politiknya masih berfungsi baik dan siap mengamankan kedudukan mantan menteri luar negeri itu.

Bagaimanapun, perkelahian itu memberikan kesempatan lebih luas kepada publik untuk bersuara dan bebas menerima informasi. Apalagi, koalisi partai oposisi yang menguasai lima negara bagian sedang merencanakan membuat koran sendiri. Tampaknya, perubahan demokrasi berlangsung cepat. Meskipun sebenarnya surat kabar utama telah memberikan ruang kepada oposisi. Misalnya, News Straits Time (5/4/08) telah memuat wawancara dengan Menteri Besar (gubernur) Perak Mohammad Nizar Jamaluddin yang berasal dari Partai Islam se-Malaysia (PAS).

Tidak hanya perubahan di ranah politik elite, tetapi angin kebebasan juga berembus ke kampus tempat saya belajar. Salah seorang mantan Pembantu Rektor Dr Sharom Ahmad dalam sebuah acara seri Sejarah Lisan di Universiti Sains Malaysia (2/4/08) bahwa Mahathir telah mengkritik dirinya ketika meminta rakyat Malaysia berani bicara. Sebuah pendapat yang saya tak pernah dengar sebelum pemilu ke-12 di kampus secara terbuka.

Dengan kelugasan Pak Lah menjawab tuduhan dari dalam maupun dari luar, genderang perang mulai ditabuh. Tentu, itu akan semakin mendorong pihak-pihak yang berseteru untuk membuka "aib" yang selama ini ditutup-tutupi dan enggan dibicarakan di ruang publik dan media. Perbincangan yang hanya dilakukan secara bisik-bisik dan di dunia maya (blog) telah dipindah ke ruang terbuka, baik ceramah maupun media cetak.

Terus terang, saya merasakan perubahan drastis dan dramatis. Para dosen sudah tak enggan lagi berbicara politik secara kritis. Papan pengumuman di kampus sudah ditempeli poster Partai Mahasiswa Negara, yang dahulu diancam akan dikenakan sangsi. Akhirnya harus diakui transisi demokrasi di sana lebih mulus dibandingkan dengan negara kita sendiri, Indonesia.

Dalam gonjang-ganjing politik di negara tetangga itu, kita tidak menemukan kekerasan masal, perusakan fasilitas umum, dan tentu saja kesulitan ekonomi yang tak tertahankan sehingga ada warga negara yang bunuh diri karena lapar dan putus asa.

* Ahmad Sahidah, graduate research assistant dan kandidat doktor Ilmu Humaniora Universiti Sains, Malaysia




Menjaga Bumi

Memenuhi undangan Mas Zuhri Humaidi , saya berbagi etika lingkungan dengan mahasiswi dan mahasiswa Ma'had Aly Darullughah Wal Karomah, K...