Tuesday, December 24, 2019

Pondok

Kami sering mengajak Biyya ke pondok agar si sulung ini terbiasa merasakan aroma dan suasana institusi pendidikan berkonsep asrama. Kini, kakak sepupunya, yang dulu belajar di Al-Amin, sedang menyelesaikan S1 Sumberdaya Manusia di Universitas Negeri Surabaya.

Setelah SD, kami sedang mencari pondok yang sesuai dengan minat murid Sekolah Dasar Namira ini. Dengan mempersiapkan sejak awal, kami berharap kakak Zumi ini turut menyesuaikan dengan keadaan sekolah yang menempatkan siswa di asrama.

Apapun, pendidikan itu dimulai dari kemampuan memahami kata, sebab bahasalah yang memungkinkan penuntut ilmu menyingkap dunia. Pondok tidak lagi menghabiskan waktu mempelajari ilmu alat (nahwu) yang bertele-tele. Perlahan tapi pasti, penggunaan bahasa mengandaikan praktik, bukan hanya teoretik. Santri didorong untuk menggunakan bahasa Arab dan Inggris sehari-hari, baik di penginapan maupun ruang kelas. 

Tuesday, November 12, 2019

Berbagi Izutsu dengan Mahasiswa

Sehari sebelum acara kuliah umum digelar, saya minta Ke Lesap untuk menjemput mengingat tanggal 2 November Parebaan hujan deras. Dalam hitungan detik, luluasan UIN Sunan Kalijaga tersebut memberitahu bahwa Pak Anwar akan menjemput saya ke rumah.

Di pagi hari H, Pak Anwar menelepon bahwa alumnus Al Azhar ini berada di depan Toko Hajjah Hamidah. Saya pun bergegas mengingat acara akan dimulai jam 9. Perjalanan dari Ganding ke Pangantenan sangat mengasyikkan. Kami berdua bicara banyak isu, seperti pengalaman belajar dan kegiatan di kampus. Sesampai di kampus STIU, banyak teman menyambut. Sebagian besar lulusan universitas yang berada di Kuala Lumpur. Pak Dimyati menyelesaikan S2 di Malaysi dan S3 di Turki. Ia pun bercerita tentang polemik pembaruan Islam di koran Republika, yang dipantik dari opini Fahmy.

Tak lama kemudian, kami menuju ke lokasi. Setelah acara sambutan dan kuliah, sesi tanya jawab sangat mengujakan. Salah seorang peserta menegaskan bahwa Alqur'an sakral dan universal. Mengapa pendekatan untuk memahaminya mesti dibatasi? Pertanyaan ini berasal dari penegasan Toshihiko Izutsu bahwa Kritisisme Bibel (Hermenutik) tidak bisa digunakan untuk memahami kitab Alfurqan. Saya pun menimpali bahwa kaidah apapun perlu ditimbang. Sejauh tidak menabrak prinsip-prinsip dasar kitab suci, seperti kalam ilahi, maka kajian terhadap firman Tuhan bisa dinilai dan dihargai. 

Saturday, October 19, 2019

Kapal Baterai

Dulu, saya juga bermain kapal-kapalan  yang digerakkan dengan tekanan minyak yang dibakar, bukan baterai. Kini, anak-anak tinggal membeli dan menekan tombol hidup agar mainan ini berjalan mengitari ember.

Apa lacur, tak perlu waktu lama, layar yang terbuat dari kertas basah dan koyak. Tak hanya itu, kapal ini ditekan ke dasar sehingga badannya kemasukan air. Baterai terlepas dan mogok.

Dengan obeng saya membukanya dan memasangnya kembali. Tapi, si kecil tak lagi tertarik bermain, malah pindah ke truk yang bisa dimuati pasir. Kata kunci yang sering didengar adalah saya bosan. Eh, si kecil ini sudah menjadi eksistensialis? Hehe

Wednesday, October 02, 2019

Batik

Selamat hari batik!

Saya mengambil kain ini di pagi hari bersama Zumi. Kemarin, Pak Situ, si penjahit, tak ada di rumah. Untuk ketiga kalinya, saya meminta lelaki penjual tape Bondowoso tersebut menjahit kain bermotif burung Cenderaasih yang merupakan hadiah dari kawan baik, Ismail S Wekke.

Selain itu, saya menunjukkan buku I Ngurah Suryawan, Jiwa yang Patah: Rakyat Papua, Sejarah Sunyi, dan Antropologi Reflektif, agar perayaan ini bukan sekadar soal baju, tetapi masalah pengetahuan, kemanusiaan dan kebangsaan.

Lebih jauh, simbol itu bukan sekadar tanda, tetapi juga makna. Kain itu seeloknya diproduksi oleh kita sendiri, sehingga produk massa itu bermanfaat untuk banyak orang. Pada gilirannya, kita akan memenuhai kebutuhan-kebutuhan sendiri. 

Saturday, September 14, 2019

Merawat Pengetahuan

Dalam sebuah pertemuan santri dengan para kiai, almarhum KH A Warits Ilyas menegaskan bahwa hubungan kiai-santri secara spiritual dan intelektual akan senantiasa terjaga dalam naungan ahlussunnah waljamaah.

Secara spiritual, santri tentu menautkan pada sumber dan mengalirkannnya di rumah, tempat kerja, dan bahkan di warung kopi, berupa pengajian. Di pintu masuk, kita bisa merenung perkataan "cinta kopi adalah sebagian dari iman".

Jalan tasawuf saya adalah jejak Kiai Ahmad Basyir yang menekankan salat berjamaah, membaca Alqur'an, dan salat malam. Betapaun sulit, santri tentu akan berusaha menjalaninya. Tentu, kebiasaah almarhum yang saya lakukan hingga sekarang adalah menyapu halaman dengan sapu lidi. Sejati.

Secara intelektual, kami membahas buku, termasuk Buku Yang Rapuh. Dulu, saya membahas buku Tuhan, Manusia, dan Alam di Kancakona Kopi Sumenep bersama Ra Miming, allahummaghfirlah. Di Kancakona Kopi Jember, saya tidak hanya berbagi cerita karya, tetapi juga mengenang kembali masa lalu. Dari banyak angkatan, kita bisa bertukar kisah agar hidup ini tak dirundung gundah. 

Thursday, September 12, 2019

Pulang

Ketika pergi, kami menaik dan pulang kami menikmati jalan menurun.

Musim kemarau membuat sebagian pohon meranggas. Tapi, keindahan yang lain hadir: kegersangan dalam keseronokan. Mengapa? Sudut pandang digeser, yakni jalan mulus dan pemandangan langit biru.

Demikian juga hidup. Kita hanya perlu menghadirkan alam sebagai rumah besar, dan kediaman adalah tempat tinggal yang kecil. Jika yang besar hancur, yang kecil lebur.

Dari Jember ke Paiton, kami melalui Bondowoso yang menyuguhkan banyak penglihatan. Di arak-arak, kita bisa berdiri melihat alam bebas dan merasakan betapa kita memiliki semua, yang seringkali ditinggalkan sebab kita ingin sesuatu yang lain, yang anehnya hanya ada dalam keinginan. 

Tuesday, September 03, 2019

Pijat

Untuk ketiga kalinya, saya duduk di kursi ini. F mengurut kaki dan jemari. Tak hanya telapak, jari-jari terasa sakit. Sepertinya ada pasir di situ. Saya pun bertanya pada lelaki berusia 24 tahun ini tentang titik pusat  sakit kepala. Segera ayah yang sedang menunggu kelahiran anak pertama tersebut menyebut ujung jemari.

Sambil menikmati angin siang, saya mendengar pandangannya tentang banyak hal, seperti politik dan pendidikan. Di kampungnya, Pakuniaran, Partai Nasdem menguasai lumbung suara karena faktor Pak Hasan. Ia menyelesaikan SMAnya dan memilih bekerja setelah lulus.

Setelah setengah jam kemudian, saya pun beranjak dari kursi dan merogoh dompet untuk mengambil duit sebesar Rp 20 ribu. Si ibu telah membeli kebutuhan dapur dan si kecil masih asyik dengan sepeda beroda tiga di arena permainan. Pikiran ini nyaman ketika tubuh ringan.  Demikian juga sebaliknya berlaku. Tak mudah menjaga keseimbangan. 

Ambil Rapor

Setiap orang tua tidak hanya mengambil buku nilai anak kelas 5, tetapi juga mendengar mereka mempresentasikan proyek di depan kelas. Guru ti...