Socrates mengajar kita bahwa jalan pada pengetahuan itu dengan mengajukan pertanyaan. Untuk itu, saya pernah melontarkannya di catatan blog pribadi bertarikh 12 Maret 2012. Mengapa untuk cantik perempuan harus membaca majalah Cosmopolitan? Mengapa perempuan harus cantik di luar rumah dan tidak di dalam rumah? Lalu, untuk apa kecantikan itu? Untuk keluarga atau orang lain? Mengapa perempuan yang bercadar atau berburqa tampak salah di banyak mata kaum feminis? Bukankah mereka tidak mengobral tubuhnya untuk orang ramai? Adakah kebebasan itu mendedahkan tubuh, lalu ketidakbebasaan menutup aurat?
Mari lihat sejenak gambar-gambar perempuan di majalah, baik di Malaysia maupun Indonesia! Kalau Tuhan menciptakan manusia, lalu melahirkannya ke dunia dalam keadaan tak berpakaian dan memakai alat solekan, mengapa manusia kemudian merepotkan dirinya dengan desain pakaian terbaru dan merek alat kecantikan? Adakah mereka tak lagi memercayai Tuhannya? Bukankah kecantikan yang didapatkan dari alat solekan adalah palsu dan dangkal? Bukankah perempuan terpedaya oleh iklan bahwa cantik itu bisa diperoleh dari alat solekan berjenama luar yang mahal?
Tanpa memikirkan
kembali apa itu cantik, maka keluarga kita akan tersandera oleh persepsi bahwa
kaum remaja dan ibu akan mendapatkan kehormatan dengan menumpahkan segala
bedak, gincu dan eye shadow ke mukanya. Mereka akan merasa tidak
nyaman dengan tubuhnya sendiri. Siapa pun tak bisa menahan haru ketika melihat
ibu-ibu dan kaum remaja puteri tak begitu menikmati makan siangnya di warung
karena mereka harus begitu hati-hati dengan sesuap nasi yang mungkin merusak
riasan 'wajahnya'. Lalu, cantik itu apa jika ia ternyata hanya membuat
pemiliknya tersiksa?