Sunday, June 16, 2013

Danau Yang Memukau

Beberapa Minggu sebelumnya, sekumpulan pemuda menggelar pesta buku dan puisi (Peristiwa ini diabadikan dalam surat kabar Sinar Harian, 14/6/13). Kemarin, sekelompok pemuda lain menggelar musik. Danau D'Aman sememangnya tempat yang memukau.

Di sela berlari, saya sempat menikmati lagu M Nasir diperdengarkan. Setiap pemain tampak menikmati alat yang dimainkan. Penyanyi pun membawakan lagu dengan rentak-menghentak. Ada kegembiraan yang membuncah dari rona wajah mereka. Aha! seorang bayi turut menikmati keindahan ini.

Sebelumnya, kami sempat menikmati beberapa lagu. Si kecil pun menari dengan tanpa beban. Malah, ia sempat keliru menarik tangan pengunjung yang disangka sebagai bundanya. Kami pun tertawa lepas. Hakikatnya, hidup itu hanya menjalani hidup dengan riang agar tak redup. Di danau inilah, saya menyusuri lorong untuk berlari. Ibu Nabbiyya juga. Kami memeras keringat agar badan tidak penat. Tubuh itu didisiplinkan agar jiwa ini tidak terlena dalam badan yang lemah. Jiwa ini pun terbuka bagi segala kenikmatan. Musik itu hanya alat, bukan tujuan. Ia tak lebih dari bunyi. Namun dengan berirama, nada itu tidak sumbang. 

Tuesday, June 11, 2013

Bagaimana Berpikir Dengan Jernih

Di kantin, saya mencoba menyusuri buku ini. Adakah dunia pemikiran bisa ditemukan dalam dua buku ini? Kalau kita melihat penulisan kata Thinking yang terbalik dan Berfikir yang ditulis dengan 'betul', mungkin pembacaan terhadap buku ini bisa dimulai dari keanehan dan ketaatasasan ini.

Setiap orang akan berpikir dengan pelbagai cara. Tak jarang, sudut pandang kadang mempengaruhi penglihatan terhadap benda dan sesuatu. Belum lagi, mengapa saya menggarisbawahi kalimat tertentu dengan pensil dan mewarnai barisan kata dengan penerang (highlighter) di tempat yang berbeda? Adakah ini juga menentukan tingkat pentingnya satu kalimat dan ide yang lain tak begitu hebat? Bukankah sebuah wacana itu mengandaikan seluruh rangkaian kalimat?

Di luar pembacaan ini, saya hakikatnya sedang menikmati lagu-lagu yang sedang diputar di Radio Era FM. Aha, lagu Slam Tak Mungkin Berpaling menyeruak di sela-sela melamun. Dengan membaca, saya merasa bahwa pemahaman itu bisa diperoleh dalam keadaan santai, tak tegang. Mungkin, sistem pengajaran kelas yang membosankan itu perlu diganti dengan perbincangan guru dan murid di kantin sambil menikmati secawan kopi atau teh. Setuju? 

Monday, June 03, 2013

Belajar Di Manapun Anak Berada

Saya tak sempat bertanya nama belia yang dengan sabar mengajari Nabbiyya penghitungan (pengiraan).  Sebelumnya, saya dihentikan oleh pramuniaga. Dengan ramah ia pun bertanya, berapa usia dan apa susu yang diminum oleh si kecil? MamilGold, tukas saya dengan suara yang ringan.

Dengan riang, ia pun menunjukkan kandungan (ingredients) Enfagrow A+ dan kelebihannya. Ibu Nabbiyya pun mendekati kami dan menyimak taklimat. Saya pun menjauh, menyusuri anjung obral tas dan sepatu bermerek. Alamak! Bagaimana barang berjenama bisa murah?

Di sini, Nabbiyya tak hanya belajar menambah angka, yang dilambangkan dengan pelbagai ikon dan gambar buah-buahan, malah anak berusia 4 tahun ini juga mendapatkan buku 'pelekat' (sticker) secara percuma, sehingga ia bisa menempel huruf dan angka dengan riang. Belajar melalui permainan mungkin lebih cocok untuk seusianya, sebagaimana teman-temannya yang lain di Sekolah Smart Kid Reader tak jauh dari rumah. Dengan memercayai orang lain untuk mengajari anak kita, hakikatnya kita berbagi bersama dalam menanamkan pengetahuan dan kesusilaan pada generasi baru. Semoga!

Friday, May 31, 2013

Olahraga, Ekonomi dan Moralitas

Donald J Trump dan Robert T Kiyosaki memandang penting olahraga dalam membentuk kepribadian seseorang. Saya bersetuju, tetapi tidak berpandangan sama dalam kaitannya dengan pandangan ekonomi kedua jutawan ini (baca: Why We Want You To Be Rich, dalam edisi Bahasa Melayu, Selangor: PTS, 2012).

Manusia memang harus kaya. Tetapi kalau rumusannya 90% versus 10%, saya melihat ini adalah proporsi yang tidak adil. Apatah lagi, keduanya menempatkan 1% orang adikaya itu sebagai pencapaian yang perlu dirayakan. Bayangkan! Dengan kaya, kata salah satu di antara mereka, saya tak perlu antri naik pesawat. Bukankah ini menunjukkan ia enggan menjadi bagian dari 'keramaian', sementara pada waktu yang sama ia ingin selalu dipuja-puja oleh khalayak dengan seminar keuangan dan wirausaha

Kekayaan manusia harus menimbang kelestarian alam dan kesejahteraan sesama. Jika sebuah sistem mengingkari hal ini tatanan dunia akan goncang. Apalah artinya uang jika si kaya merasa senang sementara ada ratusan juta orang yang kelaparan, tak bisa mendapatkan air bersih dan sulit untuk merawat tubuhnya dari penyakit. Penumpukan kekayaan itu tak baik dan logis meskipun pemiliknya berderma atau menghamburkan sedikit uangnya untuk amal, tanggungjawab sosial perusahaan, dan bantuan-bantuan lain. Akhirnya, pandangan Gandhi mungkin perlu disimak bahwa bumi telah menyediakan cukup, tetapi tidak bagi manusia yang tamak. 

Monday, May 27, 2013

Tak ada Penggaris, Kotak CDpun Jadi

Pagi masih menyisakan kelembutan malam. Saya telah duduk di kursi kantin kampus yang riang. Lalu, saya pun membuka buku Yasraf Amir Piliang, Semiotika dan Hipersemiotika: Kode, Gaya & Matinya Makna (Bandung: Matahari, 2012). Enaknya, saya membaca buku ini dengan cara melompat-lompat, dari satu halaman ke halaman lain, dari satu bab ke bab lain tanpa harus berurutan. Saya menyebutnya gaya pembacaan mana suka.

Alamak! Penggaris untuk menandai kalimat penting tak terbawa. Mungkin alat ini tertinggal di buku Cermin Belakangnya Firdaus Abdullah. Aha! Kotak CD ini pun bisa dijadikan pengganti. Siapa bilang pembungkus ini hanya untuk mengamankan cakera padat? Ternyata pembungkus kaca ini membantu menerangkan dengan warna kuning kalimat telah mengambil alih fungsi agama dan ideologi. (hlm. 131), yang diawali dengan kalimat "Di dalam masyarakat yang mengganti kedalaman spiritual dengan kedangkalan citraan dan tontonan, sebuah pertandingan sepakbola, konser musik, rock, fashion show, televisi, menjadi bentuk ritual baru, yang dalam hal tertentu - khususnya dalam kemampuannya mengumpulkan massa - .

Lalu, kalau agama tersisihkan, adakah pengganti dangkal itu mampu mengisi batin mereka yang gerowong? Mari berhitung! Kalau kita bersungguh-sungguh menikmati citraan itu, adakah kita pernah meluangkan waktu untuk menerokai ranah spiritualitas dengan seluruh? Citraan itu jelas hanya menghadirkan absurditas, dan rumah Tuhan itu adalah tempat kita melakukan lompatan iman. Di manakah kita?


Monday, May 13, 2013

Hawking Memboikot Israel

Saya mengambil gambar Stephen Hawking dari surat kabar Republika (10 Mei 2013). Penulis A Brief History of Time telah berpikir secara benar sehingga ia bisa memihak kebenaran.

Kita tentu sejalan dengan keinginan orang di seluruh dunia agar Israel mengembalikan tanah orang Palestina yang dirampas. Kemerdekaan Tanah suci ini adalah mutlak. Hanya Setan Besar yang merasa bahwa sekutu dekatnya itu telah membela hak-haknya.

Tanpa keberpihakan yang nyata, ada banyak orang yang jahat berkuasa, bahkan atas nama agama, hak asasi, dan demokrasi. 

Saturday, May 11, 2013

Rumah Warna


Kami menikmatinya. Tata ruang toko ini tampak menyenangkan dan elegan (Maaf, saya tak sempat mengambil gambarnya). Dengan desain bagus, barang-barang yang dipajang bernilai tanpa harus bertanda 'luar'. Apa pun, kita harus memproduksi barang dengan tangan sendiri. Kalau tidak, kita hanya membeli apa saja dan menjadikan tangan ini tidak berarti.

Produksi rumah warna terbang hingga jauh. Kami berharap orang ramai lebih memilih produk sendiri, meskipun tidak sekeren VSL, Gucci, Benetton, Dolce and Gabbana dan lain-lain. Kalau kita percaya diri, orang akan menghormati kita, bukan pada apa yang  menempel pada badan ini. Dengan bangga pada merek (jenama) sendiri, kita tak mengalami keterpecahan pribadi. Lihat! tas Rumah Warna tampak gagah di bandar udara LCCT KLIA.

Terus terang, saya salut pada teman-teman yang telah merintis perniagaan dengan mengutamakan barang buatan dalam negeri. Damanhuri dan Manshuri mengajari kita bagaimana untuk kaya dengan jalan yang benar tanpa hingar-bingar seperti politikus. Mari bekerja untuk menghasilkan keperluan kita sendiri dengan penuh percaya diri. Menjadi orang dengan tempelan barang-barang orang lain adalah sebentuk penolakan terhadap eksistensi diri yang otentik. Kalau tidak percaya diri, harga diri ini akan mati secara tak tepermanai.  

Ambil Rapor

Setiap orang tua tidak hanya mengambil buku nilai anak kelas 5, tetapi juga mendengar mereka mempresentasikan proyek di depan kelas. Guru ti...